UNAIR NEWS – Koordinator Laboratorium Manusia Budaya dan Ragawi (Lab. MaBuRag) sekaligus pewara Riskolab Jatim Melaju 2026 berjudul Hilirisasi Ekonomi Hijau Bromo: Transformasi Ekosistem Mata Air dan Korban Menjadi Dana Abadi Beasiswa Desa, guru besar UNAIR Prof Dr H Muhammad Adib Drs MA menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda purna studi program magister dan doktor gelombang ke-2 dengan pidato bertajuk Menanam Kata, Memanen Peradaban: Panggilan Jiwa Pascasarjana dalam Produksi Karya Ilmiah yang Berkelanjutan. Acara tersebut terlaksana pada Kamis (23/7/2026) di Auditorium Pascasarjana UIN Syekh Wasil Kediri.聽
Pentingnya Konsistensi dan Memaknai Tulisan
Dalam orasinya, Prof Adib menekankan pentingnya konsistensi menulis dengan prinsip 鈥淪atu hari, Satu paragraf.鈥 Ia mengingatkan bahwa sebuah karya tulis ilmiah tidak boleh berhenti sekadar untuk pemenuhan kewajiban akademik semata. Ia menyebut bahwa karya tulis berupa tesis dan disertasi memang wajib secara administratif, tetapi maknanya harus lebih dari sekadar formalitas. 鈥淢enulis merupakan kebutuhan hidup sekaligus penanda sejarah. Apa yang rekan-rekan tulis dalam tesis dan disertasi adalah bentuk nyata dari upaya kita untuk menciptakan sejarah dan membangun peradaban yang sesungguhnya,鈥 ungkapannya.
Lebih lanjut, Prof Adib juga menjelaskan bahwa tulisan merupakan bentuk amal jariyah abadi. Menurutnya, semakin banyak tulisan yang para akademisi buat serta semakin banyak orang yang membacanya, maka akan semakin banyak disitasi orang yang berarti tulisan tersebut memberi manfaat dalam hidup. 鈥淢enulis juga menciptakan sejarah sekaligus mengabdikan keberadaan hidup kita. Itu artinya, dengan menulis dan diterbitkan, hidup kita yang terbatas ini, menjadi abadi,鈥 tutur Prof Adib.
Inspirasi Mengukir Sejarah dan Melampaui Batas
Para wisudawan purna studi merasakan inspirasi nyata secara mendalam melalui orasi ilmiah yang Prof Adib sampaikan. Salah satunya, peserta yudisium program magister yang berhasil meraih predikat Penulis Tesis Terbaik, Aina Syaza Syazwina. Ia menegaskan bahwa pesan dari Prof Adib menjadi pengingat penting bagi seluruh akademisi agar tidak pernah berhenti berkarya melalui tulisan. 鈥淜ita harus mengukir sejarah dengan terus menulis, sebagaimana yang disampaikan Prof Adib, baik saat masih berstatus mahasiswa maupun kelak setelah menjadi alumni dan akademisi. Kita harus tetap menulis untuk mengukir sejarah,鈥 tegas Aina.

Selain itu, Aina menyebut bahwa prestasi membanggakan yang ia raih, turut menjadi kisah manis perjuangannya dalam menempuh pendidikan tingkat lanjut. Ia membagikan sedikit pesan untuk mahasiswa yang menempuh pendidikan jauh dari tanah kelahiran. 鈥淪aya berasal dari Papua, dulu terbesit rasa ragu dengan apakah saya mampu menempuh pendidikan S2 di sini. Seakan-akan hal itu mustahil. Namun, selagi kita ada kemauan, didukung oleh para guru dan dosen, serta yang terpenting diridhoi oleh orang tua, pasti ada jalan. Jadi, jangan pernah berhenti bermimpi. Hari ini saya membuktikan bahwa mimpi itu saya wujudkan,鈥 ungkapnya penuh haru.
Penulis: Putri Andini
Editor: Ragil Kukuh Imanto





