Bencana kerap dipahami sebagai peristiwa yang selesai ketika korban dievakuasi, bantuan disalurkan, dan infrastruktur mulai diperbaiki. Padahal, bagi banyak keluarga, bencana justru berlanjut dalam bentuk yang lebih senyap: obat penyakit kronis yang terputus, ibu hamil yang sulit mengakses layanan, anak-anak yang berhenti sekolah, kecemasan yang tak tertangani, hingga kehilangan rasa aman dan martabat. Dalam situasi seperti ini, perawat berada di garis yang sering tidak terlihat, tetapi menentukan. Mereka bukan sekadar tenaga pendukung di posko atau rumah sakit darurat. Perawat menjaga kesinambungan layanan kesehatan, mengenali kebutuhan mendesak, mengawal pencegahan infeksi, serta membantu warga kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Dampak bencana tidak berhenti pada luka fisik atau kerugian ekonomi. Banjir dan badai, misalnya, dapat memunculkan risiko lanjutan berupa air tercemar, hunian tidak aman, tempat pengungsian padat, imunisasi yang tertunda, serta perawatan kehamilan dan penyakit kronis yang terganggu. Risiko-risiko tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang pasien diabetes mungkin kehilangan akses pada obat. Seorang lansia bisa mengalami penurunan fungsi karena terlalu lama tinggal di pengungsian. Seorang anak dapat kehilangan rasa aman karena rutinitas sekolah terputus. Di titik inilah kualitas hidup menjadi ukuran penting, bukan sekadar jumlah bangunan yang diperbaiki. Karena bekerja dekat dengan masyarakat, perawat memiliki posisi strategis untuk melihat masalah yang sering luput dari laporan kerusakan. Mereka dapat mengidentifikasi kelompok rentan, memantau kondisi warga di tempat pengungsian, memberi edukasi kesehatan yang mudah dipraktikkan, dan memastikan layanan dasar tetap berjalan.
Bagi masyarakat terdampak, bencana sering kali tidak selesai ketika air surut. Masa setelah bencana dapat berlangsung panjang, terutama ketika warga harus mengungsi atau tinggal di hunian sementara. Data yang dikutip dalam naskah menyebutkan bahwa 83,4 juta orang hidup dalam kondisi pengungsian internal pada akhir 2024. Angka ini menunjukkan bahwa fase 鈥減ascabencana鈥 bisa menjadi keadaan hidup yang berkepanjangan. Dalam konteks tersebut, program pemulihan harus menyasar warga terdampak dan komunitas penerima. Editorial ini mengaitkannya dengan Sustainable Development Goal atau SDG 11+, yaitu agenda yang menekankan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Bagi perawat, kerja pemulihan berarti lebih dari memberi layanan klinis sesekali. Perawat ikut menjaga martabat warga, mengatur alur triase yang aman, mencegah penyakit menular, melindungi kelompok rentan, dan membantu masyarakat membangun kembali kemampuan merawat diri dalam kondisi terbatas.
Sistem kebencanaan yang siap perawat tidak boleh dibangun secara dadakan. Kompetensi perawat dalam bencana perlu dilatih secara terencana, mulai dari kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan. Pelatihan tersebut juga harus disertai kejelasan peran, ruang praktik, jalur komando, serta perlindungan bagi tenaga kesehatan di lapangan. Persiapan ini penting karena bencana menuntut keputusan cepat. Perawat harus mampu memilah kasus, mengelola kebutuhan obat esensial, menjaga layanan ibu dan bayi, melakukan surveilans penyakit, serta memberi informasi kesehatan yang akurat di tengah kepanikan. Tanpa persiapan, beban kerja meningkat dan risiko tekanan psikologis pada perawat juga bertambah. Lebih jauh, perawat perlu dilibatkan dalam tata kelola risiko, bukan hanya dipanggil ketika krisis terjadi. Mereka dapat menjadi bagian dari edukasi peringatan dini, pemetaan kelompok rentan, rencana kesinambungan layanan, dan pemantauan pemulihan masyarakat.
Tempat pengungsian sering dipandang sebagai urusan logistik. Padahal, kualitas pengungsian menentukan kesehatan. Air bersih, sanitasi, kebersihan, akses layanan, perlindungan, serta ruang yang aman bukan pelengkap. Semuanya memengaruhi risiko infeksi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental, dan rasa bermartabat warga terdampak. Karena itu, standar hunian darurat perlu diperlakukan sebagai intervensi kesehatan. Perawat komunitas dan perawat kesehatan masyarakat dapat membantu memantau kondisi pengungsian, menemukan masalah lebih awal, dan memastikan warga memperoleh informasi yang benar tentang kebersihan, pencegahan penyakit, dan akses layanan.
Pemulihan seharusnya tidak hanya diukur dari klinik yang kembali dibuka, rumah yang selesai dibangun, atau jalan yang kembali bisa dilalui. Semua itu penting, tetapi belum tentu berarti warga sudah pulih. Akses bisa tetap sulit, rasa aman belum kembali, dan kesehatan mental masih terganggu. Karena itu, indikator pemulihan perlu lebih dekat dengan pengalaman hidup warga. Sistem kesehatan perlu melihat status fungsi, tekanan psikologis, dukungan sosial, kesinambungan pengobatan, kembalinya anak ke sekolah, serta rasa aman di lingkungan tinggal. Di tengah risiko iklim yang semakin intens, perawat terlalu penting untuk ditempatkan sebagai aktor tambahan. Mereka hadir di komunitas, dipercaya warga, dan mampu menjembatani layanan kesehatan dengan kebutuhan sehari-hari. Strategi bencana yang mengabaikan kompetensi, perlindungan, dan kepemimpinan perawat berisiko hanya membangun ulang fisik, tetapi gagal memulihkan kualitas hidup.
Rifky Octavia Pradipta dan Ferry Efendi
Fakultas Keperawatan, 东京热





