Mengapa Kepatuhan Perawat Terhadap Prosedur Keselamatan Tidak Selalu Sama di Setiap Tempat?
Bayangkan dua rumah sakit dengan standar prosedur keselamatan pasien yang identik, namun tingkat kepatuhan perawatnya jauh berbeda. Apa yang membedakan? Salah satu jawabannya, menurut tinjauan sistematis terbaru di bidang keperawatan paliatif, adalah budaya.
Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan di Gaceta Médica de Caracas (Vol. 134, Suplemen 1, 2026) oleh Sri Rusmini, Esti Yunitasari, dan Hanik Endang Nihayati dari Fakultas Keperawatan ¶«¾©ÈÈ mengangkat pertanyaan penting ini: bagaimana pembingkaian budaya (cultural framing) memengaruhi tata kelola risiko dan pada akhirnya membentuk kepatuhan perawat dalam memberikan perawatan paliatif.
Masalah yang Sering Terlewat
Selama ini, banyak model tata kelola risiko di rumah sakit dirancang secara “universal” — seolah semua perawat dan pasien memiliki latar belakang nilai yang sama. Padahal, kompetensi budaya sudah lama diakui penting dalam keselamatan pasien, tetapi jarang ada kajian yang secara khusus menelusuri bagaimana nilai-nilai budaya benar-benar membentuk perilaku kepatuhan perawat terhadap prosedur risiko, terutama dalam konteks perawatan paliatif yang sarat aspek emosional, spiritual, dan pengambilan keputusan akhir hayat.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan
Tim peneliti menelusuri literatur ilmiah secara sistematis mengikuti panduan PRISMA 2020, menjaring studi-studi yang terbit antara tahun 2001 hingga 2024 dari basis data PubMed, Scopus, CINAHL, dan Google Scholar. Proses penyaringan dibantu perangkat lunak Rayyan, sedangkan kualitas tiap studi dinilai menggunakan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018. Dari proses ini, terkumpul 26 studi yang memenuhi kriteria untuk dianalisis secara naratif.
Tiga Pola yang Ditemukan
Hasil sintesis memunculkan tiga tema besar:
- Kompetensi budaya sebagai kerangka pengambilan keputusan etis terkait risiko — pemahaman lintas budaya membantu perawat menimbang risiko dengan cara yang lebih adil dan sesuai konteks pasien.
- Narasi budaya membentuk persepsi perawat terhadap risiko dan keselamatan — cara pandang perawat terhadap “apa yang berbahaya” dan “apa yang aman” ternyata banyak dipengaruhi nilai budaya yang mereka anut maupun yang dianut komunitas pasien.
- Kepatuhan sebagai hasil perilaku yang dimediasi budaya — kepatuhan bukan semata soal aturan tertulis, melainkan hasil interaksi antara aturan institusi dan norma lokal.
Temuan menarik lainnya: ketika kebijakan institusi selaras dengan norma budaya setempat, kepatuhan perawat cenderung meningkat. Sebaliknya, ketidakselarasan budaya (cultural dissonance) justru dapat menghambat komunikasi dan pelaporan risiko — sesuatu yang berpotensi membahayakan keselamatan pasien.
Apa Artinya untuk Praktik Keperawatan?
Para penulis menyimpulkan bahwa mengintegrasikan pembingkaian budaya ke dalam tata kelola risiko dapat meningkatkan responsivitas perawat, memperbaiki komunikasi dengan pasien dan keluarga, serta mendukung pengambilan keputusan bersama yang lebih bermakna. Mereka merekomendasikan agar model asuhan keperawatan masa depan menggabungkan teori keperawatan transkultural, kerangka kepatuhan perilaku, dan pendekatan sistem ekologis.
Secara praktis, ini berarti:
- Pelatihan perawat perlu disesuaikan secara budaya (culturally adapted training), bukan sekadar seragam untuk semua lokasi
- Kebijakan tata kelola risiko sebaiknya peka konteks (context-sensitive), mempertimbangkan nilai lokal tempat layanan diberikan.
- Evaluasi kepatuhan perlu dilakukan berkelanjutan untuk melihat dampak nyata dari penyesuaian budaya tersebut.
Penutup
Tinjauan ini menegaskan bahwa keselamatan pasien dalam perawatan paliatif bukan hanya soal prosedur teknis, melainkan juga soal bagaimana budaya, nilai, dan makna dipahami bersama antara perawat, pasien, dan keluarganya. Penelitian empiris ke depan diharapkan dapat menguji strategi tata kelola yang responsif budaya ini di berbagai setting perawatan paliatif, untuk mengoptimalkan kepatuhan perawat sekaligus keselamatan pasien.
Penulis: Prof. Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes
Sumber: Rusmini S, Yunitasari E, Nihayati HE. Culturally Framed Risk Governance Enhances Nursing Compliance in Palliative Care: A Systematic Review. Gaceta Médica de Caracas. 2026;134(Suplemento 1):S179–S192. DOI:





