¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Virus Distemper Anjing: Ancaman yang terus-menerus bagi karnivora domestik dan liar

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Canine Distemper Virus (CDV) merupakan salah satu penyakit virus penting yang menyerang anjing domestik dan berbagai karnivora lainnya. CDV termasuk dalam genus Morbillivirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki RNA untai tunggal berpolaritas negatif dengan ukuran genom sekitar 15,7 kb. Genom CDV menyandi enam protein utama, yaitu nukleoprotein (N), fosfoprotein (P), protein matriks (M), protein fusi (F), hemaglutinin (H), dan polimerase besar (L). Protein H dan F menjadi komponen penting karena berperan dalam pengikatan virus ke reseptor sel inang serta proses fusi membran, sehingga sangat memengaruhi tropisme jaringan, virulensi, dan kemampuan virus berpindah tempat.

CDV dikenal sebagai penyakit yang sangat menular dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi, terutama pada hewan muda, tidak divaksinasi, atau memiliki sistem imun lemah. Infeksi CDV menyebabkan gangguan multisistem, meliputi saluran pernapasan, saluran pencernaan, sistem saraf pusat, kulit, dan jaringan limfoid. Selain itu, virus ini menimbulkan imunosupresi berat sehingga hewan yang terinfeksi lebih rentan mengalami infeksi sekunder oleh bakteri maupun patogen oportunistik lainnya. Manifestasi klinis yang umum dijumpai antara lain demam bifasik, keluarnya cairan mukopurulen dari mata dan hidung, batuk, muntah, diare, dehidrasi, hingga gejala neurologis seperti mioklonus, kejang, ataksia, paresis, dan paralisis.

Secara epidemiologis, CDV tersebar hampir di seluruh dunia. Di wilayah dengan program vaksinasi yang baik, seperti sebagian Eropa dan Amerika Utara, kasus pada anjing domestik menurun secara signifikan, tetapi infeksi masih ditemukan secara sporadis pada satwa liar seperti rubah, rakun, serigala, dan karnivora lainnya. Sebaliknya, di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan beberapa wilayah tropis, CDV masih bersifat endemic, di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kasus CDV masih terjadi secara sporadis, terutama karena cakupan vaksinasi belum merata, populasi anjing liar cukup besar, serta interaksi antara hewan domestik dan satwa liar masih sulit dikendalikan.

Salah satu isu penting dalam artikel ini adalah variasi genetik CDV. Analisis molekuler, khususnya pada gen hemaglutinin (H), menunjukkan adanya beberapa garis keturunan atau lineage CDV, seperti America-1, America-2, Asia-1, Asia-2, Europe, Arctic-like, Africa, dan South America. Variasi genetik ini penting karena dapat memengaruhi karakter antigenik virus dan efektivitas vaksin. Beberapa strain lapangan yang beredar di Asia, misalnya Asia-1 dan Asia-2, memiliki perbedaan genetik dengan strain vaksin konvensional America-1. Oleh karena itu, pemantauan molekuler berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendeteksi kemunculan varian baru dan menilai kesesuaian vaksin yang digunakan.

Diagnosis CDV memerlukan pendekatan terpadu karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain seperti parvovirus, adenovirus, parainfluenza, rabies, toksoplasmosis, dan neosporosis. Diagnosis awal dapat dilakukan melalui pengamatan klinis, tetapi konfirmasi laboratorium tetap dibutuhkan. Metode yang digunakan meliputi histopatologi, imunohistokimia, direct fluorescent antibody test, RT-PCR, qRT-PCR, sekuensing gen H, ELISA, dan virus neutralization test. RT-PCR dianggap sebagai metode molekuler utama karena memiliki sensitivitas tinggi dalam mendeteksi RNA virus.

Pencegahan utama CDV adalah vaksinasi. Vaksin yang umum digunakan meliputi vaksin hidup dilemahkan, vaksin rekombinan, dan vaksin berbasis DNA. Vaksinasi biasanya dimulai pada usia 6–8 minggu, dilanjutkan booster setiap 3–4 minggu hingga usia 16 minggu, kemudian diikuti vaksin ulang tahunan atau setiap tiga tahun sesuai kebutuhan. Namun, keberhasilan vaksinasi sangat bergantung pada kepatuhan jadwal, cakupan populasi, kualitas vaksin, dan manajemen rantai.

CDV tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan anjing domestik dan konservasi satwa liar. Pengendaliannya tidak cukup hanya melalui vaksinasi, tetapi juga memerlukan biosekuriti, pengawasan populasi satwa liar, edukasi masyarakat, manajemen shelter, serta pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengembangkan vaksin multivalen, metode diagnosis cepat berbasis molekuler, dan sistem surveilans genomik yang lebih adaptif.

Penulis : Tridiganita Intan Solikhah, drh., M.Si

Referensi terkait tulisan di atas:

Solikhah, T. I., Khairullah, A. R., Aulia, R. Z., Pratama, B. P., Ernadiani, A. L., Akram, M., Yudha, F. A. Z. P. W., Ibrahim, R. A., Puji, A. T., & Devanda, K. (2026). Canine Distemper Virus: A persistent threat to domestic and wild carnivores. Journal of Advanced Veterinary Research, 16(3), 446 455.

AKSES CEPAT