
Plasenta akreta spektrum (PAS) menjadi salah satu tantangan terbesar dalam operasi obstetri karena membutuhkan pemahaman rinci mengenai anatomi rahim, pembuluh darah, dan area sekitarnya untuk mencegah perdarahan berat serta komplikasi operasi. Namun, tidak semua rumah sakit memiliki pengalaman menangani kasus PAS dalam jumlah tinggi, sehingga diperlukan kerangka klasifikasi topografi rahim yang lebih sederhana dan praktis untuk membantu dokter menentukan strategi operasi yang aman dan tepat bagi setiap pasien.
Pada kasus plasenta akreta, plasenta previa, maupun penipisan dinding rahim bekas operasi sesar, risiko perdarahan hebat saat persalinan menjadi jauh lebih tinggi. Kondisi ini sering kali sulit dibedakan melalui pemeriksaan biasa, sehingga dokter membutuhkan cara yang lebih mudah untuk memahami lokasi dan luas kelainan pada rahim. Karena itulah muncul pendekatan 鈥減emetaan topografi rahim鈥, yaitu metode yang menggambarkan letak kelainan pada rahim layaknya membaca peta.
Melalui pendekatan ini, dokter tidak hanya melihat seberapa dalam plasenta menempel, tetapi juga memahami bagian rahim mana yang terkena, apakah di bagian depan, samping, atau belakang rahim, serta apakah sudah melibatkan area dekat kandung kemih dan pembuluh darah besar. Informasi ini penting karena setiap lokasi memiliki tingkat kesulitan operasi dan risiko perdarahan yang berbeda. Dengan mengetahui 鈥減eta鈥 kelainan sejak awal, tim operasi dapat lebih siap menentukan apakah rahim masih bisa dipertahankan atau perlu dilakukan histerektomi demi keselamatan ibu.
Pendekatan ini juga membantu rumah sakit dengan jumlah kasus yang tidak terlalu banyak. Selama ini, teknik operasi penyelamatan rahim lebih sering dilakukan di pusat rujukan besar dengan pengalaman tinggi. Kini, dengan adanya sistem klasifikasi yang lebih praktis, dokter di berbagai daerah dapat memiliki panduan yang lebih jelas untuk menilai tingkat risiko pasien dan memilih strategi operasi yang sesuai. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa pemahaman topografi rahim dapat membantu mengurangi perdarahan, cedera kandung kemih, hingga kebutuhan transfusi darah.
Selain lokasi kelainan, pola pembuluh darah di sekitar rahim juga menjadi perhatian penting. Pada beberapa kasus, pembuluh darah di area leher rahim tampak sangat padat dan melebar, menandakan risiko perdarahan masif yang lebih tinggi. Jika kondisi ini ditemukan sejak pemeriksaan kehamilan, dokter dapat merencanakan operasi dengan lebih matang, termasuk menyiapkan tim multidisiplin, cadangan darah, hingga teknik pengendalian perdarahan sebelum operasi dimulai.
Pemahaman yang baik mengenai letak kelainan pada rahim dan pola pembuluh darah menjadi kunci penting dalam menangani plasenta akreta secara lebih aman dan tepat. Melalui pendekatan klasifikasi topografi rahim yang lebih sederhana dan praktis, dokter dapat lebih mudah memperkirakan tingkat kesulitan operasi, memilih metode penanganan yang sesuai, serta mengurangi risiko komplikasi pada ibu. Dengan kerja sama antarrumah sakit, pelatihan yang berkelanjutan, dan dukungan teknologi seperti telependampingan, penanganan PAS diharapkan menjadi lebih aman, terarah, dan mampu memberikan hasil terbaik bagi pasien.
Penulis: Rozi Aditya Aryananda, dr., Sp.OG Subsp K.FM., PhD
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





