东京热

东京热 Official Website

Ubah Limbah Sawit jadi Pakan, Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Dorong Peternak Prafi Lebih Berdaya

Tim Ekspedisi Patriot saat melakukan peninjauan awal di salah satu peternakan di Distrik Prafi, Manokwari, Papua Barat (Foto: Narasumber)

UNAIR NEWS 鈥 Hamparan perkebunan sawit di Papua yang turut mendukung swasembada energi menghasilkan potensi limbah berupa pelepah sawit. Di tangan peternak, limbah tersebut dapat menemukan manfaat baru. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 东京热 (UNAIR) melalui program Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya mendorong pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan alternatif sekaligus memperkuat kesehatan dan reproduksi sapi di Distrik Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Ketua Tim, Prof Dr Erma Safitri drh MSi, menjelaskan bahwa program tersebut menyasar lebih dari 50 peternak dengan cakupan sekitar 1.000 ekor sapi, dengan fokus pada peternak potensial. 鈥淪elain pemanfaatan pakan alternatif, program ini menjawab kebutuhan peternak dalam memantau kesehatan, reproduksi, bobot, dan kondisi ternak secara lebih teratur,鈥 ujarnya.

Prof Erma menjelaskan, salah satu inovasi utama program ialah SILPA-SAPI, pengolahan pelepah sawit menjadi silase sebagai pakan alternatif bagi sapi. Tim mengolah pelepah melalui tahapan pengumpulan, pencacahan, penambahan aditif atau probiotik, hingga fermentasi secara anaerob selama 2 – 4 minggu. Proses tersebut menghasilkan pakan awetan yang lebih mudah dicerna serta membantu menurunkan kadar serat kasar dan melunakkan teksturnya.

Prof Erma bersama anggota Tim Ekspedisi Patriot berdialog bersama peternak dalam persiapan program pemberdayaan (Foto: Narasumber)

Pemanfaatan pelepah sawit tidak semata-mata menyediakan alternatif pakan bagi peternak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Selain memenuhi kebutuhan pakan ternak sendiri, peternak juga dapat mengolah dan menjual silase tersebut untuk memperoleh nilai tambah. 鈥淜onsep ini sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah perkebunan menjadi sumber daya produktif,鈥 jelas Prof Erma.

Program ini juga menghadirkan Posyandu Ternak Keliling yang mendatangi lokasi peternak. Layanan tersebut mencakup pendampingan kesehatan dan reproduksi sapi, pakan, sanitasi kandang, pengobatan, hingga pencatatan kondisi ternak. Tim turut melatih kader ternak lokal agar masyarakat dapat melanjutkan pendampingan setelah masa program berakhir.

Setiap sapi sasaran juga memperoleh kartu recording yang memuat identitas, kondisi kesehatan, bobot, Body Condition Score (BCS), kondisi reproduksi, pengobatan, dan pakan. Pencatatan ini membantu peternak memantau perkembangan sapi serta mengenali gangguan kesehatan dan reproduksi lebih awal. 鈥淭im menargetkan bobot sapi tetap sesuai standar dan produktivitas reproduksi meningkat hingga mencapai target beranak satu kali dalam setahun,鈥 jelasnya.

Pelaksanaan program melibatkan kelompok peternak, kader lokal, serta BUMDes atau koperasi untuk mendukung produksi dan distribusi SILPA-SAPI. Koordinasi antara pemerintah, perusahaan inti, dan petani plasma juga menjadi bagian dari upaya membangun kemitraan yang berkelanjutan.

Melalui program tersebut, tim menargetkan peningkatan kapasitas peternak, pemanfaatan limbah sawit sebagai pakan, serta pengelolaan ternak berbasis data. 鈥淒alam jangka panjang, sistem yang terbentuk harapannya mampu berjalan secara mandiri, direplikasi, dan memberi manfaat ekonomi bagi peternak,鈥 pungkasnya.

Program ini turut mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan).

Penulis: Maia Chaerunnisa

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT