¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Mahasiswa PPDH FKH Temukan Infestasi Cacing Subulura sp. pada Burung Hantu di Surabaya 

Potret Mahasiswa PPDH FKH UNAIR melakukan Pemeriksaan Mikroskopis Sampel Feses Burung Hantu (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kelompok mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang XLV Tandem 3 Fakultas Kedokteran Hewan () ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) yang tengah menjalani stase Parasitologi berhasil mengidentifikasi infestasi cacing nematoda saluran cerna pada burung hantu. Temuan tersebut mereka peroleh dari sampel feses yang dikumpulkan di kawasan Gembong Sawah, Surabaya, pada Kamis (23/7/2026). Hasil temuan tersebut mereka analisis di Laboratorium Parasitologi Veteriner FKH UNAIR.

Identifikasi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran klinis mahasiswa sekaligus upaya mendukung surveilans kesehatan satwa liar di lingkungan perkotaan. Melalui deteksi awal parasit, mahasiswa turut berkontribusi dalam menjaga kesehatan satwa serta keseimbangan ekosistem melalui pendekatan One Health.

“Melalui identifikasi dini parasit pada satwa liar, kami berharap dapat memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat untuk mendukung upaya pemantauan kesehatan satwa sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem,” ujar Vania Athalia Indarto Putri, mahasiswa PPDH Gelombang XLV Tandem 3 FKH UNAIR.

Mereka melakukan pemeriksaan sampel menggunakan tiga metode. Yakni natif, sedimentasi, dan flotasi. Hasil terbaik mereka peroleh melalui metode flotasi yang mampu memisahkan telur cacing dari sisa material feses sehingga memudahkan proses identifikasi di bawah mikroskop.

Infestasi Telur Cacing Subulura sp. pada Burung Hantu (Foto: Istimewa)

Berdasarkan hasil pengamatan, telur Subulura sp. memiliki bentuk oval simetris dengan dinding ganda (double contoured shell), tidak memiliki operculum maupun polar plugs, serta telah berisi larva matang (embryonated egg). Pengukuran digital menunjukkan ukuran telur mencapai 84,55 µm dengan lebar 58,77 µm, sesuai karakteristik morfologi spesies tersebut.

“Karakteristik morfologi telur menjadi aspek penting dalam memastikan identitas parasit. Sehingga diagnosis dapat dilakukan secara tepat dan akurat,” jelas Vania.

Dukung Surveilans Satwa Liar

Secara biologis, cacing dewasa Subulura sp. hidup di sekum dan usus besar burung hantu dengan siklus hidup tidak langsung yang melibatkan serangga. Seperti kecoa dan kumbang, sebagai inang antara. Infestasi dalam jumlah tinggi berpotensi menyebabkan enteritis, gangguan penyerapan nutrisi, penurunan berat badan, hingga meningkatkan risiko infeksi sekunder.

Melalui temuan tersebut, mahasiswa PPDH FKH UNAIR turut mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDGs 15 (Ekosistem Daratan). Ke depannya, pemeriksaan sampel feses berbagai satwa akan terus mereka lakukan sebagai penunjang diagnosis penyakit parasit sekaligus media pembelajaran bagi mahasiswa koas PPDH.

“Deteksi dini penyakit pada satwa liar merupakan bagian penting dari pendekatan One Health. Harapannya, kegiatan pemeriksaan sampel feses dapat terus mendukung diagnosis parasit sekaligus meningkatkan kompetensi mahasiswa koas,” pungkas Vania.

Penulis: Dheva Yudistira Maulana

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT