Dibalik aliran jernih dan jeram Sub-Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) Rongkong di Sulawesi Selatan, tersimpan dinamika kehidupan biota air tawar yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Udang air tawar dari genus Macrobrachium tidak hanya menjadi komoditas ekonomi dan sumber protein penting bagi masyarakat lokal, tetapi juga berperan vital sebagai indikator biologis alami untuk mengukur kesehatan ekosistem perairan. Penelitian komprehensif yang dilakukan oleh gabungan peneliti dari berbagai lembaga seperti Universitas Andi Djemma, BRIN, ¶«¾©ÈÈ, dan UIN Raden Fatah mengungkap bagaimana ketersediaan udang ini dipengaruhi secara signifikan oleh parameter fisika-kimia air sungai serta pergantian musim sepanjang tahun.
Menggunakan kombinasi metode identifikasi morfologi dan pendekatan taksonomi molekuler berbasis DNA barcoding, para peneliti berhasil mengidentifikasi empat spesies utama udang Macrobrachium yang mendiami wilayah sungai ini, yaitu M. mammillodactylus, M. esculentum, M. latidactylus, dan M. idae. Dari keempat spesies tersebut, Macrobrachium mammillodactylus mencatatkan dominasi yang sangat mencolok dengan menyumbang sekitar 64,58% hingga 67,99% dari total populasi udang yang tertangkap selama satu tahun penuh pengamatan. Dominasi yang konsisten ini menandakan bahwa spesies ini memiliki tingkat adaptabilitas ekologis yang sangat tinggi dibanding kerabatnya, sehingga mampu bertahan hidup di berbagai kondisi sungai baik di bagian hulu maupun hilir.
Keberadaan dan kelimpahan udang air tawar di Sub-DAS Rongkong dipicu oleh interaksi kompleks dari berbagai parameter kualitas air sungai. Melalui analisis statistik regresi dan Canonical Correspondence Analysis (CCA), terungkap bahwa faktor-faktor seperti kadar Oksigen Terlarut (DO), derajat keasaman (pH), suhu air, kejernihan atau transparansi air, serta konsentrasi mineral seperti Kalium (K) dan Ammonia (NH₃) menjadi pengendali utama distribusi udang. Sebagai contoh, M. mammillodactylus mampu bertahan pada kisaran pH 6,09–7,02 dan kadar DO 4,39–5,75 mg/L, sementara spesies lain memiliki batasan toleransi yang jauh lebih spesifik terhadap kondisi lingkungan fisika-kimia perairan.
Perubahan musim sepanjang tahun turut membentuk pola dinamika populasi udang secara nyata melalui fluktuasi debit air dan tingkat kekeruhan sungai. Pada Musim Angin Barat yang identik dengan musim hujan, peningkatan curah hujan memicu erosi alami dan peningkatan konsentrasi mineral Kalium (K) di perairan yang mendorong lonjakan populasi Macrobrachium idae. Sebaliknya, pada Musim Angin Timur atau musim kemarau saat tingkat kejernihan air menurun, populasi M. latidactylus justru mengalami peningkatan. Sementara itu, spesies M. esculentum menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat dengan tingkat transparansi air () dan mencapai puncak kelimpahannya pada musim peralihan atau transisi saat air sungai jernih dan tenang.
Temuan ilmiah ini memberikan gambaran jelas bahwa kelestarian udang air tawar di Sub-DAS Rongkong sangat bergantung pada terjaganya kualitas lingkungan sungai dari ancaman pencemaran dan sedimentasi. Aktivitas manusia di kawasan hulu seperti deforestasi, pembukaan lahan pertanian, dan pembuangan limbah domestik berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut serta meningkatkan kadar ammonia (NH₃) yang beracun bagi udang. Mengingat sebagian besar udang genus Macrobrachium memiliki pola hidup siklis yang bergantung pada kualitas aliran sungai untuk bermigrasi dan berkembang biak, perubahan kualitas air yang drastis dapat mengganggu siklus reproduksi serta mengancam keberlanjutan populasi mereka di alam bebas.
Secara keseluruhan, riset ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati sungai di Indonesia. Langkah-langkah konservasi nyata, seperti perlindungan daerah aliran sungai (DAS), penataan vegetasi riparian di sepanjang tepi sungai, dan pencegahan pencemaran kimiawi, sangat diperlukan untuk menjaga kualitas air Sub-DAS Rongkong. Dengan menjaga kelestarian kualitas air dan ekosistem sungai secara terpadu, kita tidak hanya melindungi keberadaan populasi udang Macrobrachium sebagai kekayaan hayati Nusantara, tetapi juga menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya dari hasil perairan alami tersebut.
Penulis: Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., Ph.D.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





