UNAIR NEWS – Komitmen terhadap pendidikan yang inklusif menjadi salah satu pengalaman penting delegasi Fakultas Kesehatan Masyarakat () 东京热 (UNAIR) selama mengikuti rangkaian kegiatan akademik di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Malaysia. Setelah mengikuti International Collaborative Workshop on Innovative Delivery & Learning pada 11鈥12 Agustus 2026. Delegasi UNAIR melanjutkan kegiatan pada Kamis (13/8/2026) melalui Disability Management Trained Person (DMTP) Training di UiTM.
Delegasi UNAIR terdiri atas tiga dosen, yakni Prof Ira Nurmala SKM MPH PhD, Prof Dr Lutfi Agus Salim SKM MSi, dan Dr Muthmainnah SKM MKes. Ikut serta empat mahasiswa, yaitu Eunike Merry Crismatea, Dina Kinanti Dewi, Siti Mudmainah, dan Fania Ayu Harsanti. Keikutsertaan mereka dalam pelatihan DMTP juga mendapat persetujuan resmi dari UiTM.
鈥淵ang menarik dari kegiatan ini adalah kami tidak hanya mendapatkan teori. Kami melihat langsung bagaimana prosedur dan sistem pendampingan dijalankan di UiTM. Termasuk bagaimana sivitas akademika dengan disabilitas tetap dapat menjalankan tugas akademik dan pekerjaannya,鈥 ujar Prof Ira Nurmala dalam refleksi kegiatan.
Pelajari Inklusivitas di Kampus
Bagi Prof Ira, praktik yang diperlihatkan UiTM menjadi pembelajaran penting bagi UNAIR. 鈥淜ita belajar bahwa inklusivitas harus hadir dalam sistem, bukan hanya dalam wacana. Ketika kampus menyediakan dukungan, akomodasi yang layak, dan lingkungan yang ramah, mahasiswa maupun dosen dengan disabilitas dapat terus berkembang dan menghasilkan karya,鈥 katanya.
Pelatihan ini memberikan pengalaman berbeda karena peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai disabilitas, tetapi juga diajak melihat langsung bagaimana perguruan tinggi membangun lingkungan akademik yang inklusif. Narasumber sekaligus Direktur UiTM Disability Services and Development Division (U-DServeD), Associate Professor Ts. Dr Roslinda Alias CDMP, membagikan pengalaman UiTM dalam mendampingi sivitas akademika penyandang disabilitas.
Delegasi UNAIR diperkenalkan pada berbagai SOP UiTM dalam pengelolaan dan pendampingan sivitas akademika penyandang disabilitas. Peserta juga melihat bagaimana mahasiswa dan dosen dengan disabilitas tetap dapat menjalankan aktivitas akademik dan profesionalnya. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa dukungan yang tepat tidak dimaksudkan untuk membatasi, melainkan memastikan setiap individu dapat berkontribusi secara optimal.
Pengalaman semakin berkesan ketika delegasi UNAIR diajak makan bersama di sebuah restoran yang juga melibatkan pekerja penyandang disabilitas. Delegasi mendapatkan gambaran bahwa pemberdayaan tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat berlanjut hingga dunia kerja dan kehidupan sosial.
Perkuat Pemahaman
Sementara itu, pihak UiTM menyambut baik kehadiran delegasi UNAIR. Dr Roslinda Alias menilai pertukaran pengalaman seperti ini penting untuk memperkuat pemahaman dan kerja sama antarperguruan tinggi dalam membangun pendidikan yang tidak meninggalkan siapa pun.
鈥淜olaborasi seperti ini penting karena kita dapat saling belajar. Setiap institusi memiliki pengalaman dan praktik yang dapat dibagikan. Harapannya, hubungan UiTM dan UNAIR dapat terus berkembang melalui pertukaran pengetahuan, penelitian, dan program akademik bersama,鈥 kata Dr Roslinda Alias. Semangat tersebut sejalan dengan komitmen U-DServeD UiTM untuk memastikan penyandang disabilitas memperoleh dukungan dan kesempatan untuk berkembang di lingkungan universitas.
Rangkaian kegiatan 11鈥12 Agustus sebelumnya juga telah mempertemukan sivitas akademika kedua universitas melalui sesi pengenalan 360-degree video, hands-on workshop, virtual and immersive learning, berbagi praktik inovasi pembelajaran digital, hingga diskusi strategis mengenai penelitian, publikasi, dan mobilitas akademik.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat kontribusi UNAIR dan UiTM terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pendidikan yang inklusif dan setara; SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pemberdayaan serta kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas; dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, dengan memastikan tidak ada sivitas akademika yang tertinggal karena kondisi disabilitas. Semangat tersebut juga selaras dengan pesan UiTM, 鈥淣o One Left Behind in the 2030 Development Agenda.鈥
Bagi mahasiswa yang mengikuti langsung rangkaian kegiatan tersebut, kunjungan ke UiTM menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang menciptakan ruang yang memungkinkan setiap orang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan tumbuh tanpa terkecuali.
Penulis: Bian Shabri Putri Irwanto
Editor: Yulia Rohmawati





