Sindrom koroner akut atau biasa dikenal dengan serangan jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada kondisi ini, waktu menjadi faktor yang sangat penting karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian. Oleh karena itu, tenaga kesehatan membutuhkan metode yang cepat dan mudah untuk mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko tinggi sejak pertama kali datang ke rumah sakit. Namun, berbagai sistem penilaian risiko yang tersedia memerlukan pemeriksaan laboratorium, rekam jantung, dan riwayat medis yang cukup lengkap.
Sampai saat ini, seorang dokter lebih sering menggunakan TIMI (Thrombolysis in Myocardial Infarction) atau GRACE (Global Registry of Acute Coronary Events) sebagai penilaian risiko untuk memperkirakan kemungkinan komplikasi maupun kematian pada serangan jantung. Kedua sistem tersebut memang terbukti efektif, namun penerapanya memerlukan informasi yang cukup lengkap. Kondisi ini membuat penggunaannya tidak selalu praktis dalam situasi darurat yang membutuhkan keputusan cepat. Peneltian yang diterbitkan oleh Pandit dkk tahun 2026 mengenalkan peran shock index (SI) sebagai alat sederhana untuk membantu memprediksi risiko kematian pada pasien serangan jantung.
Shock index (SI) dihitung dengan membagi denyut jantung per menit dengan tekanan darah sistolik. Karena hanya membutuhkan dua parameter vital yang mudah diukur, metode ini dapat digunakan dalam hitungan menit di ruang gawat darurat. Penelitian yang menganalisis 18 studi dengan total 75.237 pasien tersebut menyatakan bahwa secara keseluruhan pasien dengan nilai shock index tinggi memiliki risiko 4,82 kali lebih besar untuk mengalami kematian. Penelitian ini juga menyatakan Cut-off 0,7 memberikan keseimbangan terbaik antara sensitivitas dan spesifisitas. Selain itu, pengukuran SI pada saat kedatangan memiliki kemampuan prediksi yang lebih baik dibandingkan pengukuran setelah pasien menjalani prosedur di laboratorium kateterisasi jantung. Dengan kata lain, semakin cepat SI diukur, semakin besar manfaatnya dalam membantu identifikasi pasien berisiko tinggi.
Selain berhubungan dengan peningkatan risiko kematian, SI juga memiliki kemampuan prediksi yang cukup baik dengan nilai Area Under the Curve (AUC) berkisar antara 0,68 hingga 0,71. Meskipun angka tersebut tidak lebih baik dari sistem penilaian resiko lainya, namun hasil tersebut menunjukkan bahwa shock index dapat berfungsi sebagai alat skrining awal yang efektif. Peneliti menegaskan bahwa metode ini tidak bertujuan untuk menggantikan skor TIMI atau GRACE, melainkan sebagai pelengkap yang membantu proses triase dan pengambilan keputusan awal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa informasi penting mengenai kondisi pasien tidak selalu memerlukan teknologi yang rumit. Dengan memanfaatkan data sederhana seperti denyut jantung dan tekanan darah, tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian awal secara cepat di unit gawat darurat atau fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. Meskipun demikian, SI disarankan tetap digunakan bersama metode penilaian klinis lainnya agar keputusan medis yang diambil lebih akurat dan komprehensif.
Penulis Artikel Populer: Pandit Bagus Tri Saputra, Dinda Dwi Purwati, Yudi Her Oktaviono, Firas Farisi Al-kaff
Referensi: Saputra PBT, Kurniawan RB, Purwati DD, Oktafia P, Lamara AD, Gusnanto A, Oktaviono YH, Alkaff FF. The role of shock index in acute coronary syndrome mortality prediction: a systematic review and meta-analysis. Postgrad Med. 2026 May 25:1-13. doi: 10.1080/00325481.2026.2675088. Epub ahead of print. PMID: 42183638.





