Hubungan antara pemberian bantuan dan terciptanya ketegangan di antara penduduk setempat belum diteliti secara menyeluruh. Distribusi bantuan asing dan peningkatan ketegangan sosial didukung oleh bukti di Pulau Lombok, Indonesia. Artikel ini membahas bagaimana bantuan asing berkontribusi pada ‘devaluasi budaya’ dan keresahan sosial. Penelitian ini telah mengungkap dua temuan utama.
Pertama, kebijakan luar negeri dapat memicu keresahan sipil di negara lain. Kedua, kasus ini telah menunjukkan bahwa bantuan asing berfungsi sebagai sarana untuk menyebarkan pengaruh budaya ke negara lain. Mengambil contoh bantuan yang diberikan oleh Kerajaan Arab Saudi kepada Indonesia, khususnya ke Pulau Lombok, bantuan asing dapat memiliki konsekuensi negatif ketika isu-isu sosial-budaya-ekonomi lokal bersinggungan dengan isu-isu keagamaan yang memicu perpecahan dan menciptakan perselisihan sosial. Kami mengusulkan 鈥淲ahhabi Philanthropic-Capitalism鈥 untuk menjelaskan hubungan kompleks antara penyebaran ideologi, filantropi, dan penerapan kapitalisme (khususnya minyak).
Perpaduan ini ternyata menghasilkan konflik sosial yang tidak terduga di antara para penerima. Pada intinya, memberikan bantuan luar negeri sebagai alat untuk mempromosikan kebijakan luar negeri berbasis agama menimbulkan risiko bagi penerima. Bantuan pembangunan dari Arab Saudi telah menyebabkan konflik sosial, meskipun Pulau Lombok adalah pulau yang relative damai sebelum terjadinya Wahabisasi. Politisasi bantuan luar negeri, yang diperburuk oleh manipulasi agama, telah menyebabkan kehancuran struktur masyarakat.
Interaksi antara bantuan luar negeri dan konflik lokal sangat rumit. Bantuan yang diberikan oleh Arab Saudi kepada Indonesia memiliki arti penting yang signifikan, memenuhi berbagai tujuan yang berkisar dari dukungan kemanusiaan hingga kepentingan geopolitik strategis, namun pada saat yang sama menimbulkan kerusakan pada system kemasyarakatan. Peningkatan bantuan ini menunjukkan strategi Arab Saudi yang lebih luas untuk meningkatkan upaya bantuan dan pembangunan internasionalnya, khususnya di negara-negara di mana ia memiliki kepentingan sosial, ekonomi, dan agama yang substansial. Hal ini menekankan semakin eratnya keterkaitan antara Timur Tengah dan Asia Tenggara dan menggambarkan pentingnya diplomasi bantuan dalam hubungan internasional kontemporer. Lebih spesifiknya, para militan telah mengadaptasi Wahhabisme untuk selaras dengan ambisi politik mereka, seringkali mengandalkan pendanaan Saudi untuk mencapai tujuan mereka.
Sangat penting untuk mengakui bahwa meskipun inisiatif ini merupakan contoh bantuan Wahhabi, inisiatif ini juga menandakan tren reformasi agama dan pendidikan yang lebih luas di luar Lombok. Dampak dari bantuan tersebut harus diinterpretasikan dalam kerangka dinamika keagamaan lokal, konteks historis, dan penyebaran ideologi keagamaan secara global. Motivasi ekonomi, kepentingan strategis, faktor keagamaan, dan lanskap politik global yang berubah memengaruhi dimensi geopolitik bantuan Saudi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh Wahhabisme di Lombok tidak hanya mengubah praktik keagamaan tetapi juga meningkatkan ketegangan sosial. Terlepas dari evolusi signifikan upaya dakwah komunitas Wahhabi, yang telah menyimpang dari ideologi dakwah asli yang pernah menjadi pusatnya, gerakan keagamaan transnasional ini telah sangat memengaruhi lingkungan keagamaan masyarakat Lombok.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Arab Saudi mempraktikkan kebijakan luar negeri yang kontroversial, Kebijakan ini merupakan kombinasi filantropi dan agenda bantuan luar negeri yang menggabungkan tujuan geo-strategis global, hegemoni budaya, dan kepentingan ekonomi, semuanya dibingkai dalam konteks keagamaan. Penggabungan berbagai kepentingan ini merupakan ciri khas Arab Saudi, di mana reaksi terhadap intervensi eksternal dapat berbeda di berbagai masyarakat. Meskipun bantuan asing berpotensi mendorong perubahan positif dan membantu masyarakat yang membutuhkan, sangat penting bahwa bantuan tersebut disampaikan dengan pemahaman komprehensif tentang kemungkinan dampaknya terhadap konflik lokal. Hal ini memerlukan penelitian berkelanjutan, penilaian transparan terhadap dampak bantuan, dan komitmen untuk menyesuaikan strategi bantuan agar secara efektif mendorong perdamaian dan pembangunan. Situasi di Lombok menggambarkan hubungan rumit antara reaksi terhadap intervensi eksternal dan dampaknya terhadap masyarakat.





