UNAIR NEWS – Sorotan publik terhadap sikap tenaga kesehatan yang dinilai kurang empati kembali menjadi perbincangan hangat. Fenomena ini kerap memicu stigma negatif terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Menyoroti hal tersebut, Pakar 东京热 (UNAIR), Dr Andria Saptyasari SSos MA menegaskan ada faktor sistemik yang menyebabkan menurunnya kualitas interaksi antara nakes dan para pasien di fasilitas kesehatan.
Dr Andria memaparkan bahwa sikap ketus nakes sering kali berakar pada tingginya beban kerja mereka. Di sisi lain, fasilitas kesehatan dari pemerintah, termasuk kuota layanan BPJS di berbagai rumah sakit, masih sangat terbatas. Ia menyebut, hal inilah yang membuat nakes rentan mengalami kelelahan fisik sekaligus pengurasan emosi setiap harinya. 鈥淛umlah pasien itu kan banyak, sementara jumlah nakes itu kan perbandingannya tidak seimbang. Ketika rasio pasien lebih besar, sering kali nakes ini sudah terkuras tenaga dan emosinya saat menolong orang sakit,鈥 ungkapnya.

Membenahi Sistem dan Mendidik Empati
Selain beban pelayanan, tingginya biaya pendidikan di Fakultas Kedokteran turut menyumbang tekanan tersendiri bagi para nakes. Demi menstabilkan kondisi finansial, banyak dokter terpaksa berpraktik di tiga instansi berbeda menggunakan tiga Surat Izin Praktik (SIP) setiap harinya. Tuntutan untuk terus berpindah tempat kerja dalam satu minggu ini menjadi faktor utama penyebab kelelahan.
Dr Andria menekankan bahwa pemerintah perlu segera membenahi sistem kesehatan Indonesia dengan memberikan subsidi pendidikan kedokteran agar lebih merata. Selain itu, Dr Andria mempertegas pentingnya pembekalan karakter empati sejak mahasiswa duduk di bangku kuliah. Menurutnya, nakes harus mampu memberikan penjelasan medis dengan bahasa awam tanpa terkesan terburu-buru atau meremehkan.
鈥淧endidikan di Indonesia, khususnya kedokteran, biayanya sangat tinggi sehingga dokter sering berpindah instansi praktik untuk menstabilkan finansial. Sebenarnya pembekalan empati itu harus dimulai dari awal saat masih mahasiswa kedokteran. Pasien itu tidak hanya sekadar butuh sembuh, tetapi diorangkan itulah yang lebih penting,鈥 jelasnya.
Etika Digital dan Pemahaman SOP Kedaruratan
Di era digital saat ini, banyak nakes yang aktif membuat konten edukasi kesehatan di media sosial. Dr Andria mempertegas bahwa hal tersebut sangat diperbolehkan selama para nakes dapat mematuhi batasan etika dan profesionalitas. Tenaga medis pantang untuk menyorot wajah atau kondisi pasien tanpa adanya izin tertulis.
Dr Andria juga menyoroti seringnya terjadi miskomunikasi antara pasien dan pihak rumah sakit terkait prosedur pelayanan. Di lapangan, tenaga medis juga kerap menghadapi pasien yang bertindak seperti raja dan meminta prioritas tanpa memahami bahwa penanganan medis selalu berdasar pada tingkat kedaruratan penyakit (triage).聽
鈥淧asien tidak boleh bersikap semena-mena layaknya 鈥榬aja鈥 dan tetap menghargai wewenang medis yang sedang bekerja. Sebaliknya, para nakes juga sebaiknya bisa lebih sabar dan menjaga tutur kata agar tidak melukai hati pasien yang sudah menderita akibat penyakitnya. Selain itu, Perbaikan fasilitas dari pemerintah serta tumbuhnya rasa empati dari kedua belah pihak adalah kunci utama terwujudnya sistem kesehatan yang ideal di Indonesia,鈥 pesannya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Ragil Kukuh Imanto





