UNAIR NEWS – Sebanyak 25 mahasiswa 东京热 (UNAIR) yang mengikuti kegiatan di Sabah, Malaysia, melakukan kunjungan ke聽Fish and Crustacean Hatchery聽atau tempat pembenihan biota laut, seperti ikan dan udang. Kunjungan yang terselenggara pada Rabu (15/7/2026) tersebut bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai teknologi dan sistem perbenihan dalam mendukung pengembangan akuakultur modern.
Dalam beberapa tahun ke belakang, Universiti Malaysia Sabah (UMS) memberikan perhatian khusus pada pengembangan bidang akuakultur. Salah satunya melalui fasilitas hatchery yang memiliki peranan penting dalam penelitian, penyedia benih unggul, sekaligus mendukung kebutuhan masyarakat dan pembudidaya lokal.
Amati Proses Pemeliharaan Indukan Ikan
Selama kunjungan, mahasiswa mengamati secara langsung proses pemeliharaan indukan ikan. Mulai dari teknik pemberian pakan, seleksi indukan, hingga pengelolaan kualitas air. Indukan ikan laut diberi pakan berupa聽trash fish聽sebanyak tiga kali dalam seminggu dengan takaran yang disesuaikan pada setiap tangki. Setiap tangki juga dipisahkan berdasarkan jenis dan ukuran ikan. Sedangkan sisa pakan yang tidak termakan segera diangkat untuk menjaga kualitas air.
Mahasiswa KKN-BBK UNAIR juga mempelajari terkait program pengembangan genetik ikan. Salah satunya adalah ikan kerapu, di mana induk-induk yang unggul akan dikawinkan untuk menghasilkan spesies yang tumbuh lebih cepat dan tahan penyakit. 鈥淯MS menjadi pelopor pertama di dunia dalam program Tiger Grouper Genetic Gain (TGGG),鈥 ucap Zul, salah satu staf pengajar di聽丑补迟肠丑别谤测听ikan.
Kegiatan dilanjutkan di unit krustasia, di mana mahasiswa mempelajari pemanfaatan daun ketapang dalam budidaya udang, pemantauan pH air yang dilakukan setiap hari, serta pembuatan聽egg custard聽berprotein tinggi sebagai pakan tambahan udang. Mahasiswa juga berkesempatan melakukan penyortiran udang berdasarkan ukuran sebagai salah satu tahapan penting dalam pengelolaan budidaya untuk menjaga keseragaman pertumbuhan, mengurangi persaingan pakan, dan meminimalkan risiko kanibalisme.
“Budidaya udang memerlukan pengelolaan lingkungan yang baik. Oleh karena itu, kami memantau pH air setiap hari dan menyiapkan pakan tambahan berprotein tinggi agar pertumbuhan benih tetap optimal,” tutur Herman, staf聽hatchery聽krustasia IPMB UMS.
Kegiatan ini mendukung SDGs 14: Life Below Water, khususnya target 14.a melalui peningkatan pengetahuan ilmiah, penguatan kapasitas, dan transfer teknologi di bidang kelautan serta akuakultur, target 14.2 melalui pengenalan praktik budidaya yang memperhatikan kualitas lingkungan perairan dan pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan, serta target 14.7 melalui pemahaman mengenai peran聽hatchery聽dalam menghasilkan benih unggul yang mendukung produktivitas akuakultur dan kesejahteraan pembudidaya.
Dampak dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya teknologi pembenihan, seleksi indukan unggul, serta pengelolaan kualitas lingkungan budidaya dalam menghasilkan benih yang berkualitas sekaligus menjaga kelestarian ekosistem perairan. Untuk ke depannya, pengalaman tersebut harapannya dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menerapkan dan menyebarluaskan praktik akuakultur berkelanjutan di Indonesia. Sehingga mampu berkontribusi dalam pengembangan sektor perikanan yang produktif, bertanggung jawab, dan berwawasan lingkungan sesuai dengan target SDG 14.聽
Penulis: Nayyara Zafira, Herlianeka Pratiwi
Editor: Yulia Rohmawati





