东京热

东京热 Official Website

Plasma Kaya Trombosit (PRP) pada Robekan Perineal Derajat Ketiga hingga Keempat

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Robekan Perineal tingkat III-IV masih merupakan komplikasi yang sering terjadi pada persalinan normal. Prevalensi cedera sfingter anus obstetri bervariasi. Penelitian oleh Kosec et al. (2019) menemukan insiden Cedera Sphincter Anal Obstetri (OASIS) dari 0,1% menjadi 10,9%. Diketahui bahwa cedera perineum derajat ketiga dan keempat lebih umum pada primipara, dan pada bayi baru lahir makrosomik, posisi dorsoposterior distosia kepala janin dan bahu. Studi lain oleh Thubert et al. (2018) menemukan bahwa prevalensi OASIS pada wanita primipar antara 1,4 hingga 16% dan pada wanita multipar antara 0,4 hingga 2,7%. Pada wanita dengan riwayat OASIS, risiko mengembangkan OASIS lebih tinggi dan bervariasi antara 5,1 hingga 10,7% setelah persalinan. Pemeriksaan mendalam untuk evaluasi persalinan atau selama persalinan juga meningkatkan risiko terjadinya pecahnya perineum derajat III-IV, dengan 5 atau lebih pemeriksaan internal selama persalinan yang sangat berkaitan dengan risiko pecah perineum derajat III-IV.

OASIS berdampak pada kualitas hidup perempuan. Inkontinensia anus adalah salah satu keluhan yang dirasakan oleh wanita dengan robekan perineum derajat III-IV. Inkontinensia alergi disebabkan oleh beberapa penyebab, dengan penyebab paling umum pada wanita OASIS. Dibandingkan dengan bahaya persalinan pertama, persalinan kedua memiliki risiko hampir tiga kali lipat lebih tinggi untuk mengalami cedera sfingter lagi. Selain itu, terdapat efek jangka panjang yang serius pada kontinensia usus akibat cedera pada 1 atau 2 sfingter. Setiap cedera sfingter, terjadi peningkatan kebocoran gas dan tinja secara tidak sengaja maupun kumulatif.

Salah satu terapi tambahan untuk derajat pecah perineum III-IV adalah PRP (platelet-rich plasma), cairan plasma yang mengandung trombosit. Dalam sebuah studi oleh Sujana et al., injeksi lokal PRP bersama dengan sfingter anal perbaikan pada trauma anus model tikus Wistar meningkatkan kadar bFGF (faktor pertumbuhan fibroblas basa) hingga 96,2% dibandingkan kelompok plasebo yang hanya melakukan langkah perbaikan tanpa PRP. Tinjauan sistematis dilakukan terhadap penggunaan PRP pada otot dasar panggul pada 600 wanita dengan berbagai kelainan otot dasar panggul yang diobati dengan PRP. PRP berdampak positif pada disfungsi seksual wanita, trauma perineum, atrofi vulvovagina, inkontinensia urin stres, fistula vesikovagina, pecahnya perineum, dan prolaps organ panggul. Di pusat kami, pembuatan PRP sendiri berharga 150.000 / ml rupiah, dengan penggunaan PRP rata-rata 5 ml. Jika PRP dapat memberikan hasil terapeutik yang lebih baik, maka PRP tentu dapat membantu mengurangi biaya pengobatan ulang, yang lebih mahal daripada injeksi PRP, jika ada efek jangka panjang dari ruptur perineum pasca perbaikan tingkat III-IV yang dapat terjadi jika penyembuhan luka tidak dilakukan dengan benar. Oleh karena itu, studi ini dilakukan dengan tujuan menganalisis efek pemberian PRP terhadap penyembuhan luka dan fungsi tonus sfingter anus pada pasien ruptur perbaikan perineum grade III-IV.

Hingga saat ini, masih terbatas penelitian yang membahas hubungan antara fungsi dan nada sfingter anal dengan penggunaan PRP pada subjek yang mengalami ruptur perineum, sehingga sulit membandingkan hasil studi ini dengan studi sebelumnya. Namun, pemberian PRP memberikan manfaat yang baik dalam pengelolaan robekan perineum, dan jika diberikan sebagai terapi tambahan pada robekan perineum, di masa depan dapat mencegah kegagalan penyembuhan luka pada pasien pasca perbaikan dan pada akhirnya mencegah biaya medis tambahan bagi pasien.

Seperti yang dibuktikan oleh hasil studi ini, tidak ada perbedaan penyembuhan luka antara terapi PRP dibandingkan dengan kontrol. Tonus sfingter anus yang lebih baik diperoleh dengan terapi PRP dibandingkan dengan kontrol. Pemberian PRP pada pasien perineum pasca-perbaikan tingkat III-IV memberikan penyembuhan luka yang sama dibandingkan pasien pasca-perbaikan tanpa PRP, tetapi memberikan tonus otot sfingter anus yang lebih baik dibandingkan pasien pasca-perbaikan tanpa PRP.

Penulis: Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, dr., Sp.OG(K).

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Kurniawati E M, Kurniaputra D Dwi, Hardianto G, Paraton H, Setyo Hadi T H, Widyasari A, Rahmawati N A. Platelet-Rich Plasma (PRP) in Third to Fourth Degree Perineal Rupture. J Obstet Gynecol Cancer Res. 2026; 11(6):511-516. doi: 10.24200/jogcr.11.6.511

AKSES CEPAT