Di balik laporan keuangan perusahaan yang tampak rapi dan meyakinkan, terdapat proses pengambilan keputusan yang sangat dipengaruhi oleh struktur kekuasaan di dalam organisasi. Salah satu sosok yang memiliki peran sentral dalam proses tersebut adalah Chief Executive Officer (CEO). CEO memang dibutuhkan sebagai pemimpin utama yang mengarahkan strategi perusahaan. Namun, bagaimana jika terlalu banyak kekuasaan terkonsentrasi pada satu orang? Apakah kepemimpinan yang sangat dominan justru dapat menimbulkan risiko bagi transparansi perusahaan?
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hamidah, SE., M.Si., Ak., CA, Prof. Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak., CA, Suham Cahyono, S.A., M.A., dan Dr. Khairul Anuar Kamarudin, PhD pada perusahaan publik di Malaysia, Singapura, dan Thailand menunjukkan bahwa konsentrasi kekuasaan CEO yang terlalu tinggi berpotensi menurunkan kualitas pelaporan keuangan. Penelitian ini menemukan bahwa ketika seorang CEO menguasai terlalu banyak posisi strategis dalam struktur perusahaan, efektivitas pengawasan internal dapat melemah. Akibatnya, keputusan-keputusan penting, termasuk proses penyusunan laporan keuangan, menjadi lebih rentan dipengaruhi oleh kepentingan individu dibandingkan kepentingan organisasi secara keseluruhan.
Laporan keuangan sendiri memiliki fungsi yang sangat penting bagi berbagai pihak, mulai dari investor, kreditur, pemerintah, hingga masyarakat umum. Informasi keuangan yang berkualitas harus mencerminkan kondisi perusahaan secara jujur, relevan, dan dapat dipercaya. Ketika kualitas laporan keuangan menurun, risiko munculnya manipulasi informasi atau praktik manajemen laba menjadi lebih besar. Situasi ini dapat menyebabkan pengambilan keputusan ekonomi yang kurang tepat dan menurunkan tingkat kepercayaan pasar terhadap perusahaan.
Menariknya, penelitian tersebut menjelaskan fenomena ini melalui perspektif institutional logics atau logika kelembagaan. Perspektif ini menjelaskan bahwa perilaku organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh aturan formal, tetapi juga oleh nilai, budaya, dan sistem keyakinan yang berkembang di lingkungan perusahaan. Dalam kondisi tertentu, konsentrasi kekuasaan dapat menghasilkan kepemimpinan yang cepat dan efektif. Namun, dalam lingkungan tata kelola yang pengawasannya lemah, dominasi CEO justru dapat mendorong perilaku oportunistik yang mengurangi transparansi perusahaan.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan di negara-negara berkembang, termasuk kawasan Asia Tenggara, yang umumnya masih memiliki karakteristik kepemilikan terkonsentrasi, dominasi keluarga dalam perusahaan, serta pengaruh hubungan personal dalam praktik bisnis. Struktur seperti ini dapat memperkuat posisi CEO sehingga mekanisme pengawasan perusahaan menjadi kurang optimal. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi otoritas CEO, semakin rendah kualitas pelaporan keuangan yang dihasilkan perusahaan.
Temuan ini memberikan pesan penting bagi perusahaan dan regulator. Kepemimpinan yang kuat memang diperlukan untuk mendorong efektivitas organisasi, tetapi distribusi kewenangan yang seimbang juga menjadi aspek yang tidak kalah penting. Perusahaan perlu memastikan bahwa dewan direksi, komite audit, dan mekanisme pengawasan lainnya dapat menjalankan fungsi kontrol secara independen. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya bergantung pada satu figur dominan, tetapi juga membangun sistem tata kelola yang sehat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, transparansi bukan semata-mata persoalan angka dalam laporan keuangan. Transparansi juga berkaitan dengan bagaimana kekuasaan didistribusikan di dalam organisasi. Sebab ketika seluruh keputusan terpusat pada satu orang, risiko terbesar bukan hanya muncul pada kepemimpinan, tetapi juga pada kepercayaan yang menjadi fondasi utama dunia bisnis modern.
Sumber artikel: Hamidah, H., Ardianto, A., Cahyono, S., & Kamarudin, K. A. (2026). Institutional Logics and Corporate Financial Reporting Quality: Does CEO Authority Concentration Matter?. Journal of Risk and Financial Management, 19(4), 264.





