
Tetanus merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan bakteri Clostridium tetani. Penyakit ini ditandai dengan kekakuan otot, kejang hebat, hingga gangguan pernapasan yang dapat mengancam nyawa. Meskipun dapat dicegah melalui imunisasi, kasus tetanus pada orang dewasa masih ditemukan, terutama pada mereka yang tidak mendapatkan vaksin penguat (booster) secara rutin.
Sebagian besar masyarakat mengenal tetanus sebagai penyakit yang muncul setelah tertusuk paku atau mengalami luka kotor. Namun, luka kecil di rongga mulut ternyata juga dapat menjadi pintu masuk bakteri penyebab tetanus. Kondisi ini jarang dilaporkan sehingga sering tidak disadari baik oleh pasien maupun tenaga kesehatan.
Seorang pria berusia 54 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri gigi yang bermula setelah membersihkan sela gigi menggunakan tusuk gigi hingga menyebabkan perdarahan. Sekitar satu minggu kemudian, pasien mulai merasakan baal pada mulut, kesulitan membuka mulut, kekakuan leher, dan nyeri yang semakin berat. Kondisi tersebut terus berkembang hingga muncul gejala khas tetanus berupa trismus (rahang terkunci), opisthotonus (tubuh melengkung ke belakang akibat kejang otot), dan risus sardonicus atau ekspresi wajah yang tampak seperti tersenyum kaku.
Pasien segera menjalani pencabutan gigi dan pembersihan jaringan yang dicurigai menjadi sumber infeksi. Selanjutnya, ia dirawat di unit perawatan intensif (ICU) selama 19 hari. Berbagai terapi diberikan, termasuk imunoglobulin tetanus, antibiotik, obat penenang, relaksan otot, ventilasi mekanik, serta dukungan nutrisi. Selama perawatan, pasien mengalami sejumlah komplikasi seperti pneumonia akibat penggunaan ventilator, infeksi jamur saluran kemih, gangguan elektrolit, dan penurunan kadar albumin darah. Namun, seluruh komplikasi tersebut berhasil ditangani melalui pendekatan multidisiplin. Pada akhir perawatan, pasien menunjukkan perbaikan yang signifikan dan pulih tanpa gangguan neurologis.
Kasus ini menunjukkan bahwa luka kecil di rongga mulut tidak selalu dapat dianggap sepele. Lingkungan rongga mulut yang relatif anaerob serta adanya jaringan nekrotik dapat menjadi tempat ideal bagi spora Clostridium tetani untuk berkembang dan menghasilkan racun.
Selain itu, kasus ini menggambarkan bahwa keberhasilan pengobatan tetanus tidak hanya bergantung pada pemberian antitoksin atau antibiotik. Pengendalian kejang, stabilisasi fungsi tubuh, ventilasi mekanik, pengendalian infeksi sekunder, serta dukungan nutrisi yang adekuat merupakan bagian penting dari terapi komprehensif di ICU. Penanganan yang cepat dan terkoordinasi terbukti mampu meningkatkan peluang kesembuhan pasien meskipun mengalami perjalanan penyakit yang berat.
Tetanus dapat berasal dari sumber yang tidak biasa, termasuk luka kecil akibat manipulasi gigi dengan tusuk gigi. Kasus ini mengingatkan bahwa kebersihan rongga mulut dan kehati-hatian saat melakukan tindakan pada gigi sangat penting. Selain itu, imunisasi tetanus secara lengkap dan pemberian vaksin penguat secara berkala tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyakit yang berpotensi mematikan ini. Kewaspadaan terhadap gejala awal dan penanganan intensif yang cepat dapat memberikan hasil yang baik bahkan pada kasus tetanus berat.
Penulis: Dr. Kohar Hari Santoso, dr., Sp.An-TI. Subsp.An.Ped(K)., Subsp.T.I.(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Edward Y, Santoso KH. Uncommon intraoral source of generalized tetanus: Case report and review of intensive care strategies. IDCases. 2026 Jan 1;43. doi:10.1016/j.idcr.2026.e02530





