UNAIR NEWS 鈥 Layanan kesehatan mental di wilayah pedalaman Papua masih menghadapi banyak keterbatasan, mulai dari minimnya tenaga kesehatan jiwa hingga jarak tempuh yang jauh ke fasilitas kesehatan. Kondisi ini mendorong Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 东京热 hadir di Distrik Prafi, Papua Barat. Dengan tajuk pengabdian Pemberdayaan Pos Pelayanan Keluarga (Posyan-Ga) Mandiri Untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Psikologis Di Desa Transmigrasi Distrik Prafi, Manokwari. Tim mengusung penguatan kesehatan fisik hingga mental untuk pemberdayaan posyandu di wilayah tersebut.
Ketua Tim, Prof Endang Retno Surjaningrum, SPsi, MAppPsych PhD Psikolog menjelaskan bahwa program ini secara khusus menyasar penguatan kesehatan mental yang kurang mendapat perhatian layanan formal. 鈥淜egiatan yang saya tangani ini kita ingin melakukan pemberdayaan pos pelayanan keluarga. Sasaran utamanya sebenarnya fokusnya di kesehatan mental atau kesehatan psikologis,鈥 ujarnya.

Kesehatan Mental Masih Terpinggirkan
Dari hasil kunjungan ke puskesmas wilayah kerja, tim menemukan bahwa skrining kesehatan mental sudah dilakukan sebagai bagian dari program cek kesehatan gratis nasional. Namun, pemahaman nakes tentang kesehatan mental belum maksimal. 鈥淚nstrumen sudah tersedia dan skrining sudah dilakukan namun apa artinya dan apa langkah selanjutnya belum dipahami mendalam,鈥 jelasnya.
Roadmap Program Kerja
Prof Endang memaparkan bahwa program bermula dengan survei kualitas hidup dan kesejahteraan mental masyarakat menggunakan instrumen pengukuran psikologis. Sebelum berlanjut dengan pembentukan manajemen di sepuluh lokasi Posyan-Ga pada bulan kedua. Kemudian, tim merekrut tiga kader remaja dan dua kader dewasa di setiap lokasi untuk dilatih menggunakan sistem Training of Trainer. Materi utama kegiatan meliputi kesehatan mental remaja, kepercayaan diri, serta kesehatan mental ibu dan anak. Pelaksanaan program ini untuk memastikan keberlanjutan program setelah tim menyelesaikan program.聽
Pada bulan ketiga dan keempat, setiap Posyan-Ga akan menyelenggarakan kegiatan dengan sasaranseperti remaja, ibu, dan ibu hamil dan menyusui. Keseluruhan Posyan-Ga tetap berorientasi pada penguatan kesehatan mental dan kesehatan fisik. Tidak hanya itu, tim telah menyiapkan modul dan buku manual agar materi dapat diwariskan kepada kader generasi berikutnya dan Posyan-Ga tetap berjalan. Tim turut menggandeng tenaga kesehatan dari puskesmas serta petinggi masing-masing kampung di Distrik Prafi sebagai pembina dan pendukung program secara berkelanjutan.

Tantangan Geografis di Lapangan
Tantangan terbesar dari Tim Ekspedisi Patriot ini adalah kondisi geografis Distrik Prafi. Beberapa kampung berada di daerah pegunungan dan memiliki jumlah penduduk yang sedikit sehingga muncul rencana penggabungan Posyan-Ga dengan kampung di sekitar agar kegiatan tetap berjalan aktif. Namun, lokasi yang berjauhan membuat rencana penggabungan tidak memungkinkan sehingga tim tetap memilih pemberdayaan secara mandiri.
Selain geografis, penerimaan masyarakat terhadap konsep kesehatan mental masih menjadi perhatian karena topik tersebut masih relatif baru bagi sebagian warga lokal. Tim melakukan pendekatan bahasa sederhana dalam menyampaikan materi. Melalui kolaborasi bersama puskesma, kepala kampung, dan karang taruna, tim berharap kesehatan mental dapat menjadi bagian tak terpisahkan dari layanan Posyan-Ga mandiri dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Penulis: Yongki Eka Cahya
Editor: Ragil Kukuh Imanto





