UNAIR NEWS – Berbicara tentang filsafat akan mengantarkan kita pada ruang-ruang abstrak yang sulit terjamah. Namun, keabstrakan pemikiran justru menjadi kunci utama guna membongkar paradigma luar yang berlabel pembangunan nasional.
Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (), 东京热 (UNAIR) merasa gelisah dengan standar kemajuan di Indonesia yang masih berperspektif luar. Paradigma Barat berpotensi mengasingkan potensi dan kearifan lokal milik bangsa.聽
Gagasan kritisnya tertuang dalam esai filsafat berjudul Historisitas yang Retak: Membongkar Teleologi Kemajuan Indonesia Emas 2045 Melalui Filsafat Sejarah Krisis. Karyanya itu berhasil menyabet juara 3 dalam ajang Philosophy Essay Competition (PEC) pada Sabtu (15/8/2026) yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada.
鈥淭erkadang paradigma kita atas kemajuan masih menurut terminologi Barat. Padahal, standar kemajuan seharusnya berbeda sesuai kondisi tiap negara,鈥 ungkapnya.
Gugat Standar Barat dalam Visi Indonesia Emas 2045
Dalam esainya, Irsyad mengungkapkan bahwa makna pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045 masih berkiblat pada paradigma Barat. Pasalnya, kondisi sosial-ekologis pada setiap negara berbeda.
鈥淜etika kita membayangkan kemajuan itu seperti apa yang dikatakan Barat, maka akan mengeksklusi berbagai kemajuan yang ada di Indonesia,鈥 ucapnya.
Irsyad mendalami buku-buku filsafat kritis sejak semester awal. Hal ini menjadi bekal akademis yang menyadarkannya akan krisis historisitas pembangunan nasional. Alih-alih menerima krisis sebagai fenomena terprediksi, ia membedah kondisi material di balik seruan bertajuk Indonesia Emas 2045.
鈥淗istorisitas yang retak melihat krisis sebagai sesuatu yang niscaya pasti terjadi. Namun, terkadang kita terlena dengan krisis yang dapat terprediksi, bukan kepada kondisi-kondisi material yang membuat krisis itu terjadi,鈥 imbuhnya.
Bedah Era Antroposen
Selain membahas tentang standar barat dalam visi Indonesia Emas 2045, ia turut meminjam pemikiran salah satu akademisi Universitas Gadjah Mada, Ranggagala Maheswara, yang menyebut bahwa manusia terjebak pada zaman antroposen. Antroposen sendiri menandai era segala aktivitas manusia yang merusak tatanan ekologis permukaan bumi.
Sayangnya, pada era antroposen krisis lingkungan dianggap sebagai rutinitas tahunan yang terprediksi. Manusia tidak lagi menguak akar masalah utama dari fenomena krisis lingkungan. Termasuk, bagaimana paradigma kemajuan Barat menyumbang keterjebakan atas visi Indonesia Emas 2045.
Melalui karyanya, Irsyad berharap Indonesia tidak sekadar menyuarakan visi Indonesia Emas 2045 tanpa berbenah diri atas krisis pembangunan yang terjadi. Indonesia harus mulai memutus ketergantungan paradigma Barat dengan berpijak pada potensi serta kearifan lokal.
鈥淧andangan tentang Indonesia emas yang mungkin masih mengikuti standar-standar Barat semoga berubah menjadi pandangan atas kemampuan Indonesia sendiri,鈥 pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah Putri I.
Editor: Yulia Rohmawati





