Krisis iklim global menuntut transformasi cepat di berbagai sektor urban, termasuk pengelolaan sampah di kota-kota besar. Kota Surabaya, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dengan penduduk lebih dari 2,8 juta jiwa, memproduksi sekitar 1.500 hingga 1.800 ton sampah setiap harinya. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Waste Management Bulletin (2026) memproyeksikan bahwa tanpa penanganan yang progresif, timbulan sampah tahunan di Surabaya akan terus melonjak hingga menyentuh angka 939.804,10 ton pada tahun 2050. Peningkatan volume yang masif ini berpotensi memicu lonjakan emisi gas rumah kaca (GRK) yang signifikan, mengancam target iklim yang telah dicanangkan pemerintah.
Selama ini, sebagian besar sampah perkotaan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akibat rendahnya tingkat daur ulang masyarakat. Sampah organik yang menumpuk di TPA akan mengalami dekomposisi anaerobik tanpa oksigen, menghasilkan gas metana () yang memiliki potensi pemanasan global 28 hingga 36 kali lebih kuat daripada karbon dioksida () dalam skala 100 tahun. Ketergantungan terhadap skema penimbunan konvensional ini tidak lagi realistis untuk dipertahankan, mengingat keterbatasan lahan perkotaan di Surabaya dan adanya regulasi nasional yang memperketat penutupan kawasan TPA dengan sistem pembuangan terbuka (open dumping).
Sebagai langkah pionir di tingkat nasional, Pemerintah Kota Surabaya telah mengoperasikan pembangkit listrik berbasis gasifikasi sejak tahun 2021. Teknologi termal Waste-to-Energy (WtE) ini bekerja dengan membakar sampah pada suhu tinggi hingga mencapai 1000 derajat Celsius untuk menghasilkan gas sintesis (syngas), yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik untuk disalurkan ke jaringan listrik nasional. Dibandingkan dengan sistem insinerasi biasa, teknologi gasifikasi dinilai jauh lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah serta memiliki tingkat efisiensi energi yang jauh lebih optimal.
Keberadaan unit gasifikasi berkapasitas 1.000 ton per hari ini terbukti berhasil memangkas emisi gas rumah kaca sektor sampah Surabaya hingga lebih dari 57 persen. Kendati demikian, hasil penelitian memperingatkan adanya efek rebound atau pembalikan tren jika kapasitas pengolahan ini stagnan di masa depan. Jika kapasitas WtE tidak disesuaikan dengan pertumbuhan populasi, emisi yang sempat ditekan hingga 155.462,45 ton pada tahun 2025 diproyeksikan akan melonjak kembali menjadi 195.568,46 ton pada tahun 2035, dan terus merangkak naik hingga 255.595,81 ton pada tahun 2050 akibat sisa sampah yang terpaksa dibuang kembali ke TPA.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, studi ini merancang skenario ekspansi kapasitas teknologi termal secara bertahap, yakni sebesar 125 persen pada tahun 2035 dan 150 persen pada tahun 2050 dari kapasitas awal. Melalui peningkatan kapasitas pengolahan menjadi 1.250 ton per hari di tahun 2035 dan 1.500 ton per hari di tahun 2050, volume sampah yang ditimbun di lahan TPA dapat ditekan secara drastis hingga mencapai nol untuk pembuangan tanpa fasilitas penangkap gas. Langkah strategis ini diproyeksikan mampu menghasilkan penghematan emisi neto yang konsisten, menurunkan total emisi perkotaan menjadi hanya 71.650,12 ton pada tahun 2035 dan menyusut hingga 32.465,04 ton pada pertengahan abad ini.
Keberhasilan penurunan emisi ini bahkan dapat dioptimalkan lebih jauh melalui skenario radikal keempat, yaitu dengan mengonversi fasilitas Landfill Gas (LFG) yang kurang efisien menjadi unit gasifikasi terintegrasi berkapasitas 2.000 ton per hari pada tahun 2050. Meskipun sistem LFG lebih murah, kinerjanya sangat lambat dan menghasilkan emisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan teknologi termal. Dengan melakukan konversi total menuju gasifikasi penuh, Kota Surabaya diproyeksikan mampu mencapai tingkat emisi neto negatif hingga menyentuh angka -117.401,40 ton pada tahun 2050. Capaian ini menjadi sangat krusial karena jalurnya selaras dengan skenario rendah karbon nasional (LCCP scenario) dalam pemenuhan Perjanjian Paris.
Walaupun masa depan pengelolaan sampah berbasis termal ini sangat menjanjikan, implementasinya di lapangan dihadapkan pada tantangan teknis, sosial, dan finansial yang tidak sedikit. Pembangunan fasilitas canggih seperti ini membutuhkan biaya modal (CAPEX) yang sangat besar, mencapai 42,6 juta dolar AS untuk unit berkapasitas 1.000 ton per hari, serta memerlukan jaminan kepastian harga jual listrik yang stabil dari pemerintah. Oleh sebab itu, sinergi kebijakan yang terintegrasi, skema pendanaan inovatif bersama sektor swasta melalui mekanisme build-operate-transfer (BOT), serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah menjadi kunci mutlak untuk mewujudkan visi Surabaya yang bersih dan bebas emisi pada tahun 2050.
Penulis: Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., Ph.D.





