东京热

东京热 Official Website

Sistem Pakar untuk Klasifikasi Tingkat Kemandirian Anak dengan Gangguan ASD dalam Aktivitas Sehari-hari Menggunakan Forward Chaining

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan sangat dapat diwariskan, yang ditandai dengan tantangan signifikan dalam komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku yang terbatas dan berulang. Anak dengan gangguan ASD memerlukan intervensi dini selama masa perkembangan mereka terutama dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, merawat kebersihan diri, hingga kemampuan menggunakan toilet secara mandiri (toilet training) sering kali menjadi tantangan terbesar bagi anak dengan gangguan ASD. Kemandirian mengacu pada kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, menentukan tingkat kemandirian anak-anak dengan gangguan ASD sangat penting untuk menetapkan intervensi yang tepat yang dapat membantu anak dengan gangguan ASD menjadi lebih mandiri.

Selama ini, untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemandirian anak, orang tua harus melakukan serangkaian konsultasi intensif dengan psikolog anak, dokter spesialis tumbuh kembang, atau terapis okupasi yang memakan biaya tidak sedikit serta waktu tunggu yang relatif lama. Disamping itu juga, keterbatasan ketersediaan ahli yang mampu mengklasifikasikan tingkat kemandirian anak dengan gangguan ASD merupakan hambatan signifikan dalam memberikan pengobatan atau intervensi yang sesuai.  

Penentuan tingkat kemandirian ini sangat penting karena menjadi dasar bagi perancangan intervensi dini yang tepat. Melalui pendekatan algoritma penalaran maju yang dikenal sebagai Forward Chaining, penelitian ini menerapkan Forward Chaining untuk mengklasifikasikan tingkat kemandirian anak dengan gangguan ASD. Forward Chaining mengintegrasikan penalaran berbasis aturan (rule base). Tingkat kemandirian tergantung pada jenis prompt yang digunakan pada anak dengan gangguan ASD dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Jenis prompt yang digunakan adalah fisik, gestural, dan verbal. Prompt fisik melibatkan panduan tangan-ke-tangan untuk membantu anak melakukan tindakan yang benar. Prompt gestural menggunakan gerakan tubuh, seperti menunjuk atau isyarat tangan, untuk menunjukkan tindakan yang tepat. Prompt verbal memberikan isyarat lisan, termasuk instruksi, kata kunci, pengingat, atau pertanyaan.

Sistem yang dibuat mengadopsi pengetahuan klinis dari pakar ke dalam aplikasi web yang mudah diakses oleh publik.  Metode Forward Chaining bekerja dengan cara menghimpun fakta-fakta awal yang dimasukkan oleh pengguna berdasarkan aktivitas sehari-hari yang telah dilakukan dan jenis prompt yang digunakan.  Fakta-fakta ini dievaluasi secara runut berdasarkan basis aturan (rule base) yang diintegrasikan ke dalam sistem. Sebagai contoh, jika sistem menerima input bahwa anak mencuci tangan dengan prompt verbal, memegang peralatan makan sendiri dengan prompt fisik, dan memasukkan makanan ke mulut dengan prompt gestural, algoritma akan menguji rangkaian implikasi aturan logika formal. Hasil akhir penalaran tersebut secara otomatis mengelompokkan tingkat kemandirian anak dengan gangguan ASD ke dalam tiga kategori, yaitu mandiri, kurang cukup mandiri, dan kurang mandiri. Penentuan tingkat kemandirian ini sangat krusial agar intervensi yang diberikan sesuai dan tepat sasaran.

Penelitian ini terdiri dari tujuh tahap, yaitu pengumpulan data, penyusunan sistem rule base menggunakan Forward Chaining, perancangan basis data menggunakan Conceptual Data Model (CDM) and Physical Data Model (PDM), pengembangan antarmuka pengguna, implementasi system,  pengujian sistem, serta evaluasi sistem. Data dikumpulkan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Jawa Timur. Dataset terdiri dari 400 rekaman yang mencakup lima aktivitas sehari-hari: makan, minum, menyikat gigi, mengenakan pakaian, dan melepas pakaian.

Keandalan sistem pakar ini tidak perlu diragukan lagi. Dalam pengujian validitas yang dilakukan menggunakan rekam medis dari 18 anak ASD di bawah pengawasan psikolog anak profesional, sistem ini mencatatkan tingkat akurasi mencapai 98,5 %. Bukan hanya memberikan akurasi dalam klasifikasi, aplikasi ini juga di ujikan pada pengguna, yaitu psikolog anak, guru SLB, terapis, dan orang tua dengan mencapai skor kepuasan pengguna sebesar 80,85%. Hasil ini mengindikasikan bahwa metode yang diusulkan efektif dalam mendukung terapis untuk menentukan tingkat kemandirian anak dengan gangguan ASD berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh pakar.

Kehadiran sistem pakar berbasis Forward Chaining ini diharapkan menjadi angin segar bagi ekosistem pendidikan inklusi di Indonesia. Dengan pemantauan berkala dilakukan secara mandiri di rumah tanpa harus selalu menunggu jadwal klinik, kemunduran atau stagnasi perkembangan anak dapat diantisipasi lebih dini.  Aplikasi yang telah dibuat diharapkan dapat berjalan beriringan dengan praktisi medis demi menjamin masa depan anak dengan gangguan ASD yang lebih mandiri.

Oleh: Indah Werdiningsih

AKSES CEPAT