东京热

东京热 Official Website

Faktor Risiko Inkontinensia Urin Stres pada Wanita dengan Prolaps Organ Panggul: Studi Kasus-Kontrol Retrospektif

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Inkontinensia Urin (UI), yang didefinisikan sebagai kebocoran urin secara tidak sengaja, bukanlah penyakit itu sendiri melainkan gejala kelemahan mendasar pada penyangga anatomi uretra atau sfingter uretra. Berdasarkan data dari Asia Pacific Continence Board (APCB), prevalensi UI berkisar antara 20,9% hingga 35% dari total populasi, yang lebih sering memengaruhi perempuan (15,1%) dibandingkan laki-laki (5,8%). Sebuah studi di Amerika Serikat yang melibatkan 15.003 wanita berusia di atas 20 tahun menemukan bahwa 53% mengalami UI. Di antara jumlah tersebut, 26% memiliki SUI, 10% UI urgensi, dan 16% UI campuran. Studi ini juga menyoroti bahwa SUI paling umum terjadi pada wanita berusia 40 hingga 59 tahun.

Prolaps Organ Panggul (POP) adalah turunnya organ panggul, seperti kandung kemih (sistikokel), rektum (rektokel), atau rahim dan kubah vagina. Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya otot, fasia, dan ligamen yang menopang dasar panggul. SUI dan POP sering terjadi bersama. Dilaporkan bahwa antara 37% hingga 54% wanita dengan POP juga mengalami SUI, komorbiditas yang berasal dari penyebab dasar yang sama: dukungan dasar panggul yang melemah. Banyak faktor berkontribusi pada perkembangan SUI dan POP. Usia lanjut merupakan faktor risiko yang signifikan, karena kemungkinan terkena SUI meningkat seiring bertambahnya usia. Demikian pula, Indeks Massa Tubuh (BMI) yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko SUI. Faktor lain yang berkontribusi meliputi paritas, jenis persalinan, dan riwayat keluarga inkontinensia urin.

Meskipun tidak mengancam jiwa, POP dan SUI secara signifikan memengaruhi kualitas hidup jutaan wanita dengan mengganggu aktivitas sehari-hari. SUI dapat menyebabkan isolasi sosial dan tekanan psikologis akibat rasa malu dan frustrasi. Obat ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur dan meningkatkan risiko rawat inap akibat infeksi saluran kemih yang berulang. Selain itu, UI dapat berdampak negatif pada kehidupan seksual dan hubungan pernikahan. Berbagai faktor telah diidentifikasi terkait dengan SUI dan POP, termasuk persalinan, obesitas, tingkat pendidikan, usia, riwayat histerektomi, dan status menopause. Saat ini, studi tentang UI dalam konteks POP dan faktor risiko terkait masih terbatas di Indonesia. Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk berkontribusi pada kumpulan penelitian yang sudah ada tentang SUI pada pasien dengan POP dan mengidentifikasi faktor-faktor terkait kemunculannya, yang dapat menjadi referensi berharga untuk membimbing manajemen klinis dan keputusan terapeutik.

Seperti yang dibuktikan oleh hasil studi ini, Stress Urinary Incontinence (SUI) dengan Prolaps Organ Panggul (POP) adalah yang paling umum di antara wanita berusia 41-60 tahun, diikuti oleh mereka yang berusia di atas 60 tahun. Studi ini juga menemukan proporsi menopause yang lebih tinggi dalam kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol. Sebagian besar peserta di kedua kelompok adalah multipar, dan hampir semuanya memiliki riwayat persalinan normal, dengan proporsi grande multiparity yang lebih tinggi di kelompok kasus. Indeks Massa Tubuh (BMI) juga berperan, dengan proporsi pasien dalam kelompok kasus yang memiliki BMI>30 kg/m2 yang lebih besar dibandingkan kelompok kontrol. Riwayat histerektomi lebih sering terjadi pada kelompok kasus dan riwayat keluarga inkontinensia lebih umum pada kelompok kasus tersebut. Secara keseluruhan, menopause, BMI, riwayat histerektomi, dan riwayat keluarga inkontinensia urin merupakan faktor risiko signifikan untuk SUI pada pasien POP.

Studi ini menemukan bahwa menopause, peningkatan Body Mass Index (BMI), riwayat histerektomi, dan riwayat keluarga inkontinensia urin merupakan faktor risiko independen yang signifikan untuk Stress Urinary Incontinence (SUI) pada wanita dengan Prolaps Organ Panggul (POP). Temuan studi ini menegaskan sifat multifaktorial SUI, menyoroti pengaruh gabungan faktor hormonal, metabolik, bedah, dan genetik. Secara klinis, ini menunjukkan perlunya pendekatan komprehensif dan multifaktorial untuk skrining dan pengelolaan pasien dengan POP. Dengan menilai variabel kunci ini, tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi individu berisiko tinggi lebih awal, memungkinkan intervensi yang lebih terarah untuk meningkatkan hasil pasien dan kualitas hidup.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Penulis: 

Kawuryan D Liris, Kurniawati E Mardiyan, Hardianto G. Risk Factors of Stress Urinary Incontinence in Women with Pelvic Organ Prolapse: A Retrospective Case-Control Study. J Obstet Gynecol Cancer Res. 2026;11(5):387-393. doi: 10.24200/jogcr.11.5.387

AKSES CEPAT