¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Difteri Masih Mengancam: Ketika Infeksi Tenggorokan Menyerang Jantung

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Banyak orang menganggap difteri sebagai penyakit masa lalu karena sudah tersedia vaksin yang efektif. Namun, kenyataannya difteri masih menjadi masalah kesehatan di beberapa negara, termasuk Indonesia, terutama pada daerah dengan cakupan imunisasi yang belum optimal.

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan racun berbahaya. Selain menyebabkan infeksi pada tenggorokan, racun ini dapat menyebar ke berbagai organ tubuh dan menimbulkan komplikasi serius, seperti gangguan pernapasan, kerusakan jantung, hingga kematian. Oleh karena itu, pengenalan dini dan penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.

Seorang anak perempuan berusia enam tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri tenggorokan, demam, batuk, muntah, serta pembengkakan leher yang khas dikenal sebagai bull neck. Pemeriksaan menunjukkan adanya lapisan putih keabu-abuan (pseudomembran) pada amandel. Riwayat imunisasi tidak ditemukan. Hasil pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi infeksi Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan toksin.

Pasien segera mendapatkan antitoksin difteri dan antibiotik. Namun, pada hari ke-9 perawatan, kondisinya memburuk. Pasien mengalami sesak napas berat sehingga harus dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Pemeriksaan foto toraks menunjukkan pembesaran jantung, pneumonia, dan penumpukan cairan di rongga paru. Pemeriksaan jantung juga menemukan penurunan fungsi pompa jantung yang berat.

Beberapa jam kemudian muncul komplikasi yang lebih serius berupa gangguan irama jantung cepat berbahaya (ventricular tachycardia). Kondisi ini menyebabkan tekanan darah tidak stabil dan berisiko menyebabkan henti jantung. Tim medis memberikan magnesium sulfat intravena (MgSOâ‚„), dan hasilnya irama jantung kembali normal disertai perbaikan kondisi hemodinamik pasien. Setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari, kondisi pasien berangsur membaik dan akhirnya diperbolehkan pulang.

Kasus ini menunjukkan bahwa difteri bukan hanya penyakit infeksi tenggorokan biasa. Racun yang dihasilkan bakteri dapat merusak sel otot jantung dan menyebabkan miokarditis, yaitu peradangan otot jantung. Kerusakan tersebut dapat memicu gangguan fungsi jantung serta aritmia yang berpotensi fatal.

Menariknya, pada kasus ini magnesium sulfat berhasil mengatasi gangguan irama jantung yang terjadi. Magnesium diduga membantu menstabilkan aktivitas listrik jantung dan melindungi sel otot jantung dari kerusakan lebih lanjut. Meskipun hasilnya menjanjikan, bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas sehingga penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan manfaat terapi ini pada pasien difteri dengan komplikasi jantung.

Kasus ini mengingatkan bahwa difteri masih dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa, bahkan setelah terapi standar diberikan. Penanganan yang cepat, pemantauan ketat di ICU, serta terapi suportif yang optimal berperan penting dalam keberhasilan pengobatan. Selain itu, kasus ini kembali menegaskan pentingnya imunisasi sebagai langkah paling efektif untuk mencegah difteri dan berbagai komplikasi berat yang dapat ditimbulkannya. Upaya meningkatkan cakupan vaksinasi tetap menjadi kunci utama dalam melindungi anak-anak dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.

Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., Sp.An-TI, Subsp.T.I.(K)., Subsp.An.Ped.(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Octora TN, Estari S, Semedi BP, Husada D. Lessons learned from life-threatening respiratory and cardiac complications in diphtheria: A case report and literature review. Turk J Emerg Med. 2026 Apr 1;26(2):146–9. doi:10.4103/tjem.tjem_334_25

AKSES CEPAT