Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) mensyaratkan kolaborasi lintas sektor, namun hingga saat ini banyak perusahaan belum secara optimal mengintegrasikan agenda global tersebut ke dalam rencana strategis mereka. Walaupun pelaporan keberlanjutan terbukti mampu memberikan manfaat finansial sekaligus merepresentasikan komitmen perusahaan, kajian terdahulu masih banyak yang berfokus pada tekanan institusional dalam periode waktu yang sangat terbatas. Kesenjangan penelitian dalam literatur saat ini adalah masih kurangnya eksplorasi mengenai determinan internal perusahaan, khususnya pada aspek tata kelola korporat, yang memengaruhi tingkat pengungkapan SDGs dengan rentang waktu yang lebih panjang dan komprehensif.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kondisi struktural yang membentuk pengungkapan SDGs pada perusahaan-perusahaan di negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dengan fokus menelaah peran dari kualitas regulasi, tata kelola perusahaan, dan representasi perempuan di dewan direksi (women on boards). Data yang digunakan merangkum laporan dari 1.244 perusahaan publik lintas industri yang tersebar di 21 negara (baik negara maju maupun berkembang) anggota APEC. Pemilihan periode observasi dari tahun 2019 hingga 2023 sangat relevan karena bertepatan dengan seruan langsung Sekretaris Jenderal PBB pada 2019 untuk mempercepat capaian SDGs pada 2030, sekaligus menangkap dinamika sebelum hingga sesudah pandemi COVID-19
Secara teoritis, riset ini memberikan kontribusi dalam memperkaya literatur pelaporan keberlanjutan dengan mengkombinasikan teori keagenan, teori institusional, dan teori sosialisasi gender untuk membedah pengaruh di tingkat sistemik, korporat, dan individu. Keterbaruan (novelty) dari kajian ini terletak pada analisis komparatif yang membuktikan bahwa efektivitas faktor-faktor pendorong pengungkapan SDGs tidaklah seragam, melainkan sangat bergantung pada konteks kematangan ekonomi dan regulasi di masing-masing negara. Secara praktis, studi ini memberikan panduan bagi pembuat kebijakan untuk merancang regulasi yang tepat sasaran, serta mendorong perusahaan untuk menginkorporasikan keberagaman gender ke dalam struktur tata kelola mereka. Riset ini pun secara spesifik diformulasikan untuk menjawab permasalahan: Bagaimana kualitas regulasi, tata kelola perusahaan, dan komposisi perempuan pada dewan direksi mampu mendorong tingkat pengungkapan SDGs lintas negara APEC?
Metode Penelitian dan Hasil
Penelitian ini mengaplikasikan metode kuantitatif melalui pendekatan regresi linier berganda dengan model fixed effects. Data yang diolah merupakan data sekunder yang ditarik dari database Refinitiv Eikon serta indikator kualitas regulasi dari World Governance Indicator (WGI). Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa tingginya kualitas regulasi, tata kelola perusahaan yang kuat, dan kehadiran direktur perempuan membawa pengaruh positif dan signifikan dalam meningkatkan level pengungkapan SDGs. Menariknya, uji moderasi/pengelompokan negara menyingkap bahwa pada negara maju, peningkatan pelaporan SDGs didorong secara dominan oleh kekuatan regulasi negara dan kehadiran perempuan di dewan direksi, sementara tata kelola perusahaan internal tidak memberikan efek signifikan karena standar pelaporan di sana sudah cenderung patuh pada instrumen hukum. Di sisi lain, bagi negara berkembang dengan sistem institusi dan regulasi yang masih rentan, tata kelola perusahaan internal dan peran perempuan di dewan direksi justru memegang peranan krusial sebagai substitusi dari lemahnya tekanan regulasi. Terlepas dari perbedaan konteks negara tersebut, keberadaan perempuan di dewan terbukti secara konsisten mampu memperkuat transparansi pengungkapan SDGs karena orientasi etis mereka yang kental terhadap nilai kepedulian sosial dan lingkungan.
Penulis: Fikri Asydiqi, Mahfud Sholihin, Iman Harymawan, dan Desi Adhariani
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





