东京热

东京热 Official Website

Efek Kesehatan Mikroplastik yang Terhirup: Apa yang Perlu Kita Tahu?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Produksi dan penggunaan plastik yang sangat masif di seluruh dunia telah menyebabkan lebih dari 60% limbah plastik terakumulasi di lingkungan, sementara hanya sekitar 9% yang berhasil didaur ulang. Sisanya bertahan selama puluhan tahun dan perlahan terfragmentasi menjadi mikroplastik, yaitu partikel plastik berukuran sangat kecil yang kini tersebar luas, termasuk di udara. Berbeda dari anggapan sebelumnya yang menganggapnya sekadar partikel atmosfer biasa, mikroplastik kini dipahami sebagai polutan udara yang berpotensi berbahaya karena ukurannya memungkinkan untuk terhirup dan masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru. Namun demikian, mekanisme pasti bagaimana mikroplastik memengaruhi kesehatan manusia masih belum sepenuhnya dipahami. Oleh karena itu, berbagai penelitian eksperimental baik secara in vivo (pada hewan) maupun in vitro (pada sel di laboratorium) telah dilakukan untuk mengevaluasi dampaknya.

Hasil dari berbagai studi menunjukkan bahwa sebagian besar mikroplastik, terutama yang berbahan polystyrene, dapat memicu berbagai respons biologis yang merugikan, seperti stres oksidatif, inflamasi, apoptosis, dan fibrosis. Stres oksidatif terjadi akibat peningkatan produksi radikal bebas yang merusak struktur sel, sementara inflamasi muncul sebagai respons sistem imun terhadap partikel asing. Apoptosis atau kematian sel terprogram juga ditemukan meningkat, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu integritas jaringan paru. Selain itu, fibrosis atau pembentukan jaringan parut dapat terjadi akibat paparan kronis, yang berpotensi menurunkan elastisitas dan fungsi paru-paru.

Efek mikroplastik juga bervariasi tergantung pada jenis polimernya. Polypropylene terbukti meningkatkan produksi sitokin inflamasi dan menarik sel imun ke jaringan paru, menunjukkan keterlibatan respons imun dalam proses patologis. Polyethylene diketahui dapat meningkatkan respons kontraksi saluran napas dan cenderung melekat pada jaringan, yang mencerminkan bagaimana partikel udara dapat terakumulasi di saluran respirasi. Sementara itu, polyamide dapat menyebabkan inflamasi saluran napas, peningkatan produksi lendir, dan fibrosis, sedangkan polyvinyl chloride (PVC) berkontribusi pada peningkatan radikal bebas dan inflamasi sistemik. Meskipun sebagian besar studi menunjukkan hasil yang konsisten, terdapat satu penelitian yang tidak menemukan hubungan signifikan antara paparan mikroplastik dengan beberapa parameter fungsi fisiologis dan biokimia, menunjukkan bahwa masih ada variabilitas yang perlu diteliti lebih lanjut.

Secara keseluruhan, baik studi in vivo maupun in vitro menunjukkan hasil yang relatif konsisten bahwa mikroplastik memiliki potensi merusak paru-paru dan bahkan organ lain. Variasi dalam ukuran partikel, dosis paparan, serta metode penelitian tidak menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan, yang memperkuat kesimpulan bahwa dampak negatif mikroplastik cukup robust. Selain itu, kualitas bukti dari studi-studi tersebut tergolong tinggi karena sebagian besar menggunakan desain eksperimental terkontrol. Dengan demikian, diperlukan penelitian lanjutan yang lebih berfokus pada jenis plastik yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti polyethylene dan polypropylene, agar dapat memberikan gambaran risiko yang lebih relevan terhadap paparan manusia di dunia nyata.

Dengan meningkatnya paparan mikroplastik di lingkungan, implikasi kesehatan masyarakat menjadi semakin relevan. Paparan kronis dalam jangka panjang, meskipun dalam dosis rendah, berpotensi menimbulkan efek kumulatif yang belum sepenuhnya dipahami. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan yang lebih berfokus pada jenis plastik yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti polyethylene dan polypropylene, serta studi epidemiologi pada manusia untuk memahami dampak nyata dalam populasi. Selain itu, upaya pengurangan penggunaan plastik, peningkatan sistem daur ulang, dan kesadaran masyarakat terhadap polusi mikroplastik menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko kesehatan di masa depan.

Judul: The Health Effect of Inhaled Microplastic in Vivo And In Vitro: A Systematic Review

Penulis: Kusuma S. Lestari, Gondo Mastutik

Link Ful text:

Link daftar isi : no 29.

DOI: https://doi.org/10.47836/mjmhs.21.s10.29

Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences (2025) 21(SUPP10):147-155. doi:10.47836/mjmhs.21.s10.29

AKSES CEPAT