¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Profil Pasien Pembesaran Kelenjar Getah Bening Di Rsud Dr. Soetomo Surabaya: Studi Pada 945 Tindakan Biopsi Jarum Halus

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pembesaran kelenjar getah bening atau yang dalam istilah medis disebut limfadenopati merupakan temuan klinis yang sering dijumpai dalam praktik sehari-hari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari infeksi ringan, reaksi peradangan, hingga keganasan (kanker). Untuk mengetahui penyebab pastinya, dokter biasanya melakukan pemeriksaan penunjang berupa Fine-Needle Aspiration Biopsy (FNAB), yaitu pengambilan sampel sel dari benjolan menggunakan jarum berukuran sangat halus.

Sebuah penelitian deskriptif telah dilakukan di Departemen Patologi Anatomi RSUD Dr. Soetomo Surabaya, yang merupakan rumah sakit tersier rujukan utama di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening yang menjalani tindakan FNAB sepanjang tahun 2019.

Dari total 945 pasien yang menjadi subjek penelitian, diperoleh distribusi sebagai berikut: Pasien perempuan tercatat sebanyak 535 orang (56,6%), sementara pasien laki-laki sebanyak 410 orang (43,4%), 
kelompok usia 41–60 tahun merupakan yang paling banyak ditemukan, disusul oleh kelompok usia di atas 60 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pembesaran kelenjar getah bening yang memerlukan pemeriksaan biopsi cenderung lebih sering terjadi pada usia paruh baya hingga lanjut. Hasil Diagnosis
Dari seluruh pemeriksaan FNAB yang dilakukan, diperoleh rincian diagnosis sebagai berikut: Lesi non-ganas (jinak): 499 kasus (52,8%), Lesi ganas (kanker): 428 kasus (45,3%), Sel atipikal (belum dapat dipastikan jinak atau ganas): 11 kasus (1,2%), Sampel tidak memadai: 7 kasus (0,7%).

Temuan di atas memberikan beberapa informasi penting. Pertama, lebih dari separuh kasus pembesaran kelenjar getah bening yang menjalani FNAB di rumah sakit rujukan ternyata bersifat jinak. Hal ini sejalan dengan pemahaman medis bahwa tidak semua benjolan pada kelenjar getah bening berarti kanker.

Namun demikian, proporsi kasus ganas yang mencapai 45,3% tidak dapat diabaikan. Angka ini tergolong tinggi dan mencerminkan bahwa di populasi pasien yang dirujuk ke rumah sakit tersier, kemungkinan ditemukannya keganasan cukup besar. Oleh karena itu, pembesaran kelenjar getah bening yang menetap, membesar secara progresif, atau teraba keras harus segera mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Bagi masyarakat awam, disarankan untuk tidak mengabaikan keberadaan benjolan pada leher, ketiak, atau selangkangan yang tidak sembuh dalam 2–4 minggu. Pemeriksaan FNAB merupakan prosedur yang aman, cepat, dan dapat memberikan petunjuk diagnosis yang sangat berarti bagi penanganan selanjutnya.

Artikel ini disadur dari: Nihayati, Z., Kurniasari, N., Sari, A. S. (2026). Characteristics of Patients with Lymphadenopathy Undergoing Fine-Needle Aspiration Biopsy at a Tertiary Hospital in Surabaya, Indonesia. International Journal of Scientific Advances, 7(2), 296-300.

Penulis: Nila Kurniasari, dr., Sp.PA(K).

Dapat diakses di: 

AKSES CEPAT