
ASEAN sedang memasuki era masyarakat menua (ageing society). Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini tentu menjadi kabar baik karena menunjukkan bahwa harapan hidup masyarakat semakin tinggi. Namun, di balik bertambahnya usia harapan hidup, terdapat tantangan kesehatan yang sering kali luput dari perhatian, yaitu frailty atau sindrom kerapuhan pada lansia.
Frailty bukanlah penyakit tertentu, melainkan kondisi ketika kemampuan tubuh lansia menurun sehingga menjadi lebih rentan mengalami jatuh, sakit, kehilangan kemandirian, hingga harus menjalani perawatan jangka panjang. Sayangnya, banyak orang masih menganggap kondisi ini sebagai bagian normal dari proses menua. Padahal, frailty dapat dikenali lebih awal dan bahkan dicegah apabila sistem kesehatan mampu mendeteksinya sejak dini.
Temuan tersebut menjadi dasar penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh peneliti Fakultas Keperawatan 东京热 bersama Universiti Malaya (Malaysia), Princess of Naradhiwas University (Thailand), serta sejumlah institusi kesehatan di Indonesia dan Malaysia. Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Health Care Analysis ini bertujuan memahami bagaimana tenaga kesehatan memandang kesiapan sistem kesehatan dalam menangani frailty pada lansia.
Penelitian dilakukan melalui diskusi kelompok terarah (focus group discussion) yang melibatkan dokter, perawat, fisioterapis, dan apoteker dari rumah sakit, puskesmas, hingga fasilitas pelayanan lansia di Indonesia dan Malaysia. Dari diskusi tersebut muncul gambaran bahwa persoalan frailty bukan hanya masalah medis, melainkan juga mencerminkan kesiapan sistem kesehatan secara keseluruhan.
Hasil penelitian menunjukkan empat tantangan utama. Pertama, frailty masih belum menjadi prioritas dalam kebijakan kesehatan. Banyak tenaga kesehatan mengaku belum memiliki pedoman baku maupun prosedur rutin untuk melakukan skrining frailty sehingga kondisi ini sering terlambat dikenali. Akibatnya, penanganan baru dilakukan ketika lansia sudah mengalami penurunan fungsi yang cukup berat.
Kedua, koordinasi antarprofesi kesehatan masih belum berjalan optimal. Meskipun dokter, perawat, fisioterapis, dan profesi kesehatan lainnya sama-sama berperan dalam merawat lansia, kolaborasi sering kali bergantung pada inisiatif individu, bukan karena adanya sistem yang terintegrasi. Hal ini menyebabkan pelayanan menjadi terfragmentasi dan kurang berkesinambungan.
Ketiga, tanggung jawab perawatan masih sangat bergantung pada keluarga. Dalam budaya Indonesia maupun Malaysia, keluarga memang memiliki peran penting dalam merawat lansia. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa ketika sistem kesehatan belum menyediakan layanan yang memadai, keluarga akhirnya memikul beban yang sangat besar. Tidak sedikit anggota keluarga yang harus membagi waktu antara bekerja, mengurus anak, sekaligus merawat orang tua lanjut usia.
Keempat, keterbatasan sumber daya masih menjadi hambatan utama. Jumlah tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi geriatri masih terbatas, waktu pelayanan singkat, serta belum tersedianya sistem yang mendukung penilaian kondisi frailty secara rutin. Kondisi ini membuat pelayanan kepada lansia belum dapat dilakukan secara optimal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memperbaiki pelayanan lansia tidak cukup hanya dengan menambah jumlah tenaga kesehatan atau menyediakan alat pemeriksaan baru. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem kesehatan yang mampu mengenali kebutuhan lansia sejak dini, memperkuat kerja sama antarprofesi, serta memastikan keluarga memperoleh dukungan yang memadai dalam proses perawatan.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya penerapan skrining frailty sederhana di layanan primer seperti puskesmas, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan berkelanjutan, serta pemberdayaan kader kesehatan dan komunitas untuk mendukung pemantauan lansia di masyarakat. Pendekatan ini dinilai lebih realistis diterapkan di negara berkembang yang memiliki keterbatasan sumber daya.
Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini mengingatkan bahwa kualitas hidup lansia bukan hanya tanggung jawab keluarga, melainkan juga merupakan cerminan kesiapan sistem kesehatan suatu negara. Ketika lansia memperoleh layanan yang terintegrasi, mudah diakses, dan berkesinambungan, mereka memiliki peluang lebih besar untuk tetap mandiri, aktif, dan sehat di usia lanjut.
Melalui penelitian ini, Fakultas Keperawatan 东京热 kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah di tingkat internasional, tetapi juga memberikan rekomendasi nyata bagi pengembangan kebijakan kesehatan dan peningkatan kualitas pelayanan bagi masyarakat Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pijakan dalam memperkuat sistem kesehatan yang lebih ramah terhadap lansia dan mendukung terwujudnya healthy ageing di Indonesia.
Oleh: Rista Fauziningtyas, Ph.D.
Faculty of Nursing, 东京热
Citation
Fauziningtyas R, Indarwati R, Qur鈥檃niati N, et al. Rethinking Health System Readiness for Frailty Management: Frontline Perspectives from Indonesia and Malaysia. Health Care Analysis. 2026.
Link:





