Kolibasilosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan menyerang berbagai jenis ternak, seperti sapi, babi, kambing, domba, kuda, serta unggas. Penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi yang besar akibat penurunan produktivitas, meningkatnya angka kesakitan, hingga kematian ternak. Salah satu faktor virulensi penting E. coli adalah kemampuannya membentuk biofilm, yaitu kumpulan sel bakteri yang melekat pada suatu permukaan dan terbungkus matriks ekstraseluler (extracellular polymeric substances/EPS). Pembentukan biofilm membuat bakteri menjadi lebih tahan terhadap antibiotik, desinfektan, maupun respons imun inang, sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati.
Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak rasional telah menyebabkan meningkatnya resistensi antimikroba pada E. coli. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengendalian yang lebih aman dan efektif, salah satunya menggunakan bahan alam. Propolis lebah madu diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, fenol, tanin, saponin, alkaloid, terpenoid, dan glikosida yang memiliki aktivitas antimikroba sekaligus berpotensi menghambat pembentukan biofilm. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan propolis lebah madu sebagai agen antibiofilm terhadap E. coli secara in vitro.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi dan Mikologi Fakultas Kedokteran Hewan 东京热. Isolat E. coli ATCC 25922 digunakan sebagai bakteri uji. Propolis lebah madu diencerkan menggunakan metode mikrodilusi untuk memperoleh lima konsentrasi, yaitu 0,39; 0,78; 1,56; 3,125; dan 6,25 mg/mL. Uji penghambatan biofilm dilakukan menggunakan metode microtiter plate assay dengan kontrol positif dan kontrol negatif. Setelah inkubasi selama tiga hari, biofilm difiksasi menggunakan paraformaldehida, diwarnai dengan 0,1% crystal violet, kemudian diukur nilai absorbansinya menggunakan ELISA reader pada panjang gelombang 595 nm. Nilai optical density (OD) digunakan sebagai indikator banyaknya biofilm yang terbentuk, di mana semakin rendah nilai OD menunjukkan semakin sedikit biofilm yang dihasilkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai OD seiring meningkatnya konsentrasi propolis. Rata-rata nilai OD pada kontrol positif sebesar 0,205, sedangkan pada konsentrasi propolis 0,39; 0,78; 1,56; 3,125; dan 6,25 mg/mL berturut-turut sebesar 0,171; 0,142; 0,115; 0,099; dan 0,079. Analisis statistik menggunakan Post Hoc Dunn Test menunjukkan bahwa konsentrasi 3,125 mg/mL dan 6,25 mg/mL tidak berbeda nyata dengan kontrol negatif (p>0,05), yang menandakan kedua konsentrasi tersebut telah mampu menghambat pembentukan biofilm secara efektif. Selain itu, semakin tinggi konsentrasi propolis yang diberikan, semakin besar pula aktivitas antibiofilm yang dihasilkan.
Aktivitas antibiofilm propolis diduga berasal dari kandungan flavonoid yang mampu mengganggu proses adhesi bakteri pada permukaan, menghambat mekanisme quorum sensing, menekan pembentukan matriks EPS, serta menghambat ekspresi gen-gen yang berperan dalam pembentukan biofilm, seperti icaA, icaD, CsgA, CsgB, CsgD, dan protein DnaK. Hambatan terhadap pembentukan curli fimbriae dan matriks biofilm tersebut menyebabkan E. coli kehilangan kemampuan membentuk biofilm secara optimal.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa propolis lebah madu memiliki potensi sebagai agen antibiofilm alami terhadap Escherichia coli secara in vitro. Konsentrasi minimum yang efektif menghambat pembentukan biofilm adalah 3,125 mg/mL dan 6,25 mg/mL. Temuan ini menunjukkan bahwa propolis berpotensi dikembangkan sebagai alternatif pendukung dalam pengendalian infeksi E. coli, khususnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik dan membantu mengatasi permasalahan resistensi antimikroba
Penulis : Yulianna Puspitasari, drh., MVSc., PhD
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:
Puspitasari Yulianna, Grace Amazing, Khairullah Rafif Aswin, Raharjo Mulyo Hartanto, Rachmawati Kadek, Suprihatini Endang, Hisyam Madarina Atikah Mirza (2026). The Effect of Honeybee Propolis on Escherichia coli Biofilm Formation in vitro . Asian Journal of Dairy and Food Research. 45(2): 326-330. doi: 10.18805/ajdfr.DRF-403.





