UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Kimia (Himaki) ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui program pengabdian masyarakat pada Minggu hingga Selasa (19-21/07/2026), Himaki UNAIR menginisiasi pembuatan biopestisida berbahan dasar alami dari ekstrak apel dan serai. Inovasi bernama STROCARE ini hadir untuk membantu pengelolaan kebun stroberi di Kota Batu yang pengelolaanya berlangsung mandiri oleh warga binaan yayasan disabilitas (ODGJ).
Menjawab Tantangan Pertanian dan Kebutuhan Mitra
Inisiatif ini bermula dari keinginan mahasiswa untuk memberikan kontribusi nyata yang berfokus pada dunia pertanian dan usaha. Kebun stroberi di Kota Batu tersebut dikelola secara penuh oleh warga binaan yayasan disabilitas dari Sidoarjo yang telah lolos seleksi kestabilan emosi.
Namun, pengelola kebun sering kali menghadapi kendala serius akibat cuaca ekstrem. Perwakilan tim Himaki UNAIR menjelaskan tantangan yang para pengelola kebun hadapi. “Struggle-nya itu waktu musim hujan atau musim-musim seperti ini, rata-rata jamur sama hama sering menyerang kebun mereka. Waktu kami wawancara, mereka sebenarnya ingin lepas dari pestisida sintetis agar bisa produksi pestisida sendiri dan menekan pengeluaran,” ujar Yoga, perwakilan tim Himaki UNAIR.

Melihat penurunan pendapatan pengelola yang lumayan signifikan akibat serangan hama, tim Himaki UNAIR tergerak untuk memberikan solusi terintegrasi melalui biopestisida yang hemat biaya dan ramah lingkungan.
Riset Berbasis Kimia: Kombinasi Apel dan Serai
Proses formulasi produk biopestisida STROCARE berawal dengan riset mendalam mengenai kandungan senyawa aktif pencegah hama dan jamur. “Kita riset dulu senyawa apa yang selama ini digunakan untuk mengusir hama dan jamur. Ternyata kita temukan apel kaya akan flavonoid, tanin, dan polifenol, sedangkan serai mengandung sitronelal dan geraniol yang sangat efektif untuk mengatasi hama dan jamur,” tuturnya.
Sebelum menerapkan langsung, formulasi ini telah melewati berbagai tahap pengujian mandiri. Tim melakukan uji efektivitas pada bibit stroberi dan mencatat tingkat keasaman (pH) produk yang ideal. “Kami semprot formulasi kita dan itu berhasil, jamurnya hilang dan tanaman stroberinya juga tidak mati. PH-nya juga sudah sesuai dengan standar pestisida pada umumnya, yaitu sekitar 5,7,” tambahnya.
Keunggulan Biopestisida Ramah Lingkungan
Selain menekan biaya operasional kebun, STROCARE menawarkan keunggulan utama pada aspek keberlanjutan tanah dan ekosistem.
“Kalau pestisida sintetis itu kan kimia, jadi bisa merusak struktur dan nutrisi tanah. Nah, biopestisida kita ini masih alami, bisa didegradasi oleh mikroba tanah, dan justru bisa menyuburkan tanah,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, tim Himaki UNAIR menyadari pentingnya edukasi yang berkelanjutan bagi para pengelola kebun di lokasi pengabdian. “Respon mereka sangat baik dan senang. Namun untuk memastikan mereka benar-benar paham, kita akan ke sana lagi untuk memberikan buku panduan agar mereka tetap bisa memproduksi biopestisida ini secara mandiri,” ujarnya.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





