UNAIR NEWS – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 (UNAIR). Ahmat Rofiq Wahyudi berhasil meraih juara dua pada tangkai lomba Penulisan Puisi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur 2026.
Penganugerahan prestasi tersebut berlangsung pada Senin (13/7/2026) di Gedung Pertunjukan Sawunggaling, Universitas Negeri Surabaya. Melalui ajang tersebut, Ahmat mengolah tema Korupsi Sumber Daya Alam dan Tetes Air Mata Bangsa menjadi sebuah karya puisi yang sarat akan makna.
Proses di Balik Karya
Proses penulisan puisi ia kerjakan dalam kurun waktu kurang lebih delapan jam secara on the spot. Hal ini menuntut peserta untuk mengolah kreativitas berdasarkan tema yang tersedia pada hari perlombaan menjadi sebuah karya puisi orisinal.
鈥淪emua peserta menulis puisi di tempat. Kita tidak boleh mengakses internet, tidak boleh bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi, kita benar-benar disuruh fokus untuk menulis selama kurang lebih delapan jam,鈥 ungkap Ahmat.
Lebih lanjut, Ahmat menambahkan bahwa tema puisi yang diumumkan pada hari perlombaan memberikan kesempatan bagi seluruh peserta untuk mengembangkan gagasan secara mandiri. Selain itu, mekanisme tersebut dinilai sebagai upaya panitia dan dewan juri untuk menyelenggarakan kompetisi yang adil.
鈥淎cuan yang diinginkan oleh para panitia dan dewan juri adalah fair play. Jadi benar-benar memberikan kesempatan untuk para peserta agar mengolah tema itu,鈥 imbuhnya.
Kompetisi sebagai Wadah Belajar
Lebih lanjut, Ahmat memaparkan bahwa sebagai mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, menulis puisi adalah hasil dari proses belajarnya di bangku kuliah. Ke depan, ia berharap dapat berkesempatan mempublikasikan karya-karyanya.
鈥淏agi saya, ini adalah hasil belajar dari bangku kuliah di Bahasa dan Sastra Indonesia. Harapannya, semoga mendapatkan kesempatan untuk mempublikasikan karya-karya saya, terutama karya ini juga di media ataupun untuk suatu antologi,鈥 ujarnya.聽
Menutup sesi wawancara, Ahmat berpesan kepada mahasiswa UNAIR untuk berani dalam berkarya. Menurutnya, sebuah kompetisi adalah wadah untuk belajar dan mengembangkan potensi. Khususnya pada bidang penulisan puisi, ia mengatakan bahwa keraguan merupakan sesuatu yang perlu dikesampingkan.
鈥淜alau ingin belajar menulis ataupun belajar apa pun, sebenarnya keraguan itu perlu dikesampingkan dulu. Kalau memang ingin untuk belajar menulis puisi terutama, dan ikut lomba-lomba bisa coba-coba dulu. Terutama Peksimida juga sebenarnya adalah wadah belajar,鈥 pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah Putri Iswara
Editor: Yulia Rohmawati





