Di era bisnis modern yang serba dinamis, kompetitif, dan berbasis data, kelangsungan hidup serta keberhasilan sebuah organisasi ditentukan oleh kemampuan dalam memitigasi massivnya informasi guna mengambil keputusan strategis yang tepat. Dalam ranah teori organisasi, fenomena alokasi kognitif ini dijawab oleh perspektif Attention-Based View (ABV) yang berpijak pada konsep keterbatasan rasionalitas (bounded rationality). Sejak diformulasikan oleh William Ocasio pada tahun 1997, teori ini memandang bahwa perhatian manajerial merupakan sumber daya yang berharga namun terbatas, di mana keputusan perusahaan sangat bergantung pada bagaimana organisasi menyaring, menyalurkan, dan memfokuskan waktu serta energi para anggotanya terhadap masalah (issues) dan solusi (answers) yang ada di lingkungan mereka. Namun dalam perjalanan ABV, terdapat perluasan tema teoretis yang memunculkan fragmentasi literatur dan ketidakjelasan konseptual.
Studi Systematic Literature Review (SLR) ini menganalisis 169 artikel akhir berindeks Scopus Kuartil 1 (Q1) yang masuk dalam daftar kualitas jurnal ABDC dari periode tahun 1997 hingga 2025. Proses SLR dijalankan secara sistematis mengikuti prosedur Tranfield (2003) dan pedoman PRISMA 2020 melalui tahapan identifikasi, penyaringan ketat, serta penilaian kualitas oleh para ahli. Peneliti melakukan analisis struktural melalui pembacaan analitis mendalam untuk mengevaluasi perkembangan teori, metodologi, dan kontribusi publikasi. Selanjutnya, analisis bibliometrik faktorial diterapkan menggunakan perangkat lunak RStudio (bibliometrix/biblioshiny) dengan teknik Correspondence Analysis (CA), Multidimensional Scaling (MDS), dan Multiple Correspondence Analysis (MCA).
Publikasi ABV mengalami lonjakan produktivitas yang tajam pada periode 2019–2024, dan terdapat pergeseran paradigma yang dinamis, yang awalnya berfokus pada struktur hierarki formal yang kaku (pipes and prisms) menjadi sebuah proses sosial, emosional, dan kesadaran kolektif (mindfulness) yang terdistribusi secara multitahap dari bawah ke atas (bottom-up). Selain itu adanya ketimpangan seperti metodologi seperti pendekatan kuantitatif arus utama seperti survei, serta adanya dominasi geografis yang berpusat di Amerika Serikat dan Inggris, sementara eksplorasi ABV di pasar berkembang seperti negara-negara Asia masih sangat minimal.
Kontribusi studi ini adalah dalam mengonsolidasikan akumulasi pengetahuan ABV selama hampir tiga decade, serta memperluas literatur dengan menawarkan pendekatan metodologis baru dengan mengombinasikan analisis struktural dengan analisis faktorial bibliometrik. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mulai mengadopsi metode kualitatif (seperti wawancara mendalam dan etnografi) atau pendekatan eksperimental serta penambangan teks berbasis AI untuk menangkap nuansa kognitif, emosional, dan alokasi perhatian para manajer secara real-time dan longitudinal. Secara kontekstual, penelitian ini merekomendasikan perluasan pengujian teori ABV ke luar wilayah Barat, khususnya di pasar berkembang Asia dan Afrika, guna mengeksplorasi bagaimana perbedaan budaya memengaruhi struktur perhatian organisasi. Terakhir, peneliti masa depan ditantang untuk mengintegrasikan ABV dengan isu-isu kontemporer yang mendesak, seperti pengelolaan perhatian manajerial dalam transformasi digital, adopsi artificial intelligence.
Penulis:
Wahyu Eko Pujianto, Mohammad Fakhruddin Mudzakkir, Zuyyinna Choirunnisa,
Phaik Nie Chin, Pieter Sahertian, Rudi Purwono
Informasi detil:
the attention-based view: a structural and bibliometric factorial analysis for future research directions. Cogent Business & Management, 13(1).





