东京热

东京热 Official Website

Ketika Kesejahteraan Mahasiswa Indonesia Perlu Ketahanan dan Ketehubungan Sosial

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pandai dan rasa percaya diri saja tidak cukup bagi kesejahteraan mahasiswa di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program universitas yang mendukung kesejahteraan mahasiswa harus mengembangkan ketahanan mahasiswa dan menciptakan jaringan sosial yang mendukung. Dengan melihat itu, bahwa seringkali disampaikan bahwa ketika mahasiswa sudah percaya diri dan yakin akan dirinya, maka dia akan dapat mengembangkan diri dan sejahtera. Namun kenyataan, mahasiswa yang percaya diri dan yakin dirinya pandai ternyata tidak memiliki kesejahteran.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Faizah dkk (2026) yang mengkaji bagaimana mahasiswa universitas di Indonesia mencapai kesejahteraan dalam lingkungan budaya kolektivitas, ternyata ketahanan dan keterhubungan sosial muncul sebagai korelasi kuat terhadap kesejahteraan, sementara efikasi diri tidak memberikan kontribusi. Temuan ini mendukung kerangka interaksi person-lingkungan dengan menunjukkan bahwa budaya kolektivis seperti di Indonesia ini, memberikan bobot yang lebih besar pada kapasitas adaptif dan ikatan relasional daripada kepercayaan diri individu dalam membentuk kesejahteraan mahasiswa, sehingga mendorong pembacaan yang lebih hati-hati terhadap asumsi universalitas model kesejahteraan Barat.

Berdasarkan hasil tersebut, maka ada kekhasan tersendiri di Indonesia ini membuktikan bahwa studi longitudinal dan investigasi moderator budaya akan membantu para peneliti memahami hubungan ini dengan lebih baik dan mengembangkan program dukungan mahasiswa yang menghormati latar belakang budaya yang berbeda. Dukungan kesejahteraan mahasiswa bukan berlaku universal, ada budaya yang mempengaruhinya. Dengan demikian universitas di lingkungan kolektivis seperti di Indonesis ini,  dapat secara bermakna meningkatkan kesejahteraan mahasiswa dengan memprioritaskan pelatihan ketahanan berbasis kelompok dan inisiatif keterhubungan antar teman sebaya sambil menanamkan upaya membangun efikasi dalam program yang lebih luas.

Mengingat ketahanan dan keterhubungan sosial muncul sebagai dua korelasi paling menonjol dari keberhasilan, universitas di lingkungan kolektivis harus memprioritaskan kedua sumber daya ini daripada intervensi yang secara sempit menargetkan kepercayaan diri individu. Lokakarya manajemen stres, pelatihan kesadaran, dan kegiatan refleksi terstruktur akan membantu mahasiswa membangun ketahanan mereka, sementara program pendampingan sebaya, konseling berbasis komunitas, dan inisiatif jaringan sosial kampus akan membantu mereka membangun hubungan sosial yang lebih kuat. Nilai-nilai kolektivis yang ada dalam lingkungan budaya harus digunakan untuk menerapkan intervensi berbasis kelompok, yang akan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada metode yang berfokus pada individu. Karena efikasi diri tidak memberikan kontribusi unik setelah ketahanan dan keterhubungan sosial diperhitungkan, kegiatan membangun efikasi tidak boleh ditawarkan secara terpisah, tetapi harus tertanam dalam program yang lebih luas ini, sehingga kepercayaan diri individu berkembang bersamaan dengan sumber daya adaptif dan relasional yang tampaknya penting bagi kesejahteraan dalam konteks budaya ini.

Akhirnya, ketika ingin mahasiswa di Indonesia menjadi sejahtera, sebaiknya tahap awal mahasiswa dipertemukan dengan teman teman yang dapat terhubung satu dengan yang lain. Peran medsos angkatan akan membantu keterhubungan sosial mahasiswa. Ketika mengalami permasalahan, masih dapat meminta bantuan teman secara langsung. Kemudian untuk ketahanan diri, dapat dipikirkan bagaimana proses pembelajaran dan kegiatan yang dilakukan mahasiswa harus mengarah pada munculnya ketahanan. Tugas yang harus diselesaikan secara berkelompok, pembelajaran berdasarkan projek, dan kesulitan penyelesaian tugas yang tidak akan teratasi ketika dilakukan secara berkelompok akan membuat mahasiswa menjalani latihan ketahanan dan keterhubungan sosial secara bersamaan. Semoga dengan langkah yang demikian maka kesejahteraan mahasiswa Indoneseia akan dapat diraih dan berkembang.

Penulis: Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT