UNAIR NEWS – Pasca terjadinya gempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) 15 Agustus lalu, pelayanan kesehatan rujukan masih menjadi kendala besar. Kondisi tersebut salah satunya dipicu oleh jarak dan waktu tempuh, serta gempa susulan yang masih kerap menghantui. Korban yang memerlukan rujukan harus menempuh perjalanan lebih dari lima jam untuk mencapai rumah sakit rujukan di Borong yang berada di wilayah Pantai Selatan Flores.
Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga () bersama FK UNAIR, RSUD Dr Soetomo, Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) NTT, Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI), EMT IDI Jawa Timur, MDMC, MER-C, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram/RS Universitas Mataram, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo Kendari, RSMA Sumbawa, dan RSU Lombok Barat, menghadirkan layanan spesialistik berupa rumah sakit lapangan di Dampek.
Rumah Sakit Kolaboratif
Rumah sakit lapangan tersebut dinamai Rumah Sakit Lapangan Kolaboratif Dampek (RSLK Dampek). Penamaan tersebut dipilih lantaran rumah sakit tersebut berdiri atas inisasi dan kolaborasi bersama. Kolaborasi tersebut melibatkan berbagai unsur tenaga kesehatan. Mulai dari dokter spesialis, dokter umum, apoteker, perawat, radiografer, hingga tenaga pendukung lainnya. Kehadiran berbagai disiplin ini memungkinkan RSKKA memberikan pelayanan yang lebih komprehensif sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur selaku Ketua Health Emergency Operation Center (HEOC) telah memberikan restu bagi pendirian RSLK Dampek ini dan akan memberikan dukungan bagi operasionalnya. Melalui RSLK ini, ia berharap pasien dari posko pengungsian dari wilayah kerja Puskesmas Dampek, Pota, Welang, Benteng Jawa, dan sekitarnya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif. Di sisi lain, keberadaan rumah sakit tersebut juga akan mempersingkat waktu tempuh perjalanan, beban biaya bagi pasien dan keluarga bisa lebih ekonomis.
Tangani Kasus Trauma hingga Operasi SC
Berdasarkan kebutuhan di lapangan, RSLK menghadirkan Pelayanan Spesialistik Bedah-Kebidanan yang berada di posko pengungsian SMP 1 dan Pelayanan Spesialistik Medik yang berada di SMK. Pelayanan Spesialistik Medik tersedia pelayanan dokter spesialis Penyakit Dalam, spesialis Penyakit Anak, dan konsultasi psikologi. Pelayanan Spesialistik Bedah-Kebidanan mencakup pelayanan dokter spesialis Bedah Umum, Orthopedi, Anestesi, Kebidanan dan Kandungan dan Bedah Anak.

Pasien yang membutuhkan tindakan operasi akan dikirim ke RSKKA yang berlabuh di Teluk Nanga Lirang untuk selanjutnya dilakukan pembedahan di kamar operasi RSKKA. Hingga Senin (24/8/2026), RSKKA telah melakukan tindakan empat operasi antara lain debridemen dan amputasi.
Ny Osifina Zeliman, salah satu warga Dampek mengaku bersyukur atas keberadaan RSKKA. Ia yang semula rencananya akan dirujuk ke RSUD Borong merasa ragu lantaran jarak dan waktu tempuh yang lama. Selain itu, gempa susulan yang masih sering terjadi semakin menambah ketakutannya.
鈥淪aya merasa terharu dan sangat bersyukur dengan adanya RSLK Dampek ini dan bisa menjalani operasi di RSKKA yang berlabuh di kampung kami,鈥 kata Osifina berulang-ulang.
Selain Osfina, RSKKA juga baru saja melakukan operasi section caesarean (SC) pada Selasa (25/8/2026) pagi. Operasi tersebut dilakukan pada seorang ibu dengan kehamilan lewat bulan dengan cairan ketuban yang sedikit. Dalam hal ini, RSKKA berkolaborasi dengan FK/RS Universitas Mataram.
Bagi masyarakat di Dampek, Pota, Weleng, Benteng Jawa dan wilayah pantai utara Manggarai Timur lainnya, kehadiran RSLK Dampek dan ketersedian kamar operasi RSKKA bukan sekadar menghadirkan fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi upaya untuk mengurangi hambatan geografis dalam memperoleh pelayanan medis.
Di tengah proses pemulihan pascagempa, pelayanan kesehatan yang dekat, cepat dan kolaboratif menjadi bagian penting dari upaya memastikan masyarakat tetap mendapatkan hak atas pelayanan Kesehatan yang sebaik-baiknya.
Penulis: Tim RSKKA
Editor: Yulia Rohmawati





