东京热

东京热 Official Website

Terapi Naratif Paling Efektif Atasi Gejala Depresi dan Tingkatkan Kepuasan Hidup pada Lansia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Age and Ageing edisi 2026 menemukan bahwa terapi naratif merupakan pendekatan paling efektif dalam menurunkan gejala depresi sekaligus meningkatkan kepuasan hidup pada lansia yang tidak mengalami gangguan kognitif ringan maupun demensia. Penelitian yang melibatkan Hidayat Arifin dari 东京热 bersama tim peneliti dari Chang Gung Memorial Hospital dan sejumlah institusi di Taiwan, Indonesia, dan Tiongkok ini menyoroti pentingnya intervensi nonfarmakologis di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental pada populasi yang menua. Secara global, sekitar 5,7% individu berusia di atas 60 tahun mengalami gejala depresi, dengan angka yang lebih tinggi pada mereka yang memiliki penyakit kronis atau tinggal di lingkungan institusional.

Studi yang menggunakan metode meta-analisis jejaring (network meta-analysis) ini menelaah 33 uji acak terkendali yang melibatkan 2.512 partisipan lansia dari berbagai negara. Para peneliti membandingkan empat jenis terapi berbasis kenangan, yaitu terapi naratif, terapi martabat (dignity therapy), terapi reminiscence, dan tinjauan hidup (life review), terhadap perawatan standar. Hasilnya menunjukkan bahwa terapi naratif dan terapi martabat memberikan penurunan gejala depresi terbesar dengan ukuran efek yang sebanding. Untuk kepuasan hidup, terapi naratif menempati peringkat tertinggi, diikuti oleh terapi reminiscence dan tinjauan hidup. Seluruh intervensi terbukti secara signifikan memperbaiki kedua hasil tersebut dibandingkan dengan perawatan standar.

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah peran durasi intervensi terhadap kepuasan hidup. Intervensi yang berlangsung selama delapan minggu atau lebih menghasilkan perbaikan kepuasan hidup yang jauh lebih besar dibandingkan dengan intervensi yang lebih singkat. Para peneliti menjelaskan bahwa keterlibatan psikososial yang berkelanjutan dapat mendorong perubahan neuroplastik di otak serta mendukung adaptasi psikologis dan regulasi emosi. Terapi naratif diduga bekerja dengan membantu lansia membingkai ulang proses penuaan sebagai bentuk adaptasi dan pertumbuhan, sementara terapi reminiscence menguatkan kesejahteraan melalui pengingatan kenangan positif. Meskipun demikian, peneliti mengingatkan bahwa heterogenitas yang cukup besar antarstudi menuntut interpretasi hasil secara hati-hati.

Penelitian ini menegaskan bahwa terapi berbasis kenangan dapat menjadi pendekatan nonfarmakologis yang praktis dan layak diterapkan dalam perawatan geriatri maupun komunitas, dengan perawat memegang peran kunci dalam pelaksanaannya sebagai bagian dari dukungan psikososial holistik. Para peneliti merekomendasikan agar terapi naratif, terapi reminiscence, dan tinjauan hidup diintegrasikan ke dalam layanan perawatan lansia. Namun, mereka juga mengakui sejumlah keterbatasan, antara lain temuan terkait terapi martabat yang hanya didasarkan pada dua studi serta adanya indikasi bias publikasi. Untuk itu, peneliti menyerukan uji klinis berkualitas tinggi di masa mendatang, penerapan kriteria penyaringan kognitif yang lebih jelas, serta studi lintas budaya guna memperkuat penerapan terapi berbasis kenangan secara lebih luas.

Penulis: Hidayat Arifin, Ph.D. Fakultas Keperawatan, 东京热

Tautan:

AKSES CEPAT