UNAIR NEWS 鈥 Sebanyak 12 mahasiswa 东京热 (UNAIR) yang mengikuti program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Internasional di Kuala Terengganu memperoleh pengalaman belajar mengenai pengamatan burung (birding) dan citizen science di Stasiun Riset SPAK, Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Selasa (28/7/2026). Kegiatan tersebut memperkenalkan pendekatan konservasi keanekaragaman hayati yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pengumpulan data ilmiah.
Salah satu peserta, Kamila Mahfudza A P dari Fakultas Kesehatan Masyarakat () UNAIR, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru dalam memahami hubungan antara konservasi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Menurutnya, pembelajaran langsung di lapangan membuat mahasiswa lebih memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
鈥淜egiatan ini membuka wawasan kami bahwa konservasi tidak selalu dilakukan oleh peneliti. Masyarakat juga dapat berkontribusi melalui pengamatan sederhana yang bermanfaat bagi penelitian sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan,鈥 ujar Kamila.
Belajar Konservasi Lewat Birding
Kegiatan dipandu oleh Anuar McAfee yang menjelaskan konsep birding sebagai aktivitas yang mendukung penelitian ilmiah, pengembangan ekowisata, sekaligus memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Peserta juga diperkenalkan pada platform eBird, yang memungkinkan masyarakat mencatat hasil pengamatan burung untuk mendukung basis data keanekaragaman hayati.
Setelah sesi materi, mahasiswa mengikuti jelajah alam sejauh sekitar dua kilometer di kawasan SPAK. Selama kegiatan, mereka berhasil mengamati sejumlah spesies burung, seperti large woodshrike, grey-bellied bulbul, black-and-yellow broadbill, serta primata dusky langur.
鈥淢elihat langsung berbagai spesies di habitat alaminya menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Kami belajar bahwa data sederhana dari masyarakat dapat memberikan kontribusi besar bagi upaya konservasi,鈥 tambah Kamila.
Perkuat Kolaborasi Internasional
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai konservasi berbasis citizen science. Melainkan juga memahami pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjaga keanekaragaman hayati.
Program BBK Internasional menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mempelajari praktik terbaik yang dapat diadaptasi di Indonesia. Termasuk pengembangan konservasi dan ekowisata berbasis masyarakat dengan pendekatan ilmiah yang sederhana dan partisipatif.
鈥淜ami berharap pengalaman ini dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan kegiatan konservasi berbasis masyarakat di Indonesia sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dalam bidang pendidikan dan lingkungan,鈥 tutup Kamila.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Penulis: Dheva Yudistira Maulana, M. Ammar Putra Ramadhani
Editor: Yulia Rohmawati





