Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu permasalahan sosial dan kesehatan masyarakat yang bersifat multidimensional dengan implikasi yang luas terhadap kualitas sumber daya manusia, stabilitas sosial, keamanan, serta keberlanjutan pembangunan daerah. Perilaku penyalahgunaan narkoba tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik individu, tetapi juga terbentuk melalui interaksi yang kompleks antara kondisi psikologis, lingkungan keluarga, kelompok sebaya, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, kondisi sosial-ekonomi, hingga tingkat ketersediaan narkoba. Kompleksitas hubungan antarfaktor tersebut menyebabkan proses identifikasi wilayah prioritas serta penyusunan kebijakan pencegahan tidak lagi memadai apabila hanya didasarkan pada indikator tunggal ataupun pendekatan konvensional. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya pemerintah menuntut adanya mekanisme pengambilan keputusan yang mampu mengidentifikasi faktor-faktor risiko dominan sekaligus memetakan tingkat kerawanan wilayah secara objektif, sistematis, dan berbasis bukti ilmiah. Dalam konteks Provinsi Bengkulu, dinamika peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba di berbagai kabupaten/kota mempertegas urgensi pengembangan suatu kerangka analisis yang mampu mendukung penyusunan strategi pencegahan, rehabilitasi, pengawasan, dan pengalokasian sumber daya secara lebih efektif sesuai karakteristik risiko pada masing-masing wilayah.
Pendekatan yang diterapkan memanfaatkan integrasi Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) dalam kerangka Multi-Criteria Decision Making (MCDM) untuk mengevaluasi tingkat kepentingan faktor-faktor risiko sekaligus menentukan prioritas kerawanan wilayah. Identifikasi delapan faktor risiko utama dilakukan melalui kajian literatur yang komprehensif dan diperkuat menggunakan data resmi Badan Narkotika Nasional Provinsi Bengkulu serta penilaian dari sepuluh orang pakar yang memiliki kompetensi di bidang pencegahan, rehabilitasi, dan penegakan hukum narkoba. Proses pembobotan dilakukan menggunakan metode AHP melalui mekanisme pairwise comparison, sedangkan metode TOPSIS digunakan untuk mengevaluasi alternatif berdasarkan kedekatannya terhadap solusi ideal positif dan jaraknya terhadap solusi ideal negatif. Seluruh instrumen penelitian memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, sementara seluruh matriks perbandingan menghasilkan nilai Consistency Ratio di bawah ambang batas 0,10, sehingga menunjukkan bahwa proses penilaian para ahli memiliki tingkat konsistensi logis yang tinggi dan layak dijadikan dasar dalam proses pengambilan keputusan.
Integrasi AHP dan TOPSIS menghasilkan suatu model pengambilan keputusan yang mampu mengombinasikan penilaian subjektif para pakar dengan proses evaluasi matematis yang objektif dan terstruktur. AHP berfungsi menghasilkan bobot prioritas setiap faktor risiko berdasarkan tingkat kepentingannya, sedangkan TOPSIS memanfaatkan bobot tersebut untuk mengevaluasi tingkat preferensi masing-masing wilayah melalui konsep kedekatan terhadap kondisi ideal. Sinergi kedua metode tersebut menghasilkan proses evaluasi yang lebih transparan, konsisten, dan memiliki kemampuan diskriminatif yang tinggi dalam membedakan tingkat kerawanan antarwilayah maupun pengaruh relatif setiap faktor risiko. Pendekatan terintegrasi ini memberikan kerangka analisis yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan metode tunggal karena mampu mengakomodasi karakteristik data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif secara simultan, sehingga meningkatkan akurasi serta reliabilitas dalam mendukung proses pengambilan keputusan berbasis bukti.
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor keluarga merupakan determinan paling dominan dalam memengaruhi tingkat kerawanan penyalahgunaan narkoba, diikuti oleh faktor kelompok teman sebaya, kepribadian, lingkungan masyarakat, kondisi ekonomi dan psikososial, ketersediaan narkoba, kecemasan dan depresi, serta lingkungan sekolah. Dominasi faktor keluarga mengindikasikan bahwa penguatan fungsi keluarga menjadi fondasi utama dalam strategi pencegahan penyalahgunaan narkoba, yang perlu didukung melalui intervensi berbasis komunitas, penguatan lingkungan sosial, peningkatan ketahanan psikologis, serta optimalisasi peran institusi pendidikan. Implementasi model pada sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu menghasilkan pemetaan tingkat kerawanan wilayah secara objektif dengan Kabupaten Rejang Lebong menempati prioritas tertinggi, diikuti oleh Kota Bengkulu, Kabupaten Mukomuko, Lebong, Kepahiang, Bengkulu Utara, Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, dan Kabupaten Bengkulu Tengah. Pemetaan tersebut memberikan gambaran spasial mengenai tingkat kerentanan wilayah sehingga dapat menjadi dasar dalam penentuan prioritas program pencegahan dan pengendalian penyalahgunaan narkoba.
Model yang dihasilkan memberikan kontribusi metodologis dalam pengembangan pendekatan Multi-Criteria Decision Making untuk penyelesaian permasalahan sosial yang kompleks sekaligus memperkuat implementasi pengambilan keputusan berbasis bukti pada sektor kesehatan masyarakat dan kebijakan publik. Selain menghasilkan prioritas faktor risiko, model ini juga menyediakan informasi mengenai tingkat kerawanan wilayah yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih adaptif, terukur, dan tepat sasaran. Temuan yang dihasilkan diharapkan mampu mendukung pemerintah daerah, Badan Narkotika Nasional, serta pemangku kepentingan lainnya dalam mengoptimalkan perencanaan program, pengalokasian sumber daya, penyusunan strategi pencegahan, rehabilitasi, maupun pengawasan secara lebih efektif sesuai karakteristik risiko setiap wilayah. Dengan demikian, model AHP鈥揟OPSIS yang dikembangkan tidak hanya memberikan kontribusi akademik terhadap pengembangan metode pengambilan keputusan multikriteria, tetapi juga memiliki nilai implementatif yang tinggi sebagai instrumen pendukung perumusan kebijakan pengendalian penyalahgunaan narkoba yang lebih objektif, sistematis, dan berkelanjutan.
Penulis: Dr. Herry Suprajitno, S.Si., M.Si.
Hasil lebih detail tentang riset kami dapat dilihat dan diakses pada laman:
Authors: Rewan Jayadi, Herry Suprajitno*, Miswanto
Title: Integrated AHP-TOPSIS Model for Multi-Level Prioritization of Drug Abuse Risk Indicators: Evidence from Bengkulu Province, Indonesia.
DOI: .





