东京热

东京热 Official Website

Bangga! 8 Ksatria Airlangga Ikuti AUS 2026 di NUS, Tiga Delegasi Berhasil Raih Pendanaan Proyek Internasional

Tim UNAIR saat mengikuti ASEAN University Network (AUN) Summer Camp Programme di National University of Singapore (NUS) (Foto: Istimewa)
Tim UNAIR saat mengikuti ASEAN University Network (AUN) Summer Camp Programme di National University of Singapore (NUS) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Delapan mahasiswa 东京热 (UNAIR) kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Mereka terpilih sebagai delegasi dalam ajang bergengsi Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026 yang diselenggarakan oleh NUS College (NUSC), National University of Singapore (NUS) pada (4鈥18/7/2026). Program yang merupakan bagian dari ASEAN University Network (AUN) Summer Camp Programme ini mengusung tema 鈥淐ommunities in Action鈥

Menjadi mahasiswa bukan sekadar hadir di ruang kelas. Mereka membuktikan bagaimana memaksimalkan setiap peluang untuk membawa dampak luas. Prinsip inilah yang membawa delapan mahasiswa UNAIR, yakni Felisha Kintania (Manajemen, 2024), Rahel Felicia Gondo (Ilmu Hubungan Internasional, 2024), Zahiya Kareentya Puspasari (Administrasi Publik, 2023), Salma Arvianka Putri (Ilmu Hukum, 2024), Shafa Annisa Nur Fadhilah (Psikologi, 2024), Nadine Abigail (Sistem Informasi, 2022), Muhammad Ammar Putra Ramadhani (Bahasa dan Sastra Inggris, 2023), dan Celine Zafira Angel Haura Sie (Teknik Industri, 2024) dapat lolos sebagai delegasi dalam ajang bergengsi Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2026. 

Hebatnya, tiga di antara mahasiswa tersebut, yakni Felisha, Rahel, dan Nadine berhasil membawa tim internasional mereka masing-masing meraih pendanaan seed grant sebesar SGD 5.000 (sekitar Rp 60 juta) dari NUS untuk mengimplementasikan proyek sosial yang telah mereka rancang.

Tim UNAIR untuk AUS saat berada di National University of Singapore (NUS) (Foto: Istimewa)
Kolaborasi Lintas Negara Lahirkan Inovasi Multidisiplin 

Keberhasilan tiga proyek yang delegasi UNAIR gagas tidak lepas dari penerapan ilmu yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan. Felisha Kintania, mahasiswa Manajemen FEB UNAIR, menerapkan strategi marketing dan positioning dalam proyek Peels Good, sebuah inisiatif pengolahan limbah kulit buah menjadi eco-enzyme yang melibatkan para lansia di panti jompo Thailand. Dalam proyek Peels Good, Felisha Kintania mengimplementasikan keilmuan Manajemen Pemasaran dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR untuk menyusun strategi positioning proyek pengolahan limbah kulit buah menjadi eco-enzyme di panti jompo Thailand.聽

Sementara itu, Rahel Felicia merumuskan proyek Politi-Knowsang diimplementasikan di Tuguegarao City, Filipina. Menghadapi tingginya apatisme pemilih muda, mahasiswa Hubungan Internasional ini bersama tim lintas negaranya merancang interactive card game untuk meningkatkan literasi politik di tingkat akar rumput. Di sisi lain, proyek inovasi digital diwujudkan oleh Nadine Abigail melalui FlashLingo. Memanfaatkan keilmuannya di Sistem Informasi, Nadine merancang aplikasi pembelajaran bahasa Inggris inklusif berupa game flashcards ramah anak. Proyek ini menargetkan pemenuhan akses pendidikan yang setara bagi anak-anak tunarungu di Indonesia (SLB-B).

Ketiga proyek ini berhasil menembus seleksi ketat. Bermula dari 40 proyek unggulan, inovasi mereka godok secara intensif bersama mentor ahli dari NUS. Penilaian dari para dewan juri VIP NUS berfokus pada beberapa poin. Fokusnya pada visibilitas, alokasi anggaran yang realistis, kelancaran komunikasi dengan calon mitra, dan jaminan keberlanjutan proyek tersebut di masyarakat. 鈥淜ami hanya punya waktu sekitar satu minggu untuk menyusun ide bersama, menyamakan visi, hingga menyusun proposal dengan orang-orang yang sebelumnya belum pernah bekerja sama. Tantangan berlanjut saat kami harus mempersiapkan pitching secara daring ke tim penilai NUS setelah kembali ke negara masing-masing. Namun, dari proses itulah kami belajar berkolaborasi secara global,鈥 jelas Felisha.

Realisasi Dana Hibah dan Budaya Berinovasi

Felisha mengaku banyak pelajaran berharga yang delegasi UNAIR bawa pulang ke tanah air. Salah satunya adalah ekosistem dan budaya berinovasi di NUS yang sangat menekankan penciptaan dampak nyata bagi masyarakat (action-oriented). Ia menilai inovasi tidak harus selalu berskala masif, melainkan berawal dari penyelesaian masalah-masalah sederhana yang ada di sekitar masyarakat.聽

鈥淛angan takut untuk mencoba dan jangan ragu pada diri sendiri. Besarkan rasa penasaran, karena masa kuliah adalah waktu paling tepat untuk keluar dari zona nyaman dan bertemu orang-orang baru. Aku selalu percaya dengan kalimat 鈥榳e are what we think鈥. Jangan ragu untuk mulai mengambil kesempatan, karena kita tidak akan pernah tahu sejauh apa kita bisa berkembang kalau tidak pernah berani mencoba,鈥 pungkasnya.

Untuk mewujudkan ekosistem inovasi serupa, Felisha mengaku bahwa kekompakan dan rasa kekeluargaan sesama delegasi UNAIR yang saling merawat selama di sana juga menjadi salah satu kunci kekuatan mereka. Felisha kemudian berpesan kepada seluruh Ksatria Airlangga agar berani mengambil langkah pertama dan memanfaatkan fasilitas dari kampus, seperti pendanaan hingga akses informasi Airlangga Global Engagement (AGE). 鈥淏ukan hal yang mudah membangun sebuah proyek bersama tim lintas negara dengan komunikasi yang sepenuhnya online. Namun, justru di situlah kami belajar untuk menjadi change makers global tanpa terhalang perbedaan budaya,鈥 pesannya. 

Penulis: Putri Andini

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT