UNAIR NEWS – ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) terus memperkuat komitmennya dalam mempercepat transformasi pendidikan tinggi menuju skala global. Guna merumuskan langkah strategis pasca-pencapaian World Class University (WCU), UNAIR menggelar Sharing Session dua hari berturut-turut pada Jumat–Sabtu (18–19/9/2026). Kegiatan ini menghadirkan dua pakar nasional, yakni Prof Mohamad Nasir MSi Akt PhD dan Prof Dr H Ainun Na’im SE MBA PhD Ak CA ASEAN CPA.
Transformasi Menuju Entrepreneurial University dan AI-Enabled Impact University
Sesi hari pertama, Jumat (18/9/2026), diisi oleh Prof Mohamad Nasir (Menteri Ristekdikti periode 2014–2019 dan Komisaris Independen Bank Syariah) dengan dipandu oleh Prof Miftah sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Prof Nasir menekankan bahwa pencapaian peringkat WCU bukanlah tujuan akhir (beyond excellence). Perguruan tinggi saat ini dihadapkan pada tantangan evolusi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), yang bergerak dari Teaching University, Research University, Entrepreneurial University, hingga menjadi AI-Enabled Impact University.
Menengok perjalanan sejak 2015, Indonesia saat itu masih tertinggal di kawasan Asia Tenggara dalam hal publikasi riset. Kebijakan speed up dan target Top 500 WCU berhasil melesatkan produktivitas publikasi dosen dan guru besar secara signifikan.
“Namun, what to do after reaching this target? Keunggulan akademik tidak boleh berhenti di kertas. Riset harus dikawal berdasarkan 9 tingkat Technology Readiness Level (TRL) agar berorientasi dari publikasi menuju kekayaan intelektual (IP), prototipe, hingga komersialisasi,” tegas Prof Nasir.
Ia memberikan apresiasi pada capaian riset stem cell UNAIR yang dinilai telah berada di jalur TRL yang tepat hingga menarik minat peneliti dan mitra internasional asal Amerika Serikat.
Untuk menjadi World Class Entrepreneurial University (WCEU), Prof Nasir membagikan formula kunci: Academic Excellence + Research Innovation + Entrepreneurship + Industry Partnership + Global Engagement. Ia mendorong pendekatan reverse engineering (berangkat dari kebutuhan pasar), penyediaan future-proof skills (seperti data science dan AI) bagi mahasiswa, serta penguatan peran lulusan sebagai pencipta lapangan kerja (job creator).

Model Bisnis Perguruan Tinggi dan Ekosistem Inovasi Global
Rangkaian diskusi berlanjut pada hari kedua, Sabtu (19/9/2026), bersama Prof Ainun Na’im PhD yang mengupas tentang harmonisasi strategi akademik dan efektivitas bisnis model universitas.
Prof Ainun mengawali paparannya dengan memuji lonjakan capaian WCU UNAIR yang dinilainya sangat luar biasa di antara perguruan tinggi lain di Indonesia. Ia menegaskan bahwa untuk membawa kebermanfaatan riset kepada masyarakat, perguruan tinggi harus membedakan dengan jelas antara inovasi dan kewirausahaan.
“Inovasi adalah proses penciptaan, sedangkan entrepreneurship adalah kendaraan yang membawa hasil inovasi tersebut ke masyarakat. Inovasi saja tidak cukup, butuh semangat kewirausahaan agar dampaknya benar-benar dirasakan,” jelas Prof Ainun.
Ia memaparkan rantai proses inovasi yang ideal, meliputi identifikasi kebutuhan masyarakat, riset dan ideasi, pembuatan prototipe, uji coba (pilot project), pengukuran (learning), hingga diseminasi publik. Untuk mendukung hal tersebut, perguruan tinggi membutuhkan ekosistem yang solid, seperti Unit Transfer Teknologi, unit pelatihan mindset entrepreneur, serta lembaga penyambung inovator dengan pemilik modal (venture capital).
Prof Ainun turut membandingkan model bisnis dan keunggulan dari sejumlah kampus ternama dunia:
- LMU Munich (Jerman): Berfokus spesifik pada bidang biotech/pharma, medtech, dan AI/software. Pendanaannya didominasi oleh state funding (71%) dan research grants (21%) tanpa mengandalkan tuition fee, serta memiliki kebijakan pilar Promotion of Junior Academic yang mendukung profesor muda.
- Harvard University (AS): Unggul dalam pengelolaan Endowment Fund dan penguasaan paten, di mana sumbangan filantropi menyumbang hingga 46% dari total pendanaan.
- UC Berkeley (AS): Menempati posisi pertama global dalam entrepreneurship (diikuti Stanford dan Harvard). UC Berkeley memiliki Sutardja Center for Entrepreneurship & Technology (didirikan oleh tokoh keturunan Indonesia), unit IPIRA untuk lisensi/HKI, serta SkyDeck sebagai akselerator startup menuju dunia industri.
Menutup keterangannya, Prof Ainun mengingatkan bahwa proses komersialisasi riset memiliki risiko tinggi. Di Harvard University, dari sekitar 30.000 produk baru yang dikembangkan, sekitar 95% di antaranya belum berhasil.
“Kegagalan tersebut umumnya terjadi karena kurang cermat membaca solusi riil yang dibutuhkan masyarakat. Oleh karena itu, riset lintas disiplin (across disciplines) yang menjawab kebutuhan nyata harus terus dioptimalkan,” pungkasnya.
Sinergi pandangan Prof Mohamad Nasir dan Prof Ainun Na’im menegaskan bahwa milestone World Class University bukanlah titik akhir, melainkan pijakan awal bagi perguruan tinggi untuk mentransformasikan keunggulan akademiknya menjadi Entrepreneurial University dan AI-Enabled Impact University. Melalui pengawalan tahap riset terstruktur (TRL), penguatan ekosistem komersialisasi dan transfer teknologi, kolaborasi lintas disiplin, serta kemitraan erat bersama industri, universitas tidak hanya dituntut melahirkan lulusan berjiwa entrepreneurial talent, tetapi juga mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi konkret yang menjawab kebutuhan riil masyarakat secara berkelanjutan.
Penulis: Ahmad Suhail Alhazimi
Editor: Ragil Kukuh Imanto





