东京热

东京热 Official Website

Peran Inhibitor PCSK9 Dalam Melindungi Pasien Penyakit Arteri Perifer

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penyakit arteri perifer atau Peripheral Artery Disease (PAD) adalah kondisi di mana pembuluh darah yang mengalirkan darah ke kaki dan tungkai mengalami penyempitan akibat penumpukan lemak (aterosklerosis). Kondisi ini bukan sekadar masalah kaki saja. Pasien PAD justru memiliki risiko serangan jantung, stroke, dan kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang pernah mengalami serangan jantung saja. Ironisnya, meski berbahaya, PAD sering kali kurang mendapat perhatian dan penanganan yang cukup. Kini, sebuah tinjauan ilmiah terbaru membawa kabar terkini: inhibitor PCSK9, golongan obat penurun kolesterol generasi terbaru, terbukti memberikan manfaat nyata bagi pasien PAD.

PAD terjadi ketika plak kolesterol menumpuk di dinding pembuluh darah kaki, menyebabkan aliran darah terhambat. Gejalanya bisa berupa nyeri atau kram di kaki saat berjalan (klaudikasio intermiten), bahkan pada kasus berat dapat berujung pada luka yang tak kunjung sembuh dan amputasi. Salah satu pemicu utama perburukan PAD adalah kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) yang tinggi dalam darah. Selama ini, obat golongan statin adalah tulang punggung terapi penurun kolesterol. Namun, sebagian pasien tidak mampu mencapai target kolesterol meski sudah mengonsumsi statin dosis maksimal, baik karena efek samping maupun karena respons tubuh yang kurang optimal. Di sinilah inhibitor PCSK9 hadir sebagai terobosan.

PCSK9 adalah protein dalam tubuh yang bertugas ‘mendegradasi’ reseptor LDL di hati. Reseptor ini berfungsi menyingkirkan kolesterol jahat dari peredaran darah. Semakin banyak PCSK9, semakin sedikit reseptor LDL yang aktif, sehingga kolesterol menumpuk di darah. Inhibitor PCSK9, seperti alirocumab dan evolocumab, adalah antibodi monoklonal yang bekerja dengan cara memblokir protein PCSK9 ini. Hasilnya, lebih banyak reseptor LDL yang tetap aktif di hati, kolesterol jahat dalam darah pun berkurang secara dramatis. Kedua obat ini diberikan melalui suntikan di bawah kulit, setiap dua minggu atau sebulan sekali, dan sudah disetujui oleh FDA sejak 2015.

Penlitian ini adalah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang menganalisis secara menyeluruh hasil dari berbagai studi yang ada. Data dikumpulkan dari enam studi yang melibatkan total 4.563 pasien PAD, kemudian menganalisis manfaat inhibitor PCSK9 terhadap berbagai luaran klinis. Hasil utama yang ditemukan meliputi: 1. Penurunan risiko kejadian kardiovaskular mayor (MACE) sebesar 23%, meliputi serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit jantung. Ini adalah temuan yang bermakna secara klinis bagi pasien yang sudah berisiko sangat tinggi. 2. Penurunan kolesterol LDL rata-rata sebesar 55,76 mg/dL, jauh lebih besar dibandingkan terapi standar, membuktikan efektivitas obat ini sebagai pelengkap statin. 3. Tren positif untuk amputasi mayor, angka kematian keseluruhan, dan kemampuan berjalan, namun belum mencapai signifikansi statistik kemungkinan karena jumlah studi yang masih terbatas. Profil keamanan kedua obat, alirocumab dan evolocumab, secara keseluruhan dinilai baik, dengan angka penghentian terapi yang rendah dan tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam efek samping serius.

Pasien PAD termasuk dalam kelompok risiko sangat tinggi, bahkan melebihi sebagian besar pasien penyakit jantung koroner biasa. Pedoman European Society of Cardiology (ESC) dan European Atherosclerosis Society (EAS) merekomendasikan inhibitor PCSK9 untuk pasien risiko sangat tinggi yang belum mencapai target LDL dengan terapi statin dan ezetimibe secara maksimal. Namun, dalam praktiknya, penggunaan inhibitor PCSK9 pada pasien PAD masih jauh dari optimal. Data dari Amerika Serikat menunjukkan adanya kesenjangan akses dan ketimpangan dalam inisiasi terapi ini, bahkan pada pasien yang jelas-jelas memiliki indikasi klinis kuat. Temuan penelitian ini diharapkan dapat mendorong para klinisi untuk lebih aktif mempertimbangkan inhibitor PCSK9 sebagai bagian dari strategi pencegahan sekunder pada pasien PAD.

Selain manfaat kardiovaskular, terdapat pula indikasi bahwa inhibitor PCSK9 dapat memperbaiki kemampuan berjalan pasien. Meskipun hasilnya belum konsisten, peningkatan ini diduga bukan semata dari perbaikan aliran darah utama, melainkan dari efek pleiotropik obat, seperti stabilisasi plak, perbaikan fungsi endotel, dan efek antiinflamasi pada dinding pembuluh darah. Studi ini menjelaskan bahwa inhibitor PCSK9 bukan lagi sekadar obat ‘tambahan’ bagi pasien kolesterol tinggi. Bagi pasien PAD yang sudah mendapat statin dosis maksimal namun belum mencapai target kolesterol, obat ini adalah pilihan yang terbukti efektif dan aman untuk mengurangi risiko kejadian kardiovaskular yang mengancam jiwa.

Penulis Artikel Popular: Pandit Bagus Tri Saputra, Ali Mustofa, J. Nugroho Eko Putranto, Firas Farisi Alkaff

Referensi:

Ariyanti D, Rayyan MIR, Shabri HA, Nurwahyudi N, Husniatama MD, Erisadana RN, Larasati S, Mustofa A, Faizah NN, Putranto JNE, Alkaff FF, Saputra PBT. Beyond maximally tolerated statins: PCSK9 inhibitors as a critical adjunct for cardiovascular risk reduction in peripheral artery disease-a systematic review and meta-analysis. Curr Med Res Opin. 2026 Apr 30:1-13. doi: 10.1080/03007995.2026.2662127.

AKSES CEPAT