¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

RUTF: Harapan Baru untuk Mempercepat Pemulihan Anak dengan Gizi Buruk

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Gizi buruk masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah, karena meningkatkan risiko infeksi, menghambat perkembangan otak, bahkan meningkatkan angka kematian pada balita. Diperkirakan jutaan anak di dunia masih mengalami masalah ini, dengan sebagian besar kasus terjadi di kawasan Asia dan Afrika.

Tata laksana gizi buruk setelah fase stabilisasi mengandalkan formula terapeutik F-100, dan terbukti mampu membantu meningkatkan berat badan anak. Namun, penggunaan F-100 memiliki keterbatasan karena memerlukan pencampuran dengan air, penyimpanan yang baik, serta umumnya diberikan di fasilitas kesehatan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas. Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) mulai menjadi alternatif yang banyak digunakan. RUTF merupakan makanan terapeutik siap konsumsi yang kaya energi, protein, vitamin, dan mineral. Produk ini tidak memerlukan penambahan air, memiliki masa simpan hingga dua tahun, serta aman dikonsumsi langsung oleh anak. Karakteristik tersebut membuat RUTF sangat sesuai untuk program penanganan gizi buruk berbasis masyarakat.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2026 melakukan systematic review dan meta-analysis terhadap delapan uji klinis acak yang melibatkan lebih dari 2.000 anak usia 6–60 bulan dengan gizi buruk. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas RUTF dengan F-100 dalam meningkatkan berat badan anak selama masa rehabilitasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang menerima RUTF mengalami peningkatan berat badan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang memperoleh F-100. Secara rata-rata, RUTF memberikan tambahan kenaikan berat badan sekitar 2,96 gram per kilogram berat badan per hari lebih tinggi dibandingkan F-100. Selain itu, anak-anak yang mendapatkan RUTF cenderung pulih lebih cepat dan mencapai target status gizi dalam waktu yang lebih singkat.

Keunggulan tersebut diduga berasal dari komposisi RUTF yang mengandung kombinasi makronutrien dan mikronutrien dengan kepadatan energi tinggi. Selain itu, karena tidak memerlukan proses pengolahan, risiko kontaminasi selama persiapan makanan menjadi lebih kecil. Anak juga dapat mengonsumsinya di rumah sehingga mengurangi ketergantungan terhadap rawat inap di rumah sakit.

Meskipun demikian, penelitian ini juga memberikan temuan yang cukup menarik. Walaupun RUTF lebih efektif dibandingkan F-100 dalam meningkatkan berat badan, laju kenaikan berat badan yang dicapai ternyata masih belum memenuhi target catch-up growth atau pertumbuhan kejar yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu sekitar 5–10 gram per kilogram berat badan per hari. Dengan kata lain, kedua terapi memang mampu memperbaiki status gizi, tetapi belum cukup optimal untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan secara maksimal.

Hal ini menunjukkan bahwa penanganan gizi buruk tidak dapat hanya mengandalkan pemberian makanan terapeutik. Faktor lain seperti kecukupan protein, kualitas pola makan setelah terapi, kejadian infeksi, anemia, sanitasi lingkungan, serta edukasi kepada orang tua juga sangat memengaruhi keberhasilan pemulihan anak. Dukungan keluarga dalam memastikan anak mengonsumsi makanan sesuai anjuran menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi.

Penelitian tersebut juga menyoroti perlunya inovasi formula terapi yang mampu memberikan keseimbangan energi dan protein yang lebih optimal. Selain itu, diperlukan penelitian jangka panjang untuk mengetahui apakah peningkatan berat badan yang diperoleh selama pemberian RUTF dapat dipertahankan setelah terapi selesai serta apakah pertumbuhan tinggi badan juga dapat dikejar secara optimal.

Bagi Indonesia yang masih menghadapi beban gizi buruk dan stunting, hasil penelitian ini memberikan harapan baru. Penggunaan RUTF berpotensi menjadi salah satu strategi efektif dalam mempercepat pemulihan anak dengan gizi buruk, khususnya di daerah dengan akses pelayanan kesehatan yang terbatas. Namun, implementasinya harus tetap diintegrasikan dengan pelayanan kesehatan, pemantauan pertumbuhan, edukasi gizi keluarga, dan upaya pencegahan penyakit infeksi.

Pada akhirnya, keberhasilan mengatasi gizi buruk bukan hanya ditentukan oleh satu jenis makanan terapeutik, tetapi oleh pendekatan yang menyeluruh. RUTF memang menawarkan solusi yang lebih praktis dan efektif dibandingkan terapi konvensional, tetapi keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, keluarga, dan masyarakat untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K)

Link:

AKSES CEPAT