UNAIR NEWS 鈥 Unit Kegiatan Mahasiswa () Wirausaha 东京热 (UNAIR) di bawah Direktorat Kemahasiswaan kembali menghadirkan ruang pengembangan kreativitas dan kewirausahaan bagi mahasiswa. Komitmen tersebut terwujud melalui webinar Airlangga Greenpreneur Summit yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Sociopreneur, Fundraising Manager, sekaligus GFDP Lead Greeneration Foundation Indonesia, Muchammad Wilianto Hamzah SE MMKMT. Mengusung tema Empowering Green Innovation: Building Sustainable Business for the Future, Wili mendorong mahasiswa membangun bisnis yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan.
Membangun Bisnis dari Masalah Nyata
Wili menjelaskan bahwa isu lingkungan saat ini berkembang menjadi tantangan besar dalam berbagai sektor. Mulai dari bisnis, ekonomi, hingga masa depan dunia kerja. 鈥淕enerasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan solusi inovatif melalui konsep greenpreneurship,鈥 ujarnya.
Ia menuturkan bahwa greenpreneurship membuka ruang bagi entrepreneur muda untuk membangun bisnis yang mampu menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat. Permasalahan tersebut mencakup pengelolaan sampah (waste), sistem pangan (food system), energi, transportasi, pendidikan, hingga pengembangan komunitas.
Selain itu, ia menekankan bahwa bisnis berkelanjutan harus berangkat dari kemampuan membaca dan memahami persoalan sekitar. Menurutnya, mahasiswa perlu mengidentifikasi masalah yang ingin mereka selesaikan sebelum menentukan bentuk usaha yang akan mereka bangun.
鈥淢asalah lingkungan hari ini bukan hanya isu aktivis. Isu ini sudah berkaitan erat dengan keberlanjutan hidup masyarakat dan arah perkembangan industri ke depan,鈥 jelasnya.
Kerangka Kerja Greenpreneurship
Wili juga memperkenalkan kerangka kerja greenpreneurship yang terdiri dari tiga aspek utama, yakni why, how, dan what. Ia menjelaskan bahwa aspek why berfokus pada permasalahan yang ingin mahasiswa selesaikan serta alasan pentingnya menangani isu tersebut.
Selanjutnya, aspek how menekankan cara kerja solusi, pihak yang terlibat, serta metode untuk mengukur dampak yang dihasilkan. Sementara itu, aspek what berkaitan dengan produk, layanan, platform, komunitas, atau model bisnis yang mahasiswa tawarkan kepada masyarakat.
Sebagai penutup, Wili menegaskan bahwa mahasiswa perlu menerapkan prinsip start with the problem, build the solution, prove the value dalam membangun bisnis berkelanjutan. 鈥淢ahasiswa harus mampu memahami persoalan yang ada. Kemudian menghadirkan solusi yang relevan dan memberi nilai nyata bagi masyarakat,鈥 pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





