东京热

东京热 Official Website

Karier Penyandang Disabilitas: Hambatan Terbesar Justru Berasal dari Organisasi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Semakin banyak negara mendorong partisipasi penyandang disabilitas di dunia kerja melalui kebijakan kuota dan regulasi ketenagakerjaan. Hasilnya mulai terlihat. Sekitar 25% responden dalam survei Boston Consulting Group terhadap hampir 28.000 pekerja di 16 negara melaporkan memiliki kondisi kesehatan yang membatasi aktivitas utama kehidupan. Di Inggris, tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas telah mencapai sekitar 53%. Namun, memperoleh pekerjaan bukan berarti memperoleh kesempatan berkembang dalam karier.

Sebuah scoping review yang menganalisis 10 penelitian dari berbagai negara memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pengembangan karier pekerja penyandang disabilitas. Kajian ini menemukan bahwa keberhasilan karier ditentukan oleh empat kelompok faktor yang saling berinteraksi, yaitu faktor individual, kelompok atau lingkungan sosial, organisasi, dan keluarga.

Pada tingkat individu, kemampuan mengelola karier (career self-management), kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta pengalaman kerja sebelumnya menjadi modal penting untuk berkembang. Sebaliknya, keterbatasan kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan, dan hambatan fungsi kognitif dapat memperlambat perkembangan karier apabila tidak diimbangi dukungan lingkungan kerja. Lingkungan sosial juga memainkan peran besar. Dukungan dari mentor, rekan kerja, jaringan penyandang disabilitas, serta keberadaan role model meningkatkan rasa percaya diri dan membuka akses terhadap peluang karier. Sebaliknya, stigma, rendahnya harapan atasan, diskriminasi terselubung, dan minimnya pemahaman pimpinan mengenai disabilitas menjadi penghambat yang terus ditemukan dalam berbagai penelitian.

Namun, temuan paling penting berasal dari tingkat organisasi. Hambatan terbesar bukan terletak pada kondisi individu, melainkan pada sistem organisasi yang belum sepenuhnya inklusif. Lingkungan kerja yang tidak ramah disabilitas, kesempatan promosi yang terbatas, desain pekerjaan yang tidak mempertimbangkan kebutuhan pekerja disabilitas, kurangnya akomodasi yang layak, serta minimnya akses terhadap pelatihan merupakan penghalang utama pengembangan karier. Sebaliknya, organisasi yang menyediakan akomodasi yang memadai, komunikasi yang menghargai martabat pekerja, pelatihan, serta jalur karier yang jelas mampu meningkatkan peluang berkembang secara signifikan.

Kajian ini juga menemukan satu faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu keluarga. Dukungan keluarga melalui advokasi, dorongan moral, dan ekspektasi positif membantu penyandang disabilitas mempertahankan motivasi dan membangun kepercayaan diri dalam mengembangkan karier. Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa pengembangan karier penyandang disabilitas tidak dapat dipahami sebagai persoalan kemampuan individu semata. Hambatan karier lebih banyak berasal dari struktur organisasi, budaya kerja, dan sistem yang belum inklusif. Oleh karena itu, strategi pengembangan karier perlu bergeser dari pendekatan yang hanya meningkatkan kapasitas individu menuju transformasi organisasi yang menyediakan kepemimpinan inklusif, akomodasi yang layak, jalur karier yang transparan, dan kesempatan berkembang yang setara bagi seluruh pekerja.

Prof. Dr. Seger Handoyo

Barriers and Facilitators of Career Development among Employees

with Disabilities: A Global Scoping Review.

AKSES CEPAT