¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Tidur Cukup, Kunci Tersembunyi untuk Mencegah Obesitas pada Remaja

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Di era digital saat ini, tidur sering kali menjadi kebutuhan yang dikorbankan oleh remaja. Tugas sekolah, media sosial, permainan daring, hingga kebiasaan menonton video sebelum tidur membuat banyak remaja hanya tidur selama 5–7 jam setiap malam. Padahal, remaja usia 13–18 tahun dianjurkan tidur minimal 8 jam setiap hari. Kurang tidur ternyata bukan sekadar menyebabkan rasa kantuk di sekolah, tetapi juga berdampak pada kesehatan metabolik dan meningkatkan risiko obesitas.

Penelitian yang dilakukan pada 165 remaja obesitas di Surabaya dan Sidoarjo menemukan bahwa durasi tidur memiliki hubungan dengan kondisi tubuh dan metabolisme. Remaja yang tidur kurang dari delapan jam per hari memiliki indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggul, dan kadar insulin yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang memperoleh waktu tidur sesuai rekomendasi. Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas kesehatan remaja tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga oleh kebiasaan tidur.

kurang tidur dapat menyebabkan obesitas

Saat seseorang mengalami kekurangan tidur, tubuh mengalami perubahan hormonal yang memengaruhi rasa lapar dan kenyang. Produksi hormon ghrelin yang merangsang nafsu makan meningkat, sementara hormon leptin yang memberikan sinyal kenyang justru menurun. Akibatnya, seseorang cenderung merasa lebih lapar, terutama terhadap makanan tinggi kalori, gula, dan lemak. Selain itu, rasa lelah akibat kurang tidur membuat seseorang menjadi lebih malas bergerak sehingga pengeluaran energi juga menurun. Penelitian juga menunjukkan bahwa kadar insulin pada remaja dengan durasi tidur pendek jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidur cukup. Insulin merupakan hormon yang membantu mengatur kadar gula darah. Jika kadar insulin terus meningkat, tubuh dapat mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal. Resistensi insulin merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya diabetes melitus tipe 2 dan berbagai penyakit metabolik lainnya.

Penelitian juga menemukan adanya hubungan negatif antara durasi tidur dengan berbagai ukuran antropometri. Semakin pendek durasi tidur, semakin tinggi berat badan, IMT, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul remaja obesitas. Walaupun kekuatan hubungan tersebut tergolong lemah, hasilnya tetap bermakna secara statistik dan menunjukkan bahwa tidur merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap status gizi remaja.

Remaja memang secara alami mengalami perubahan ritme biologis sehingga cenderung tidur lebih larut. Namun, penggunaan gawai sebelum tidur, paparan cahaya layar, konsumsi minuman berkafein, serta aktivitas media sosial semakin memperburuk pola tidur mereka. Kondisi ini perlu menjadi perhatian orang tua, guru, maupun tenaga kesehatan karena kebiasaan tersebut dapat berlangsung hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular.

Mencegah obesitas tidak cukup hanya dengan mengatur pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik. Tidur yang cukup harus menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Orang tua dapat membantu dengan menetapkan jadwal tidur yang konsisten, membatasi penggunaan gawai setidaknya satu jam sebelum tidur, menciptakan suasana kamar yang nyaman, serta mendorong aktivitas fisik pada siang hari. Sekolah juga dapat berperan melalui edukasi mengenai pentingnya tidur sebagai bagian dari promosi kesehatan remaja.

Pada akhirnya, tidur bukanlah waktu yang terbuang, melainkan investasi penting bagi kesehatan. Tidur yang cukup membantu menjaga keseimbangan hormon, mengendalikan berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan remaja secara optimal. Oleh karena itu, membiasakan tidur minimal delapan jam setiap malam merupakan langkah sederhana namun sangat penting untuk mencegah obesitas dan berbagai penyakit metabolik di masa depan.

Penulis: Nur Aisiyah Widjaja

Link: https://e-journal.unair.ac.id/IJPH/article/view/51314

AKSES CEPAT