¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Terapi Berbasis Jalur PPAR Sentral untuk Remediasi Neuropati Perifer

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tercatat sekitar 30% pasien usia lanjut mengalami masalah gangguan neurologis, salah satunya neuropati perifer. Salah satu penyebab terjadinya masalah ini adalah efek samping akibat kemoterapi. Chemotherapy-induced peripheral neuropathy (CIPN) dikenal sebagai salah satu gangguan kesehatan yang ditandai dengan kerusakan neuron perifer akibat efek samping kemoterapi, terutama agen kemoterapi berbasis platinum (ciplatin, carboplatin, dan oxaliplatin). Tercatat 73% pasien mengalami kondisi ini yang ditandai dengan nyeri, mati rasa, kesemutan, alodinia, hiperalgesia, dan disfungsi motorik.

Terjadinya CIPN akibat pemberian kemoterapi terjadi karena disfungsi dorsal root ganglia (DRG), yang bertanggung jawab atas input sensorik dan transmisi sinyal nyeri dari perifer ke sentral, atau sistem saraf pusat (SSP). Selain itu, studi terbaru menunjukkan bahwa terdapat area sentral lain yang juga terlibat dalam perkembangan dan persistensi nyeri neuropatik yaitu anterior cingulate cortex (ACC). ACC bertanggung jawab atas aspek afektif-emosional persepsi nyeri dan menjadi sangat aktif ketika menerima rangsangan nyeri. Mekanisme utama yang mendasari kondisi ini umumnya adalah adanya peradangan dan meningkatnya stres oksidatif pada sistem saraf. Pada kondisi model spared nerve injury (SNI) atau cedera saraf, aktivitas sel mikroglia dan peningkatan ekspresi sitokin pro-inflamasi (IL-6, TNF-α) di ACC menyebabkan gangguan keseimbangan protein pro-apoptosis dan anti-apoptosis yang memicu kematian yang terprogram atau apoptosis dari sel saraf. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah sel saraf di ACC yang ditandai dengan meningkatnya caspase-3. Caspase 3 merupakan protein yang berperan dalam proses kematian sel di area ACC. Namun, dalam konteks CIPN untuk area ACC, mekanisme neuroinflamasi dan apoptosis neuron sebagian besar masih belum dieksplorasi.

Seperti halnya penelitian oleh Ardianto dkk., 2026 yang mengelaborasi peranan protein PPAR pada fase neuroinflamasi serta apoptosis di area otak ACC akibat CIPN, menunjukkan bahwa agonis PPAR dapat mengurangi nyeri neuropatik yang diinduksi kemoterapi seperti mencegah progresifitas perkembangan alodinia dan hiperalgesia pada penggunaan sepanjang induksi kerusakan neuropati perifer. Peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR) merupakan faktor transkripsi yang mengatur reseptor inflamasi dengan menghambat kinerja faktor transkripsi proinflamasi seperti NF-κB, ATF1, ATF4, dan STAT. Inhibisi jalur tersebut menyebabkan penurunan produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6 serta mengurangi aktivasi mikroglia. Fenofibrat, obat agonis dari PPARα, merupakan salah satu obat antidislipidemia yang telah dirilis ke pasar sejak 30 tahun yang lalu dengan aktivitas farmakologis untuk menurunkan kadar trigliserida darah. Adapun pioglitazone, obat agonis PPARγ, juga merupakan salah satu obat antidiabetes yang digunakan sejak lebih dari 25 tahun yang lalu. Di sisi lain, kedua obat ini menunjukkan performa dalam mengurangi progresifitas alodinia dan hiperalgesia pada model tikus neuropati perifer. Kedua obat mampu menekan neuroinflamasi dan menjaga integritas mitokondria neuron perifer sekaligus mendorong proses perbaikan sinyal nyeri akibat neuropati perifer pada area otak ACC. Ke depan, dengan mentarget beberapa mekanisme yang menimbulkan perubahan sensitifitas syaraf pada rangsang nyeri, kita dapat memimpikan solusi terintegrasi dalam menangani atau mencegah perkembangan nyeri neuropati perifer khususnya pada kasus CIPN.

Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, Ph.D.

Berdasarkan publikasi Ardianto et al. (2026) pada Pharmacia 73: halaman 1–8

Link:

AKSES CEPAT