东京热

东京热 Official Website

Studi Nasional: Risiko Depresi pada Remaja Indonesia Dipengaruhi Kombinasi Gender, Usia, dan Kondisi Sosial-Ekonomi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Sebuah studi berskala nasional yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open mengungkap temuan yang mengejutkan sekaligus membantah asumsi umum selama ini: remaja perempuan dari keluarga berkecukupan di perkotaan justru memiliki risiko depresi yang jauh lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan miskin di pedesaan. Menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 milik Kementerian Kesehatan, para peneliti menganalisis data dari 89.866 remaja berusia 15 hingga 24 tahun di seluruh Indonesia. Status depresi para responden diukur menggunakan Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI), sebuah alat diagnostik terstandar yang mengikuti kriteria kesehatan jiwa internasional. Alih-alih menganalisis faktor gender, usia, pendidikan, tempat tinggal, dan status ekonomi secara terpisah seperti kebanyakan penelitian sebelumnya, tim peneliti menggunakan teknik analisis klaster untuk mengelompokkan remaja berdasarkan kombinasi karakteristik tersebut sekaligus.

Hasilnya, peneliti berhasil mengidentifikasi lima kelompok remaja dengan profil sosial yang berbeda-beda. Kelompok pertama adalah remaja laki-laki berusia muda di pedesaan dengan tingkat kemiskinan tinggi, yang dijadikan kelompok pembanding dalam analisis. Kelompok kedua adalah remaja perempuan yang lebih tua di pedesaan namun masih tergolong miskin meski sudah menamatkan sekolah menengah atas. Kelompok ketiga adalah remaja perempuan usia muda di perkotaan yang berasal dari keluarga mampu. Sementara kelompok keempat dan kelima didominasi remaja laki-laki dari keluarga mampu di perkotaan, dengan kelompok kelima merupakan yang paling mapan secara ekonomi dan pendidikan.

Setelah dibandingkan dengan kelompok pertama, ditemukan bahwa remaja pada kelompok kedua memiliki risiko depresi 1,58 kali lebih tinggi. Namun yang paling mencolok adalah kelompok ketiga, yakni remaja perempuan muda dari keluarga mampu di perkotaan, yang risikonya justru mencapai 2,6 kali lipat lebih tinggi dibanding kelompok termiskin. Sebaliknya, dua kelompok yang didominasi laki-laki dari keluarga mampu tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan risiko depresi.

Para peneliti menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan risiko depresi pada remaja tidak berjalan lurus dengan tingkat kemiskinan semata, melainkan dibentuk oleh persilangan antara gender, usia, dan konteks sosial tempat remaja itu tinggal. Pada kelompok remaja perempuan miskin di pedesaan, tekanan berasal dari beban ganda antara keterbatasan ekonomi dan tuntutan sosial-budaya seperti menjaga nama baik keluarga serta tanggung jawab rumah tangga, yang di beberapa daerah bahkan berujung pada pernikahan dini setelah lulus sekolah wajib.

Sementara pada remaja perempuan muda di perkotaan yang justru berkecukupan, peneliti menduga tekanannya datang dari masa transisi sosial yang krusial, yaitu peralihan dari lingkungan sekolah dasar menuju lingkungan sosial yang lebih kompleks di jenjang sekolah menengah pertama. Menariknya, kelompok ini justru memiliki perilaku hidup paling sehat di antara semua kelompok, dengan hampir seluruhnya tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol sama sekali. Hal ini mengindikasikan bahwa tingginya risiko depresi pada kelompok tersebut kemungkinan besar bukan dipicu oleh gaya hidup berisiko, melainkan oleh faktor tekanan sosial dan ekspektasi gender yang lebih dalam.

Terkait rendahnya angka depresi pada kelompok yang didominasi laki-laki, peneliti mengingatkan agar hasil ini tidak langsung dimaknai sebagai bukti ketahanan mental yang lebih baik. Norma maskulinitas yang berlaku di masyarakat kerap membuat remaja laki-laki enggan mengungkapkan kerentanan emosional mereka, sehingga gejala depresi yang sebenarnya ada berisiko tidak terdeteksi maupun tidak dilaporkan dalam survei semacam ini.

Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan agar program kesehatan mental remaja tidak dirancang secara seragam, melainkan disesuaikan dengan konteks spesifik masing-masing kelompok. Untuk remaja perempuan miskin di pedesaan, mereka menekankan pentingnya program pemberdayaan ekonomi dan perempuan di kawasan perdesaan. Sementara untuk remaja perempuan muda dari keluarga mampu di perkotaan, peneliti menyarankan agar layanan kesehatan mental diintegrasikan langsung ke dalam kurikulum sekolah guna membantu mereka menghadapi tekanan norma gender dan masa transisi sosial sejak dini.

Meski demikian, tim peneliti turut mengakui adanya keterbatasan dalam studi ini. Desain penelitian yang bersifat potong lintang membuat temuan ini hanya dapat menunjukkan keterkaitan, bukan hubungan sebab-akibat. Selain itu, data yang dikumpulkan melalui laporan mandiri dari responden berpotensi menimbulkan bias, khususnya untuk pertanyaan-pertanyaan sensitif seperti kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol. Karena itu, penelitian lanjutan dengan pendekatan kualitatif dinilai perlu dilakukan untuk memahami lebih dalam pengalaman nyata remaja di masing-masing kelompok tersebut.

Oleh: Prof. Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D

Link:


Sumber: Murti FAK, Nursalam N, Kustanti CY, McKenna L, Sutrisno S, Pradipta RO, Saleh A, Efendi F. “Clustering socio-demographic of Indonesian adolescents and their associations with depression: a cross-sectional study.” BMJ Open 2026;16:e109727. doi:10.1136/bmjopen-2025-109727. Artikel dapat diakses secara terbuka di jurnal BMJ Open.

AKSES CEPAT