¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

BEM FIKKIA Gelar SIGAP, Edukasi Kader Kemiren Hadapi Penyakit Akibat Perubahan Iklim

Tim SDGs LPMB UNAIR memaparkan materi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 sebagai landasan pelaksanaan program SIGAP di Desa Kemiren (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) menggelar program SIGAP (Sosialisasi Gejala Akibat Perubahan Iklim Berbasis Pemanfaatan TOGA) sebagai bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat bertajuk Empowered Biodiversity Village. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (22/7/2026) di Balai Desa Kemiren itu melibatkan ibu-ibu kader. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi penyakit akibat perubahan iklim melalui pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA).

Program tersebut berangkat dari potensi TOGA yang melimpah di Desa Kemiren. Selain itu, kondisi geografis desa yang berada di kawasan Gunung Ijen dengan cuaca yang relatif ekstrem juga melatarbelakangi pemilihan lokasi. Melalui pendekatan kesehatan berbasis potensi lokal, SIGAP mengintegrasikan aspek kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi sekaligus mendukung lima tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs 3, 5, 8, 15, dan 17.

“SIGAP menjadi bentuk kolaborasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui potensi lokal yang telah dimiliki Desa Kemiren,” ujar Dewi Roso Wulan selaku ketua pelaksana.

“Kami berharap SIGAP menjadi langkah awal terbentuknya budaya hidup sehat. Sekaligus mendorong pemanfaatan biodiversitas lokal sebagai kekuatan kesehatan dan ekonomi Desa Kemiren,” imbuh Dewi

Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai pilar-pilar SDGs 2030 oleh SDGs LPMB UNAIR yang mengaitkan pembangunan berkelanjutan dengan implementasi program di Desa Kemiren. Selanjutnya, Dr Malikhatun Ni’mah SSi MSi, dosen Kedokteran FIKKIA menyampaikan materi mengenai penyakit akibat perubahan iklim beserta pemanfaatan TOGA sebagai salah satu bentuk intervensi promotif dan preventif.

Tim menyampaikan materi melalui metode Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi, workshop, dan demonstrasi sehingga peserta dapat berdiskusi secara aktif dengan para narasumber. Antusiasme kader terlihat dari interaksi yang berlangsung selama sesi tanya jawab.

Dalam sesi materi, peserta memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan perubahan iklim dengan peningkatan risiko penyakit. Seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit berbasis vektor, serta gangguan kesehatan akibat perubahan suhu. Selain itu, peserta mengenal berbagai jenis tanaman obat keluarga (TOGA) beserta manfaat, cara budidaya, hingga pemanfaatannya sebagai intervensi promotif dan preventif.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan demonstrasi pengolahan TOGA menjadi jamu modern yang lebih praktis, higienis, dan memiliki nilai ekonomi. “Pemanfaatan TOGA merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk meningkatkan ketahanan kesehatan di tengah perubahan iklim,” jelas Malikhatun 

UKM KPA UNAIR menutup kegiatan dengan demonstrasi pengolahan TOGA menjadi jamu modern yang memiliki nilai tambah ekonomi. Peserta juga memperoleh leaflet, modul pengolahan jamu modern, serta peta potensi TOGA Desa Kemiren untuk membantu kader memetakan tanaman obat di lingkungannya.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi dalam mempraktikkan pembuatan jamu modern. Melalui Empowered Biodiversity Village, BEM UNAIR berharap masyarakat tidak hanya semakin sadar akan pentingnya hidup sehat. Melainkan juga mampu mengembangkan potensi TOGA sebagai produk bernilai ekonomi yang mendukung kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis: Dheva Yudistira Maulana

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT