UNAIR NEWS – Program Studi D4 Teknologi Veteriner, ¶«¾©ÈÈ (UNAIR), terus mendorong peningkatan produktivitas dan kemandirian peternak melalui penerapan teknologi terapan bidang reproduksi. Upaya tersebut berwujud kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Dusun Sidowayah, Desa Lawanganagung, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, dengan memperkenalkan teknologi laserpunktur, pengolahan pakan fermentasi berbahan limbah pertanian lokal, dan penataan pencatatan usaha bagi peternak sapi potong.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (16/8/2026) tersebut melibatkan 20 peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Sidomakmur. Kelompok ini tengah berupaya memulihkan jumlah induk produktif setelah populasi ternaknya terdampak wabah penyakit mulut dan kuku. Peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sejak penyampaian materi hingga praktik langsung di kandang.
Salah satu peternak, Ainur, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim UNAIR. Menurutnya, pendampingan tersebut membuka kesempatan bagi peternak untuk mengenal teknologi reproduksi yang selama ini belum pernah diterapkan di kelompoknya. Ia berharap program dapat berlanjut sehingga manfaatnya terus dirasakan anggota.
Laserpunktur untuk Mengatasi Berahi Tenang
Teknologi laserpunktur diperkenalkan untuk menjawab kejadian berahi tenang atau silent heat, yaitu berahi dengan tanda yang samar sehingga waktu kawin sulit dipastikan. Kondisi tersebut lazim dijumpai pada sapi potong dan berkaitan dengan status nutrisi, kondisi tubuh induk, serta jarak dari kelahiran terakhir.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Teknologi Veteriner UNAIR, Dr Miyayu Soneta Sofyan drh MVet, menjelaskan bahwa laserpunktur mengarahkan sinar laser berdaya rendah pada titik akupunktur reproduksi untuk merangsang munculnya berahi secara lebih serentak. Alat tersebut berukuran ringkas, memakai sumber listrik, tidak menggunakan preparat hormon, dan tidak melukai ternak, sehingga dapat dipakai berulang pada banyak ekor sapi. Dengan berahi yang lebih mudah teramati, inseminasi buatan dapat dijadwalkan pada waktu yang lebih tepat.

Ia menambahkan bahwa penerapan laserpunktur termasuk tindakan medik veteriner sehingga pelaksanaannya menjadi kewenangan dokter hewan dan tenaga medik veteriner. Dalam kegiatan ini, penerapan dilakukan bersama petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan, sementara peternak berperan mengamati ternak, menyiapkan induk, mencatat kejadian reproduksi, dan melapor kepada petugas.
“Kami memulai pendampingan dengan grup komunikasi bersama peternak sehingga kendala di kandang dapat langsung dibantu. Standar operasional prosedur juga akan dipasang di kandang sebagai panduan, dan pencatatannya akan kami pantau,” jelasnya.
Pakan Fermentasi dan Penataan Pencatatan
Dr Siti Eliana Rochmi drh MSi menyampaikan materi pakan dengan memperkenalkan pengolahan tebon jagung menjadi pakan fermentasi menggunakan mesin chopper. Bahan dicampur konsentrat serta larutan EM4 dan molases, kemudian disimpan rapat tanpa udara selama kurang lebih tiga minggu hingga menghasilkan pakan beraroma harum. Pembahasan berlanjut pada kebutuhan induk bunting, meliputi porsi konsentrat, ketersediaan hijauan, dan penambahan mineral menjelang bulan ketujuh kebuntingan.
Sementara itu, dosen Prodi Teknologi Veteriner, Dr Emy Koestanti Sabdoningrum drh MKes, membawakan materi manajerial usaha. Peternak dikenalkan pada kartu reproduksi yang memuat tanggal berahi, inseminasi, dan pemeriksaan kebuntingan, serta pembukuan usaha sederhana. Melalui catatan tersebut, kelompok dapat menilai sendiri perkembangan reproduksi dan keuntungan usahanya.
Menuju Kelompok Ternak yang Lebih Mandiri
Program dijalankan melalui pendekatan pentahelix yang menggabungkan peran pemerintah, akademisi, badan usaha milik desa, kelompok ternak, dan media. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan yang dipimpin Dr Shofiah Nurhayati SP MSi turut membersamai kegiatan di lapangan dan menyatakan kesiapan mendampingi kelompok melalui layanan inseminasi buatan, vaksinasi, serta pengobatan.
Kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa Program Studi D4 Teknologi Veteriner, yaitu Pandu Dwi Prasetyo dan Nur Alifia Saifatul Firda, melalui rekognisi Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Keduanya mendampingi narasumber, membantu peternak mengenali gejala berahi, serta mengelola administrasi program sejak persiapan hingga pelaporan.
“Harapannya, teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi terus diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok ternak sehingga usaha peternakan sapi potong di Lamongan semakin mandiri,” pungkas Dr Miyayu.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok peternak, Prodi Teknologi Veteriner Fakultas Vokasi UNAIR berupaya menghadirkan teknologi terapan yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Tim menyampaikan terima kasih kepada ¶«¾©ÈÈ, LPMB UNAIR, dan Fakultas Vokasi UNAIR yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan ini.
Penulis: Miyayu Soneta Sofyan
Editor: Yulia Rohmawati





