Penyakit African horse sickness atau AHS kembali menjadi perhatian dunia setelah sebuah studi internasional terbaru mengungkap bahwa penyakit ini masih sangat luas penyebarannya di berbagai negara. Penelitian yang menganalisis data selama hampir lima dekade itu menemukan bahwa sekitar separuh populasi kuda dan hewan sejenis di wilayah terdampak pernah terinfeksi atau terpapar virus AHS.
AHS merupakan penyakit virus yang menyerang hewan Equidae, seperti kuda, keledai, bagal, dan zebra. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides. Meski ukurannya sangat kecil, serangga tersebut mampu menyebarkan virus dengan cepat, terutama di daerah beriklim hangat dan lembap. Penyakit ini dikenal sangat mematikan, khususnya pada kuda. Tingkat kematian dapat mencapai lebih dari 90 persen pada hewan yang rentan. Gejala yang muncul meliputi demam tinggi, gangguan pernapasan, pembengkakan di kepala dan leher, hingga kematian mendadak akibat kerusakan paru-paru dan jantung.
Meta-analisis terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari 东京热 mengkaji 25 studi yang dipublikasikan antara tahun 1978 hingga 2025. Studi tersebut mencakup ribuan sampel hewan dari berbagai negara di Afrika dan Asia. Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi global AHS mencapai 50,34 persen. Angka ini menandakan bahwa penyakit tersebut masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan hewan dan industri peternakan kuda dunia. Afrika Sub-Sahara menjadi wilayah dengan tingkat penyebaran tertinggi. Negara-negara seperti Nigeria, Namibia, Kamerun, Sudan, Ethiopia, dan Gambia mencatat prevalensi yang sangat tinggi. Di beberapa lokasi, hampir seluruh hewan yang diperiksa menunjukkan tanda pernah terpapar virus AHS. Sebaliknya, negara-negara Asia seperti China dan Arab Saudi melaporkan prevalensi yang sangat rendah bahkan mendekati nol. Kondisi ini diduga berkaitan dengan pengawasan penyakit yang lebih ketat, pengendalian lalu lintas hewan, serta belum terbentuknya lingkungan ideal bagi serangga penular.
Penelitian juga menemukan bahwa keledai memiliki tingkat paparan lebih tinggi dibandingkan kuda. Para peneliti menduga hal ini terjadi karena keledai sering mengalami infeksi tanpa gejala sehingga dapat menjadi 鈥減enyimpan鈥 virus di lingkungan. Akibatnya, virus tetap beredar dan berpotensi menginfeksi kuda yang lebih rentan mengalami kematian. Selain jenis hewan, faktor umur juga berpengaruh. Hewan berusia 8 hingga 14 tahun memiliki tingkat infeksi tertinggi. Kondisi ini kemungkinan terjadi karena hewan dewasa lebih sering digunakan untuk transportasi atau pekerjaan lapangan sehingga lebih banyak terpapar gigitan serangga pembawa virus.
Perbedaan iklim dan musim turut memengaruhi penyebaran penyakit. Musim hujan dan musim panas menjadi periode paling berisiko karena populasi serangga meningkat tajam. Lingkungan yang lembap mendukung perkembangan larva Culicoides sehingga penularan virus berlangsung lebih cepat. Meski berbagai negara telah menjalankan vaksinasi dan pengendalian serangga, penelitian ini menunjukkan bahwa penyebaran AHS belum mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Analisis tren menunjukkan virus tetap bertahan dan terus beredar dari waktu ke waktu. Para peneliti menilai perubahan iklim global dapat memperluas wilayah penyebaran penyakit ini. Peningkatan suhu dan perubahan pola hujan memungkinkan serangga pembawa virus hidup di daerah baru yang sebelumnya bebas AHS. Kondisi ini meningkatkan risiko munculnya wabah di luar Afrika.
Dampak ekonomi dari penyakit ini juga sangat besar. Wabah AHS dapat menyebabkan pembatasan perdagangan internasional kuda, penutupan kompetisi olahraga berkuda, hingga kerugian besar bagi peternak dan industri pariwisata berbasis kuda. Untuk mengurangi ancaman tersebut, para peneliti menekankan pentingnya pengawasan penyakit secara rutin, vaksinasi yang tepat sasaran, serta pengendalian serangga di lingkungan peternakan. Kandang tertutup, penggunaan insektisida, dan pembatasan pergerakan hewan saat wabah menjadi langkah penting untuk menekan penularan. Penelitian ini juga menyoroti perlunya kerja sama internasional dalam memantau penyebaran AHS. Dengan meningkatnya mobilitas hewan dan perubahan iklim, penyakit yang dahulu dianggap terbatas di Afrika kini berpotensi menjadi ancaman global bagi industri kuda dunia.
Penulis: Muhammad Thohawi Elziyad Purnama
Sumber: Purnama, M. T. E., Firdausy, L. W., Fikri, F., Wicaksono, A. P., Maslamama, S. T., & Wardhani, L. D. K. (2026). Global prevalence and epidemiological determinants of African horse sickness: A systematic review and meta-analysis. The Veterinary Journal, 317, 106698.
Link:





