Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman ikan air tawar tertinggi di dunia. Di antara kekayaan tersebut, ikan cupang liar (wild Betta) menjadi kelompok ikan endemik yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi yang tinggi. Berbeda dengan cupang hias yang telah lama dibudidayakan, cupang liar hidup secara alami di sungai air hitam dan hutan rawa gambut Kalimantan. Namun, keberadaan mereka kini menghadapi ancaman serius akibat degradasi habitat dan eksploitasi yang terus meningkat.
Kalimantan merupakan salah satu pusat keanekaragaman ikan cupang liar dunia. Sebanyak 29 spesies cupang liar tercatat menghuni wilayah tersebut dan dikelompokkan ke dalam 11 kelompok spesies. Banyak di antaranya merupakan spesies endemik dengan sebaran yang sangat terbatas sehingga rentan terhadap perubahan lingkungan.
Menghuni Habitat yang Sangat Spesifik
Cupang liar Kalimantan hidup pada habitat yang unik, seperti sungai air hitam (blackwater streams), hutan rawa gambut, dataran banjir berhutan, dan sungai berair asam. Habitat tersebut memiliki tingkat keasaman tinggi (pH 3,5–6,0), kandungan tanin yang tinggi, oksigen terlarut rendah, serta dasar perairan yang dipenuhi serasah daun.
Meskipun kondisi tersebut tergolong ekstrem bagi sebagian besar ikan air tawar, cupang liar mampu beradaptasi melalui keberadaan organ labirin yang memungkinkan mereka mengambil oksigen langsung dari udara. Adaptasi ini menjadi salah satu faktor yang mendukung kelangsungan hidup mereka di habitat yang miskin oksigen.
Habitat Terus Menyusut
Keberlangsungan hidup cupang liar semakin terancam akibat perubahan bentang alam di Kalimantan. Konversi hutan rawa gambut menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri, aktivitas pertambangan, pembangunan infrastruktur, kebakaran lahan, serta pencemaran perairan menjadi faktor utama yang menyebabkan penyusutan habitat alami spesies-spesies tersebut.
Selain kerusakan habitat, perdagangan ikan hias juga memberikan tekanan tambahan. Beberapa spesies endemik masih diperdagangkan sebagai ikan hias, sementara pengambilan dari alam belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem pemanfaatan yang berkelanjutan.
Banyak Spesies Berstatus Terancam
Hasil kajian menunjukkan bahwa kondisi konservasi cupang liar Kalimantan cukup memprihatinkan. Dari 29 spesies yang ditinjau, enam spesies berstatus Endangered (Terancam Punah) dan tiga spesies berstatus Critically Endangered (Kritis) berdasarkan Daftar Merah IUCN. Beberapa spesies lainnya bahkan masih berstatus Data Deficient, yang menunjukkan bahwa informasi mengenai populasi dan kondisi di habitat alaminya masih sangat terbatas.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena sebagian besar spesies memiliki wilayah penyebaran yang sempit. Beberapa di antaranya hanya ditemukan pada satu daerah aliran sungai tertentu sehingga kerusakan habitat dalam skala lokal saja dapat berdampak besar terhadap kelangsungan populasinya.
Budidaya Mendukung Konservasi
Selain perlindungan habitat, artikel tersebut menyoroti pentingnya pengembangan teknologi budidaya (captive breeding) sebagai bagian dari strategi konservasi ex situ. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap populasi liar sekaligus menjaga keberlanjutan spesies yang terancam punah.
Saat ini, budidaya beberapa spesies cupang liar telah berhasil dilakukan secara terbatas. Namun, pengembangan protokol budidaya yang berbasis ilmiah masih diperlukan, terutama terkait pengelolaan kualitas air, pemeliharaan induk, reproduksi, hingga pelestarian keragaman genetik.
Konservasi Memerlukan Kolaborasi
Upaya pelestarian cupang liar tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Perlindungan habitat, penguatan regulasi perdagangan ikan hias, pengembangan teknologi budidaya, penelitian berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran masyarakat perlu dilakukan secara bersamaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, komunitas penghobi, dan masyarakat lokal menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan spesies-spesies endemik tersebut.
Keberadaan cupang liar Kalimantan bukan hanya mencerminkan tingginya keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga menjadi indikator kesehatan ekosistem rawa gambut dan sungai air hitam. Oleh karena itu, konservasi berbasis ilmu pengetahuan menjadi langkah penting untuk memastikan kekayaan hayati tersebut tetap lestari bagi generasi mendatang.
Sumber:
Rohmy, S., Priyadi, A., Cindelaras, S., Gunawan, Sutrisno, Permana, A., … & Budi, D. S. (2026). Bioecology, Conservation Status and Breeding Efforts of Wild Betta Fish (Teleostei: Osphronemidae) in Kalimantan, Indonesia. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems, 36(6), e70399.





