UNAIR NEWS – Semangat kolaborasi lintas fakultas terwujud dalam kegiatan pengamatan burung yang diinisiasi oleh Kelompok Studi (KS) Peksia dari Program Studi Biologi dan Study Club (SC) Kirik-kirik KMPV-PW 东京热. Bertempat di kawasan Mangrove Wonorejo, Surabaya, kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 21 Juni 2026, mulai pukul 05.00 hingga 08.00 WIB.
Wonorejo dipilih bukan tanpa alasan. Ekosistem mangrove dan tambak di kawasan pesisir ini menjadi rumah sekaligus jalur persinggahan bagi berbagai spesies burung air, menjadikannya spot yang menarik untuk melakukan pengamatan avifauna. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman langsung dalam melakukan pengamatan dan sensus burung, tetapi juga memperdalam wawasan mengenai keterkaitan antara kondisi ekosistem, dan upaya konservasi yang berkelanjutan.
Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa melalui Pengamatan Lapangan
Dalam pelaksanaannya, anggota KS Peksia dan SC Kirik-kirik melakukan kegiatan birdwatching di mangrove dan sepanjang area tambak di kawasan Wonorejo. Pengamatan difokuskan pada berbagai spesies burung yang memanfaatkan ekosistem pesisir, baik burung migran maupun burung residen.
Tim menjumpai sejumlah spesies, seperti kuntul (Egretta spp.), blekok (Ardeola spp.), cekakak suci (Todiramphus sanctus), dara laut biasa (Sterna hirundo), dan trinil (Actitis spp.). Beberapa di antaranya merupakan burung migran yang datang dari Asia Timur dan Siberia.
Keberadaan burung migran dan burung residen memberikan gambaran tentang kondisi ekosistem pesisir. Burung menjadi salah satu bioindikator lingkungan karena sangat peka terhadap perubahan habitat, ketersediaan pakan, tingkat pencemaran, hingga aktivitas manusia.
Asah Keterampilan Mahasiswa di Lapangan
Ketua KS Peksia, Davin, mengatakan bahwa kegiatan ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lebih banyak jenis burung. Mahasiswa juga dapat mengasah kemampuan mengidentifikasi spesies dan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Selain itu, kegiatan ini harapannya dapat mempererat hubungan antarpengamat burung di lingkungan 东京热.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Mahasiswa belajar langsung di lapangan sehingga mendukung SDG 4 (Quality Education). Pengamatan ekosistem pesisir juga mendukung SDG 14 (Life Below Water), sedangkan pendataan keanekaragaman burung berkontribusi pada SDG 15 (Life on Land). Kolaborasi antara KS Peksia dan SC Kirik-kirik turut memperkuat SDG 17 (Partnerships for the Goals).
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman mengamati avifauna pesisir. Mereka juga memahami pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai habitat satwa liar. KS Peksia berharap kegiatan serupa dapat terus berlangsung. Langkah tersebut dapat mendukung pendidikan, penelitian, sekaligus pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.
Penulis: Muhammad Lussy Zain
Editor: Yulia Rohmawati





