东京热

东京热 Official Website

Pustakawan Jadi Desainer Media Literasi Informasi di Era Digital

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Perubahan pola belajar pascapandemi mendorong perguruan tinggi untuk semakin mengandalkan media digital dalam proses pembelajaran. Di tengah transformasi tersebut, perpustakaan perguruan tinggi tidak lagi hanya menyediakan koleksi informasi, tetapi juga aktif memproduksi berbagai media pembelajaran digital untuk membantu mahasiswa mengembangkan literasi informasi. Namun, bagaimana sebenarnya proses di balik pembuatan video tutorial, infografis, modul daring, dan konten edukasi yang sering dijumpai di media sosial perpustakaan?

Pertanyaan tersebut mendorong tim peneliti 东京热 (UNAIR) melakukan kajian terhadap pengalaman pustakawan perguruan tinggi di Indonesia dalam merancang media literasi informasi berbasis daring. Penelitian ini menunjukkan bahwa pustakawan saat ini telah berkembang menjadi perancang pembelajaran digital yang harus menggabungkan kemampuan pedagogi, teknologi, desain visual, hingga pengelolaan media sosial dalam satu pekerjaan yang sama.

Melalui wawancara mendalam dan analisis berbagai produk media yang dibuat pustakawan dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, penelitian menemukan bahwa proses pembuatan media literasi informasi tidak selalu mengikuti tahapan perencanaan pembelajaran yang ideal. Sebaliknya, pustakawan cenderung bekerja dalam siklus yang berorientasi pada produksi konten.

Dalam praktiknya, mereka biasanya memulai dengan mengidentifikasi pertanyaan atau kebutuhan mahasiswa yang muncul melalui layanan referensi, media sosial, maupun komunikasi langsung. Setelah itu, perhatian terbesar tercurah pada proses pengumpulan materi, pembuatan konten, dan penyebaran informasi melalui berbagai platform digital seperti Instagram, YouTube, website perpustakaan, hingga Learning Management System (LMS).

Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar energi dan waktu pustakawan terkonsentrasi pada tiga aktivitas utama, yaitu mengumpulkan informasi, membuat media, dan membagikannya kepada pengguna. Sebaliknya, tahap perencanaan awal dan evaluasi pembelajaran sering kali berlangsung secara singkat, informal, bahkan tidak terdokumentasi dengan baik. Kondisi ini mendorong peneliti menyebut pola tersebut sebagai production-centric loop atau siklus kerja yang berpusat pada produksi konten.

Fenomena tersebut tidak muncul tanpa alasan. Penelitian menemukan adanya berbagai tekanan struktural yang memengaruhi cara pustakawan bekerja. Keterbatasan jumlah staf, tingginya beban kerja, minimnya pelatihan desain pembelajaran, serta tuntutan untuk terus menghadirkan konten baru di media sosial membuat pustakawan lebih fokus pada menghasilkan output yang terlihat daripada melakukan perencanaan dan evaluasi yang mendalam.

Di banyak perpustakaan, satu orang pustakawan sering kali harus menjalankan beberapa peran sekaligus, mulai dari pengajar literasi informasi, desainer grafis, editor video, pengelola media sosial, hingga administrator platform digital. Akibatnya, proses produksi konten harus dilakukan secara cepat dan efisien agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pengguna.

Menariknya, penelitian ini juga mengungkap bahwa pustakawan Indonesia telah mengembangkan ekosistem kompetensi yang cukup kompleks untuk menjawab tantangan tersebut. Mereka tidak hanya membutuhkan kemampuan mencari dan mengelola informasi, tetapi juga keterampilan desain grafis, penyuntingan video, penulisan konten, pengelolaan platform digital, hingga kemampuan membaca data analitik dari media sosial.

Banyak dari keterampilan tersebut diperoleh secara mandiri melalui pembelajaran otodidak, berbagi pengetahuan dengan rekan kerja, atau memanfaatkan berbagai sumber belajar daring. Temuan ini menunjukkan bahwa profesi pustakawan terus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi pengguna yang semakin digital.

Meski demikian, penelitian ini memberikan catatan penting bahwa keberhasilan media literasi informasi tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah tayangan, suka, atau komentar di media sosial. Indikator tersebut memang menunjukkan tingkat jangkauan dan keterlibatan pengguna, tetapi belum tentu mencerminkan apakah mahasiswa benar-benar memahami materi yang disampaikan atau mengalami peningkatan kemampuan literasi informasi.

Oleh karena itu, tim peneliti merekomendasikan perlunya penguatan kapasitas pustakawan melalui pelatihan desain pembelajaran digital, penyediaan alat bantu perencanaan yang lebih sederhana, pengembangan mekanisme evaluasi pembelajaran yang praktis, serta peningkatan kolaborasi antara pustakawan, dosen, dan tenaga teknologi informasi.

Penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana kerangka pembelajaran berbasis inkuiri diterapkan dalam kondisi nyata di perpustakaan perguruan tinggi Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa inovasi layanan perpustakaan tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan pustakawan beradaptasi dengan berbagai keterbatasan organisasi dan tuntutan ekosistem digital yang terus berubah.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam artikel berjudul 鈥淕uided Inquiry Design for Online Information Literacy Media: A Production-Centric Loop Under Structural Pressures鈥di Journal of Information Literacy. Melalui penelitian ini, para penulis menunjukkan bahwa di balik setiap video tutorial, infografis, dan konten edukasi yang dihasilkan perpustakaan, terdapat proses adaptasi, kreativitas, dan kerja profesional yang semakin kompleks untuk memastikan mahasiswa mampu menjadi pengguna informasi yang kritis di era digital.

Link:

AKSES CEPAT